Do’a

Do’a, bukan sekedar pinta.

Do’a, ianya ungkapan cinta, bincang mesra, tetapan cita, pun komitmen kesungguhan atasnya.

Do’a, terkadang ia pemelihara cita, pengingat atas janji ikhtiyar sepenuh jiwa,

Do’a, sering ia penentram rasa, ketika ujian memberati dada.

Do’a, akan selalu bermula dalam keyakinan.

Tak cukup, ianya harus dilanjutkan dlm kesungguhan.

Sempurna, insyaaLlah, bertunai keberserahan.

Kata guru saya, Kalau punya target tulis saja dulu.

Rasanya akan beda kalau sudah ditulis.

___12 November 2012

Kerinduan yang Terjujur

Pada mulanya adalah kerinduan. Pada akhirnya adalah sejauh mana kita mempertahankan kerinduan itu tetap terjaga dalam jiwa. Inilah yang sering dirasa tidak mudah bagi sebagian besar kita. Begitu sering kerinduan hanya bertahan sementara waktu. Hanya ketika semangat memuncak tinggi. Namun kemudian menghilang di saat-saat futur, terjatuh, dan terlupa. Hingga ujungnya, sering kali penyesalan pun tumbuh mengiringi terlambatnya kesadaran. Saat mulai teringatkan, sementara waktu telah lewat jauh. Menyedihkannya, jika itu berulang kali terjadi, hingga kita ringan merasai penyesalan. Inilah pertanda jiwa yang rapuh dan sakit.

Sesungguhnya kerinduan merupakan ejawantah dari keyakinan. Kita pun tahu, keyakinan yang masih terselip ragu akan membawa kerinduan yang terkadang-kadang. Kadang ingat, kadang lupa. Maka menegaskan keyakinan menjadi pilihan yang tidak bisa ditawar lagi untuk membangun kerinduan sepanjang perjalanan. Keyakinan yang tegas akan memupuk kerindungan untuk bertumbuh semakin besar dan berkembang semakin kokoh. Keyakinan itu mampu membangun pemikiran, kemudian mencipta kesadaran, akhirnya membuahkan akhlak yang menggerak. Dan keyakinan yang jujur senantiasa membuahkan amal yang benar dan bermanfaat. Amal yang menyempurna hingga menemukan muara kerinduannya.

Sejenak membaca diskusi dua shahabat pada masa itu, kita mengenang tentang kerinduan mereka. Keduanya memohonkan harapan masing-masing kepada Allah. Do’a shahabat yang pertama, “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu kesyahidan. Tuntunlah aku di jalanMu sehingga aku bertemu denganMu. Do’a shahabat yang kedua pun tak kalah mengagumkan, “Ya Allah, jika kami berhadapan dengaan musuh esok hari, pertemukanlah aku dengan musuh yang paling kuat, paling ganas, dan paling berani, berilah aku kekuatan untuk membunuhnya dan aku terbunuh olehnya, kemudian aku mendapatkan syahadah dan memasuki surga.” Dan keduanya menyempurnakan kerinduannya, do’anya.

Belajarlah kita dari mereka, tentang kerinduan. Karena kerinduan mereka begitu kokoh disebabkan oleh kejujuran pada Allah. Dan di sepanjang perjalanan, kerinduan selalu melahirkan keindahan pada tiap masa. Saat-saat paling melelahkan, adalah saat-saat terindah ketika kerinduan itu dirasai. Nah, bagaimana dengan kerinduan kita? Apakah kita telah jujur kepada Allah tentang kerinduan kita? Masih ada waktu untuk menata kerinduan…

11 April 2010
Bertanya dalam hati, tentang kerinduan-kerinduan yang tumbuh dalam hati. Menata ulang hati, agar merasai kerinduan tertinggi.. Tersemangati oleh saudara-saudara di jalan cinta para pejuang, yang banyak mengajari saya tentang kerinduan… Kerinduan karena Allah..

Shidq: Sebuah Do’a, Sebuah Jalan

Hidup itu sederhana. Sehingga kesederhanaan itu membuat kita sebenarnya memiliki banyak kesempatan menikmati kehidupan –memberikan banyak kemanfaatan-. Begitulah, ketika saya menyelami lebih dalam do’a yang Allah ajarkan kepada Rasulullah dalam Q.S. al-Israa’: 80. Do’a itu menyebut sebuah jalan terbaik dalam meniti alur perjalanan kehidupan. Jalan itu adalah shidq, benar.

