Warisan Imam Hasan Al Banna

Berbicara mengenai Jamaah Ikhwanul Muslimin, seperti yang ditulis Anis Matta dalam kata pengantar terjemahan Wasailut Tarbiyah ‘inda Ikhwanil Muslimin, berarti berbicara mengenai tarbiyah, dan demikian sebaliknya. Maka berbicara tentang keduanya, kita pun akan berkenalan dengan satu nama yang menyejarah, Hasan Al Banna, seorang da’i, murobbi, dan sang pendiri Jamaah Ikhwanul Muslimin.

Anis Matta dalam Dari Gerakan ke Negara menyebut Hasan Al Banna sebagai bapak revolusi, bapak perubahan, atau bapak pembaharuan, yang memegang saham terbesar bagi fenomena kebangkitan Islam abad ke-20. Hasan Al Banna, seperti yang diceritakan oleh Anis Matta, percaya bahwa sebuah perubahan besar harus dilakukan dengan cepat, tetapi tidak menempuh jalan pintas. Beliau sangat percaya pada prinsip pertumbuhan yang cepat namun terkendali sebab pertumbuhan yang terlalu cepat selalu merupakan karunia bagi umat. Perubahan besar yang cepat harus dimulai dari manusia. Kepercayaan yang menghujam di hati tentang perubahan, dapat kita seksamai pada langkah-langkah yang diambil oleh beliau untuk mengembalikan kejayaan Islam, setelah melihat keadaaan umat Islam yang identik dengan ketertindasan dan keterjajahan. Langkah-langkah yang diambilnya, bersumber dari perenungannya yang mendalam terhadap kondisi uma Islam yang mengiris-iris kalbu, paling tidak telah mewariskan dua jejak yang menyejarah: Ikhwanul Muslimin dan tarbiyah. Selanjutnya, mari kita sedikit berdiskusi tentang kedua untuk mengenal lebih dekat.

Ikhwanul Muslimin, didirikan pada tahun 1928, setelah Hasan Al Banna tuntas dengan kegelisahannya, memahami permasalahan mengakar yang dihadapi oleh umat Islam, serta menetapkan sasaran dan target yang ingin dicapainya untuk umat. Organisasi ini, masih seperti diungkapkan Anis Matta, menggambarkan buah pertimbangan Hasan Al Banna bahwa gagasan-gagasan besar dan target-target yang telah ditetapkan hanya akan menjadi kenyataan ketika dikerjakan di dalam dan melalui organisasi. Begitulah, hingga dalam perkembangan Ikhwanul Muslimin, kita mampu merasakan pandangannya yang menyejarah, yaitu transformasi wacana kebangkitan Islam menjadi sebuah gerakan yang bekerja pada semua lini umat. Ikhwanul Muslimin, masih seiring dengan dasar pemikiran Hasan Al Banna tentang perubahan, menfokuskan pada kerja-kerja rekonstruksi sosial yang bertumpu pada pembentukan manusia. Maka dari sini kemudian, kita mengenal dan sekaligus merasakan warisan menyejarahnya yang kedua: tarbiyah.
‘Ali ‘Abdul Halim Mahmud menyebut tarbiyah sebagai cara ideal dalam berinteraksi dengan fitrah manusia, baik secara langsung melalui kata-kata maupun secara tidak langsung dalam bentuk keteladanan, sesuai dengan sistem dan perangkat khusus yang diyakini, untuk memproses perubahan dalam diri manusia menuju kondisi yang lebih baik.

Tarbiyah bagi Hasan Al Banna, mengutip tulisan Salim A. Fillah, setidaknya memiliki tiga makna. Pertama, rabaa, yarbuu. Artinya tumbuh. Tarbiyah menumbuhkan seseorang dari kekanakah ruh, kekanakan akal, dan kekanakan jasad menuju kematangan dan kedewasaan masing-masingnya. Ruh yang dewasa, akal yang dewasa, dan jasad yang dewasa untuk memetakan diri, menyikapi masalah-masalah, dan mengemban tugas-tugas. Maka tarbiyah adalah sebuah improvement, peningkatan.

Kedua, rabiya, yurbii. Artinya berkembang. Tarbiyah mengembangkan manusia muslim dalam kemampuan-kemampuan yang dibutuhkan menjalani kehidupan. Manusia muslim dalam tugasnya sebagai ‘abdullah yang beribadah kepada Allah dan sebagai khalifah yang akan mengelola bumi seisinya dilatih untuk memiliki kompetensi yang dikembangkan dari potensi-potensi yang telah dikaruniakan Allah kepadanya. Maka tarbiyah adalah development, pengembangan.

Ketiga, rabaa, yarubbu. Artinya memberdayakan. Tarbiyah mengarahkan agar berdayaguna. Islam memanggil manusia muslim untuk membuktikan keunggulannya. Islam menghendaki agar sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat, paling besar daya guna dan kontibusi bagi umat. Maka tarbiyah adalah empowerment, pemberdayaan.

Dalam kerangka kerja peradaban Anis Matta, tarbiyah adalah afiliasi, partisipasi, dan kontribusi. Pertama, manusia muslim harus memperbaharui afiliasinya kepada Islam kembali sebab keislaman kaum muslimin saat ini lebih banyak dibentuk oleh warisan lingkungan sosial, bukan dari pemahaman dan kesadaran yang mendalam tentang Islam. Kedua, setiap individu muslim harus melebur dalam komunitas muslim yang besar, di mana ia menjadi bagian dari masyarakat dan berpartisipasi dalam membangun masyarakat tersebut. Ketiga, manusia muslim harus benar-benar dapat mencapai tingkat paling optimal dalam memberikan kontribusi kepada Islam.

Aditya Rangga Yogatama
[jadi ingat, bahwa tulisan ini dulu dibuat sebagai syarat mengikuti Forum tertentu tertentu; ditulis menjelang deadline, jadinya sekedar hasil kutip-kutip :P]