Dan katakanlah: “Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong.” (Q.S. al-Israa’: 80)

Hidup itu sederhana. Cukup ketika kita menjalaninya dengan benar. Lihatlah ada banyak mereka yang gelisah dan tertekan, karena menjalani hidup dengan tercampur yang tidak benar. Boleh jadi karena tak seiring nurani, ada sekelumit dusta, atau pernah terucap kata atau sikap yang menyakitkan lainnya. Maka sesekali maaf menjadi kisah yang membenarkan. Saat ia jujur, dan berujung kesempurnaan perbaikan dari kesalahan.

Dan ketika yang kita tuju dalam hidup ini adalah ridhaNya dan surgaNya, maka satu-satunya jalan adalah kebenaran. Kebenaran yang sempurna, dalam hati dan pikiran, dalam lisan, dan dalam amal perbuatan. Juga ketika yang ingin kita dekap adalah keberkahan –secara sederhana, adalah ziyadatul khair atau bertambahnya kebaikan, dalam keadaan apapun-, maka ia menjadi jawaban Allah pada kebenaran yang kita ikhtiyarkan; dalam niat (shidqun niyah), tekad (shidqul ‘azm), komitmen (shidqul iltizam), dan kerja-kerja kita (shidqul ‘amal).

Do’a itu merangkum pinta kita tentang jalan terbaik; shidq. Allah mengajari kita untuk meminta cara masuk yang benar (mudkhola shidq) dan cara keluar yang benar (mukhraja shidq). Akhirnya ia berbicara tentang keseluruhan amal. Yaitu –berulang kali berusaha saya katakan agar menjadi penyemangat amal-, benar sepanjang perjalanan. Juga mencelup hakikat kebenaran, yang berhubungan dengan Allah, disebabkan oleh Allah, dan mengantarkan menuju Allah. Cara masuk, cara memulai, kita meminta kebenaran padanya dalam bentuk kejernihan niat, karena Allah. Cara keluar, cara mengakhiri, kita meminta kebenaran padanya dengan dalam wujud surga dengan keindahannya, sebuah ejawantah kejernihan tujuan akhir, juga karena Allah. Di antara kedua kebenaran, beruntai kebenaran-kebenaran karena Allah yang mempertemukan kedua ujung kebenaran, jadilah ia menyempurna. Menyempurna karena Allah. Terkenang sebuah pesan yang pernah ustadz sampaikan; Jangan sampai kita mencintai Allah, bukan karena Allah. Ya. Betul!

Shidq, adalah jalan yang Allah pilihkan. Shidq, adalah do’a yang Allah ajarkan untuk menjalani hidup. Shidq, indah sejak dalam niat, lisan, tekad, komitmen, amal, hingga berujung surga. Semoga Allah senantiasa membimbing kita menjalani hidup dengan shidq. Wallahua’lam bishshawab.

Semarang, 7 Juli 2010
Pagi ini, meninggalkan ngaji bersama Ust. Salim, karena masih di luar kota. Semoga dipertemukan kembali pekan depan. Selalu ada kerinduan untuk menimba ilmu. Dan semoga ini, renungan-renungan dan kutipan-kutipan ini, berbuah keberkahan; memperbaiki diri ini yang masih compang-camping dalam niat hingga amal. Allahumaghfirlii…….

4,5 cm

Cara memprediksi paling baik adalah dengan mempersiapkannya. Itulah pesan guru saya yang kali ini dengan sangat terpaksa agak saya abaikan. Menuju puncak Merbabu hanya dengan persiapan yang sangat seadanya karena dipaksa padatnya agenda sebelum hari H. Kamis malam belajar Ekonometrika II dan tidur yang bisa dikatakan cukup. Jum’at pagi masih belajar dan dilanjutkan UAS Ekonometrika II jam 9.40 sampai sholat Jum’at. Ba’da sholat Jum’at ngisi evaluasi dosen, nyiapin kado, dan menyelesaikan tugas verifikasi di Bantul. Jum’at malam ba’da maghrib menghadiri undangan makan-makan seorang teman yang lagi ultah dilanjutkan dengan menyusun program bidang KKN sampai tengah malam. Tidur sebentar pun dianggap cukup.

Sabtu pagi-pagi sekali empat anak tim pendakian berkumpul: perencanaan sangat sederhana. Sebentar saja, jam 7.30 saya harus mengantar adik sekolah. Setelah itu, meminjam instrumen pendakian secara keseluruhan dan dilanjutkan dengan rapat KKN jam 10.00 sampai zuhur. Jam 13.00 harus menghadiri diskusi FoSSEI. Sampai ba’da ashar belum selesai diskusinya, dengan sangat terpaksa saya tinggal.

Waktu saya semakin mendekati deadline. Tim pendakian janjian berangkat jam 16.00 tidak ada negosiasi. Berarti bahwa saya hanya punya waktu 45 menit untuk menyiapkan keseluruhannya termasuk belanja logistik dan lain-lain. Tidak masuk nalar akal sehat! Dengan penuh semangat saya terus menyiapkan apa pun yang terjadi, meskipun pada akhirnya tetap terlambat juga 15 menit. Sampai di tempat janjian, ternyata Bos GC, salah seorang personil tim pendakian kali ini, malah lebih terlambat dari saya. Usaha saya untuk cepat-cepat terasa sia-sia. Memang terlambat menjadi kesalahan yang paling sering dimaafkan di mana pun. Akhirnya, jam 17.00 kita berangkat! Mundur satu jam dari perencanaan.

***

Perjalanan menuju base camp pendakian di Selo mengalami banyak ujian. Ujian yang pada akhirnya menjadikan petualangan kali ini jauh lebih berkesan. Ujian pertama, ban motor Bos GC bocor. Perjalanan tertunda untuk tambal ban dan baru bisa dilanjutkan maghrib. Ujian kedua, berpisah. Kejadian ini mengingatkan pada ungkapan dosen saya. Sing teka ra tuku-tuku, sing tuku ra teka-teka (yang datang tidak segera membeli, yang mau membeli tidak segera datang). Nggak ketemu gara-gara saling nunggu! Saya nunggu di Stadion Trikoyo, Bos GC nunggu di GOR Gelarsena. Terpisah jauh dan lumayan menunda perjalanan. Miskomunikasi merupakan masalah kecil yang memberikan pengaruh sangat signifikan. Dan pelajaran sore itu, jangan janjian di stadion kalau belum bisa membedakan stadion dan GOR!

Ujian ketiga, salah jalan. Mungkin status dan almamater menjadikan kita enggan bertanya di kala tidak tahu. Sungguh ini tidak tepat. Sok tahu dengan landasan insting membawa kita terus melaju sampai tempat yang tidak kita ketahui. Karena arah yang semakin tidak jelas, untuk mengurangi risiko kita pun bertanya. Jawaban seorang hansip menyadarkan kita bahwa kita telah salah jalan sejauh tiga kilometer. Kita harus menempuh jarak sejauh itu hanya untuk kembali. Capek deh.

Sampai di Selo sekitar jam 20.30, ujian masih belum berakhir. Jalan menuju base camp yang longsong dan hanya digantikan dengan jembatan bambu yang bergetar kencang ketika diinjak, membuat kita ragu melewatinya. Kita berpikir, harusnya ada jalan lain. Bertanya pun menjadi solusi di mana pun! Kita mengulang jalan tersebut sampai enam kali alias tiga kali bolak balik untuk mencari orang yang bisa ditanyai dan kemudian memutuskan bahwa jembatan bambu yang mengerikan itulah jalan yang harus kita lewati. Dengan hati-hati kita menyeberanginya. Akhirnya, sekitar jam 21.30 kita sampai di base camp.

***

Kita berencana memulai pendakian jam 22.00 dengan target sampai puncak pukul 03.00 esok hari. Target yang sangat menantang! Ada waktu sejenak untuk mempersiapkan diri dan beristirahat. Di sebuah mushola di base camp, saya terdiam dan termenung sejenak. Saya teringat ibu dan kekhawatiran beliau. Sebelumnya beliau tidak mengizinkan saya pergi, namun saya berhasil meyakinkan beliau bahwa insyaAllah semua akan baik-baik saja. Saya mengerti mengapa ibu begitu khawatir terhadap saya. Semua karena peristiwa enam tahun yang lalu dan setiap keluhan saya pada beliau sampai sejauh ini. Paru-paruku sempat terasa sakit, kepalaku pun seakan terasa berat, ditambah dengan kantuk yang menjadi-jadi, keadaan ini menyelinapkan keragu-raguan. Namun, azzam dalam hati untuk mencapai puncak dan keyakinan bahwa Allah selalu membersamai kini terus menguatkan saya. InsyaAllah!

***

Jam 22.00 tepat kita mulai petualangan. Ada tiga hal yang menjadi makna dalam perjalanan ini, yaitu: visi, inspirasi 5 cm, dan Q.S. Ar Rahman yang menjadikan semangat dan kekuatan luar biasa di hati kita.
Visi kita adalah puncak, dan kita tidak akan berhenti kalau tidak di puncak. Kita yakin bahwa kenikmatan di puncak akan jauh lebih besar dibandingkan kenikmatan yang kita dapatkan di saat kita berhenti di tengah perjalanan ini. Analogi tentang perjuangan meraih surga yang dijanjikan Allah menjadi pelajaran berharga dalam perjalanan ini. Surga diraih dengan sabar dan istiqamah. Jangan berhenti!

Inspirasi datang dari filosofi sebuah novel 5 cm. Yakinlah bahwa visi kita sudah sangat dekat. Kita hanya perlu melangkah sedikit lagi untuk mencapainya. Arahkan tanganmu ke puncak itu, lihatlah jarak antara jari telunjuk dan ibu jarimu. Itulah jarak antara dirimu dan puncak, lihat bahwa jarak itu hanya 5 cm. Dan 5 cm lagi kamu akan sampai di puncak itu. Filosofi ini mengajarkan bahwa kita bisa mencapai visi terhebat kita, karena visi itu sesungguhnya sudah dekat dengan kita. Dalam hati saya berteriak, puncak itu bukan 5 cm. Kulihat bahwa puncak itu hanya sepanjang 4,5 cm lagi! Sekali lagi, jangan berhenti!

Q.S. Ar Rahman meresapkan rasa syukur hanya kepada Allah. Rasa syukur inilah yang menjadi makna terbesar dalam perjalanan ini. Apa yang kita cari bukanlah puncak, melainkan rasa syukur ketika kita sampai di puncak nanti. Apa yang kita cari bukanlah kemudahan mencapai puncak, melainkan rasa syukur ketika kita bisa melewati setiap kesulitan sepanjang pejalanan. Semua yang kita resakan, semua yang kita jalani, dalam naungan nikmat Allah yang selayaknya selalu kita syukuri. Bersamaan dengan dingin angin malam yang menerpa, perlahan lantunan Q.S. Ar Rahman menggetarkan hati kita, fabi’ayyi ’alaai robbikuma tukadzdzibaan…

Catatan dari perjalanan mendaki Merbabu;
Juni 2008, sebulan sebelum Munas FoSSEI.

Tiga Do’a Tiga Mimpi Sederhana

“Jangan mengeluh dan jangan berputus asa…”

Pandangannya tunduk, hatinya bertakzim. Suasana malam berbalut sunyi pun kian menggetar. “Akh,” demikian ia bersahaja memulai kata, “bagaimana jika nanti engkau ditanya, apa amalan unggulanmu?” Sunyi pun masih mengalir hingga beberapa waktu. Kemudian, tunduknya perlahan terganti, pandangannya menatap saya dalam. Saat itu, tak ada kata pada saya. Tak ada jawaban dari lisan saya. Hanya hati yang bergejolak memikirkan bagaiman bersiap menghadapi sang tanya kelak. Pertanyaannya, kurang lebih sama dengan tanya Valentino Dinsi, Sang Guru Entrepreneurship, ketika menggugah motivasi pendengarnya dalam sebuah seminar, “What do you really want to be?” Seseorang yang begitu yakin menjawabnya, sering kali kembali terdiam ketika sampai pada tanya selanjutnya, “Yang seperti apa? Kapan?”

Begitulah yang membiasa dalam kita. Ada mimpi-mimpi bertumbuh dalam hati, namun terkadang tak tertulis nyata dalam takdir. Apa sebab? Awalnya adalah definisi. Ya, terlalu sering kita tak mampu, atau mungkin tak mau sedikit repot, untuk mendefinisikan setiap mimpi-mimpi dalam kata kerja. Benarlah Ibnul Qayyim Al Jauziyyah ketika berkata, “Angan-angan adalah harapan tanpa amal.” Ada beda, antara angan-angan dan mimpi. Bedanya pada amal, sebuah kata kerja.

Selanjutnya kita sama-sama belajar untuk mendekatkan mimpi dengan kata kerjanya, dengan menulisnya sebagai cita-cita. “Mimpi adalah bagian terindah dan terendah dari visi. Jika kita hendak menaikkanya satu aras, jadikanlah ia cita-cita.” Demikian Akh Salim pernah berkata dalam Jalan Cintanya. “Bagaimana caranya?” Ia masih melanjutkan, “Sematkan saja sebuah tanggal padanya. Karena cita-cita adalah mimpi yang bertanggal. Cita-cita adalah mimpi yang telah kita tentukan waktunya.”

Cita-cita, perlahan mendefinisikan mimpi dengan lebih jelas meski tak harus berpanjang kata. Juga memilih waktu untuk menyiapkannya menyesuaikan takdir Allah. Ingat kembali, bagaimana ilmu manajemen menuntun kita untuk merumuskan cita-cita dengan kaidah SMART: specific, measurable, achievable, relevant, dan timely. Semoga, kaidah ini tidak mengajak kita untuk takut bermimpi. Hanya kita diminta untuk lebih memahami. “Untuk meraih hal besar,” Anatole France, seorang peraih nobel pernah berucap, “kita bukan hanya harus bertindak, tetapi harus bermimpi. Bukan hanya membuat rencana, tetapi juga percaya.”

Rencana dan percaya, kerja dan cita-cita, seperti keniscayaan takwa dan iman yang senantiasa bergandengan dan beriring jalan saling menasihati. Tak saling mendahului, tak saling meninggalkan, tak saling mengabaikan, dan tentu saja tak saling menunggu, karena keduanya selayak bersicepat menggapai langkah lebih jauh, lebih tinggi. Ah, kini sampailah pada tanya, bagaimana dengan mimpi kita? Sudahkah ia mengajak sang amal untuk membersamai?

Sekarang, setelah beberapa waktu dikesampingkan, saatnya kita kembali kepada tanya seorang Akh di awal catatan. Sejenak memahaminya dengan kerangka kutipan yang mengikutinya pada paragraf-paragraf selanjutnya. Bercita-cita, berarti menyiapkan amal. Bolehlah kita menekankan pada kata kerja dengan ungkapan, bercita-cita untuk beramal. “Bagaimana menyiapkan amal unggulan yang menemani kita saat menjumpaiNya?” Kurang lebih demikian rumusan pertanyaan kita.

Maafkan, jika ada kesan yang tak nyaman dalam pertanyaan yang saya ungkapkan. Kali ini, ijinkan saya meminta Antum, baik yang sejak lama telah mempersiapkan dan membiasakan amalan unggulan maupun yang belum, menasihati juga menemani saya yang mulai belajar tentang cita-cita ini. Cita-citanya, menjumpai Allah dengan bersenyum, dalam nyaman kesiapan bersama amalan unggulan yang menyelimuti hangat. Saya mohon dengan sangat, bersiaplah menuangkan nasihat-nasihat melengkapi cita-cita untuk amal saya ya…

Pertama, menjadi pengusaha. Bukan apa-apa, hanya saja saya yang tidak begitu nyaman dengan formalitas, mungkin akan susah menyesuaikan diri kerja kantoran. Hehe. Apalagi, nampaknya ada sedikit beroleh pembelaan, namun bukan pembenaran kekurangan. Ketika Rasulullah pernah memberikan kisi-kisi dalam keteladanan dan sabdanya, “Sembilan dari sepuluh pintu rizqi ada dalam perniagaan.” Ada banyak hikmah menjadi pengusaha, Antum sudah lebih tahu. Hikmah yang berkesan bagi saya adalah, mengajari untuk bersyukur, bersabar, peka, bersungguh-sungguh, menghargai waktu, mengambil keputusan, dan hobi silaturahim. Insyaallah, lebih banyak bershadaqah dan bermanfaat untuk orang lain. Semakin mengakar cita-cita saya ini, meskipun akan mulai saya seriusi setelah lulus nanti, ketika ada beberapa teman yang mengajak merencanakannya. Bersiap untuk belajar tentang dunia peternakan, broker, sampai dengan warung makan! Ayo, ada yang mau bersyirkah dengan saya?

Kedua, menjadi dosen, peneliti, dan penulis. Saya masih ingat, pada semester satu kuliah, ketika mengikuti pelatihan tahap pertama dalam alur kaderisasi organisasi. Ketika itu, seluruh anggota baru diminta menyusun rencana selama kuliah, menuliskan capaian setiap semester, pertama sampai akhir. Di sana saya tuliskan capaian saya, satu-satunya cita-cita: menulis buku pada semester lima! Ah, sayangnya, sampai di penghujung kuliah saat ini, belum kesampaian. Salah saya, beginilah ketika komitmen kurang kuat menjaga cita-cita. Namun sungguh, cita-cita itu masih tetap ada sampai saat ini, bahkan terasa semakin dalam. Kertas di mana saya menuliskan cita-cita itu pun masih tersimpan. Terkadang dipandangi, menyemangati. Saya juga masih ingat, cita-cita saya ketika diterima di kampus ini: menjadi dosen! Membeda, sementara kebanyakan yang lain becita-cita kerja di Bank Indonesia. Belum lagi, kalau ingat selama kuliah saya banyak dihidupi oleh aktivitas penelitian. Jadi aliran kas masuk, hehe. Klop sudah! Memang, dosen dan peneliti menjadi pilihan karena sejalan dengan cita-cita saya untuk terus menulis. Satu lagi pertimbangan, tentu saja, terkenang kata Sang Syaikh seperti dalam filmnya, “Guru itu justru hartanya banyak. Ngasih ilmu aja kerjaanya…” Subhanallah. Semakin mantap! Biar bagaimanapun, kita harus bercita-cita mengajarkan dan mengajak bukan? Dan dosen, peneliti, juga penulis, ianya adalah jalan kontribusi untuk belajar, mengajarkan, dan mengajak.

Ketiga, menjadi ayah! Untuk yang terakhir ini, Antum sekalian sudah cukup paham. Ada cerita, ada cita-cita, ada harapan tentang generasi shalih. Ah, betapa rindunya saya, bergetar hati saya mengatakannya, hingga saat ini tercukupkanlah kata-kata ini saja. Maaf, sedikit saja ya.

Bagaimana cita-cita saya ini menurut Antum? Sudah terdefisikan dengan jelas kah? Atau melebay? Ah, insyaallah tidak. Mimpi melebay ketika tak membuat kita bergerak bersegera. Semoga ketiganya menjadi penuntun arah gerak saya bersegera menyiapkan amal unggulan. Sejenak terbayang dengan nasihat di waktu kecil dahulu. Saya tidak ingat siapa yang mengenalkannya pada saya, pastinya saya berulang kali telah mendengarnya. Sabda Rasulullah seperti diriwayatkan oleh Imam Muslim, “Apabila anak Adam wafat putuslah amalnya kecuali tiga hal yaitu sodaqoh jariyah, pengajaran dan penyebaran ilmu yang dimanfaatkannya untuk orang lain, dan anak (baik laki-laki maupun perempuan) yang mendoakannya.” Lihatlah dari mana ketiga cita-cita saya terbangun, menjadi doa yang berpanjat khusyuk menembus setiap malam, berhias jernihnya luh dan merdunya isak, agar Allah menyempurnakan dalam kebaikan. Juga cita yang bersusun rapi, mengikhtiyarkan amalan-amalan unggulan yang tak berputus bersama usia dunia. Mohon doanya juga, untuk sebuah rencana sederhana saya…

Seorang Akh yang lain, di waktu yang lain, membecandai saya, “Tidak terbayang, kapan kita akan sampai pada ustadziyatul ‘alam, menjadi model yang agung bagi semesta, yang merupakan tahapan ketujuh, capaian tertinggi dalam cita-cita amal kita.” Saya memandanginya serius, juga mengiringinya dengan muhasabah diri. “Sementara,” masih dengan mimik serius ia melanjutkan, “kita masih ragu, sesekali maju, sesekali mundur, di antara tahapan pertama dan kedua. Tidak bersegera menaikkan tahapan. Apa masih belum cukup berlama-lama di tahapan pertama?” Kembali, kunaikkan pandanganku yang tertunduk, memandanginya. Wajahnya yang serius tiba-tiba saja berganti cepat, dan seketika kita tertawa bersama. Bukan bahagia, namun sedih, mengingat singkatnya waktu dan panjangnya jalan, sementara langkah belum bergeser jauh dari garis start.

Pada akhirnya, semua berpulang kepada waktu. Sudah seberapa efektifkah waktu-waktu kita? Sudah sampai sejauh mana kita pada waktu-waktu yang telah dijalani? Ah, memang tidak cukup mimpi. Juga tidak cukup kerja. Ada satu yang perlu kita tahu, bahwa penjangnya perjalanan membutuhkan mimpi yang selalu ada. Mimpi yang sejenak, tak akan mengantarkan kita berjalan lebih jauh. Suatu saat akan berhenti juga. Bahkan banyak berhenti. Padahal waktu terus saja bergulir tak menunggu.

Sungguh, ketika kita telah memilih mimpi, kemudian mempertahankannya di sepanjang perjalanan hingga gerak tak pernah hilang, maka kenyataan itu cuma soal waktu saja. Tinggal menunggu waktu! Dan waktu tak akan lama karena ia senantiasa melaju kontinu. Bukan hal yang mudah memang, mempertahankan mimpi, namun rasanya cukup dengan dua pantangan untuk mencapainya: jangan mengeluh dan jangan berputus asa. Iya, jagalah dua itu, dan terus bergeraklah menjaga waktu dalam alurnya: bermula doa, mengiringi jiwa yang kokoh, membangun rencana-rencana terbaik, dan selalu bergerak dalam nuansa ruhiyah yang mantap. Hingga amal-amal yang menjadi doa dan cita-cita, amal-amal unggulan, sambung menyambung menjalinkan takdir indah, beruntai pahala tak berbatas usia dunia. Insyaallah.

Wallahu a’lam bish showab.

22 Oktober 2009,
Sedang menyemangati diri sendiri untuk segera lulus! Merencanakannya sebagai catatan terakhir sampai S.E. nanti. Juga sedang memohon nasihat, dengan menulis dalam kontemplasi, tiga doa tiga cita. Dan cukup satu cinta, ;)

Visi yang Menginspirasi

Jazaakallaah, teruntai do’a setulus hati untuk salah seorang saudara saya yang baik. Dari sepetik tanyanya yang menggugah saya kemudian mengambil pelajaran. “Yog, ada banyak orang-orang hebat yang mampu menginspirasi dunia, dengan pemikirannya, dengan pergerakannya. Apa sebenarnya yang membuat mereka menjadi begitu hebat dan berbeda dibanding yang lainnya?” Saya memandangi garis wajahnya, menyelami tanyanya, hingga saya menemukan kesungguhan dalam tanyanya itu.

Sejenak saya terdiam, berpikir dan berusaha menemukan jawaban. Jawaban atas tanyanya yang kemudian menjadi tanya bagi hati saya. Bagi saya, ada banyak hal yang terangkai sebagai jawaban-jawaban mengingat kehebatan itu merupakan konsolidasi dari berbagai pemikiran dan pergerakan kecil yang senantiasa terlahir setiap saat. Namun tiba-tiba tersebut dalam hati saya tentang satu kata yang menjadi pijakan pertama dari kehebatan dna inspirasi itu: visi. Ya, visi yang membuat mereka hebat, inspiratif, dan berbeda hingga mereka pun menjadi sosok-sosok yang luar biasa. Tentu saja visi yang digenggam bersama ikhtiyar dan tawakal, dengan keistiqamahan  tak berbatas. Bukan visi yang sempat terpikir sejenak dan selanjutnya mengabur seiring waktu. Dan tentu saja visi yang besar. Bukan visi yang lahir hanya untuk memenuhi kepentingan diri sendiri.

Tentang visi yang besar itu, mungkin telah banyak sosok dalam sejarah yang mengukirkan keteladanan. Namun ada satu kekaguman yang luar biasa dalam hati saya pada dua sosok pemuda. Kekaguman yang juga pernah dirasakan oleh Abdurrahman bin Auf, seorang yang dekat dengan keduanya. Dan cerita mengangumkan tentang keduanya, pernah terukir dalam Perang Badr.

Ketika Perang Badr, salah satu dari keduanya berkata pada Abdurrahman bin Auf. “Paman,” dia berbisik pelan agar tak terdengar oleh sahabatnya, “tunjukkan padaku mana Abu Jahl.” Abdurrahman bin Auf balik bertanya, “apa yang akan kamu lakukan padanya?” Maka tersenyumlah pemuda ini seiring jawaban yang kokoh menjulang melantun dari bibirnya. “Paman, dia membenci Rasulullah. Demi jiwaku yang ada dalam genggamanNya, sungguh jika aku melihatnya, tidak akan berpisah biji mataku dengan biji matanya sampai ada yang mati di antara kami.” Dan ungkapan menyejarah ini terasa jauh lebih menggetarkan, ketika kita mengetahui bahwa pemuda ini adalah Mu’adz bin ‘Amr bin al-Jumuh, yang pada saat itu masih berusia 14 tahun.

Tak kalah dengan Mu’adz, begitu pula dengan seorang sahabatnya, Ma’udz bin Afra’ yang berusia setahun lebih muda. Ma’udz pun bertanya pada Abdurrahman bin Auf dengan pertanyaan yang sama. Maka ketika pandangan Abdurrahman bin Auf telah tertuju pada Abu Jahl, dia berkata pada kedua pemuda ini, “inilah orang yang kalian tanyakan padaku!” Kedua pemuda ini tersenyum, seolah melihat surga telah begitu dekat dalam pandangan matanya. Keduanya segera berlari, mendekat dan menyempurnakan visinya. Kecilnya tubuh mereka, sulitnya rintangan di depan mereka, terkalahkan oleh visi yang menjulang tinggi.

Akhirnya, visinya yang besar, mengalahkan semuanya. Visi itu mengantarkan mereka menjadi orang-orang yang besar dengan perbuatan-perbuatan yang besar. Mereka mencatatkan nama dalam sejarah, sosok-sosok pembunuh Abu Jahl, musuh besar Islam si biang kejahiliyahan! Mereka memenuhi salah satu di antara dua visi besarnya: membunuh Abu Jahl atau syahid menuju surga. Mereka beroleh yang pertama! Bahkan Rasulullah, yang mereka cintai dan mencintai mereka, pun mengapresiasi kedua pemuda ini dengan kekata yang sempurna, “ya, kalian berdua telah membunuhnya.”

Dari mereka berdua, pemuda yang masih berusia 14 dan 13 tahun ini, kita selayaknya belajar tentang visi. Visi yang menembus batas! Visi yang tidak sekedar visi, melainkan puncak tertinggi dari sebuah visi. Tidak cukup hanya ikut dalam Perang Badr, tidak cukup membunuh satu orang kafir, tetapi membunuh Abu Jahl menjadi visi tertingginya, sekalipun taruhannya adalah gugur di jalan Allah! Begitulah, hingga keduanya menorehkan kehebatan dan inspirasi. Kalau pun mereka mencukupkan visinya sekedar membunuh satu orang kafir, atau hanya bisa ikut perang Badr, sungguh tak akan pernah ada yang mencela mereka mengingat usia keduanya yang masih sangat muda. Namun, torehan kehebatan dan inspirasi itu, hanya mengejawantah dari visi yang besar yang senantiasa mereka ganggam!

“Apakah kita telah menggenggam visi yang besar?” Saya tersenyum, bertanya pada hati, dan bertanya pada saudara yang duduk di samping saya. Kita sama-sama terdiam kembali. “Mungkin selama ini,” saya melanjutkan dengan suara semakin lirih menyelami renungan, “kita berjalan tanpa pernah memiliki visi, yang besar, yang kokoh, yang menjadi pijakan pertama dari langkah-langkah kita, hingga tak ada jejak yang kita tinggalkan.” Bersamaan dengan itu, saya pun terus menyelami kata-kata yang mengalir tanpa sadar dari bibir saya.

Visi yang besar dan kokoh akan mengalahkan segala kesulitan di depan kita. Tidak ada alasan kita akan berhenti, karena visi itu masih jauh dan kita yakin memdapatkannya. Tidak ada yang mampu menggantikannya. Maka kita akan mengejar dan terus mengejar. Berbeda ketika kita hanya menggenggam visi yang kecil dan terbatas, bahkan ketika kita tidak memilikinya. Banyak yang akan mampu menggantikan, dan satu kesulitan pun akan cukup menjadi alasan menghentikan kita. Selesai sudah! Dan itulah sejarah kita. Mau?

Maka sebagai penutup tulisan ini, saya mengingat pertanyaan yang senantiasa saya munculkan dalam hati, “dari mana saya dapatkan visi itu?” Dan hati saya pun senantiasa menjawab dengan satu kata: cinta. Begitulah saya belajar dari sosok-sosok yang menginspirasi. Ya, cinta itu yang menelusup dalam hati, lahir dari pembelajaran dan pemahaman ilmu yang senantiasa bertambah seiringnya. Cinta itu, cinta yang mampu menggerakkan dan mengokohkan genggaman visi Mu’adz dan Ma’udz, adalah cintanya kepada Allah, cintanya kepada Rasulullah, hingga setiap pilihan langkah-langkahnya bernilai jihad hingga cinta itu menyempurna tak tergantikan. Wallahu’alam.

18 Juni 2009, 23:02

Rehat sejenak saat mengerjakan kuesioner untuk penelitian skripsi. Dan tulisan ini lahir dari rehat itu, semoga mengalirkan manfaat bagi yang membacanya.