Agar Bernilai Hijrah

Selalu teriring harapan dalam sebentang perjalanan. Ya, harapan. Saya balas tanyanya, seorang sahabat saya tersayang, dengan serangkum harapan yang ingin coba saya tinggalkan. Di penghujung ia menyempurnakan perbincangan dengan permohonan yang hangat. “Iya deh,” tulisnya dalam sms, “semoga Antum dapat menyiapkan segala sesuatunya sebelum hijrah ke Jakarta.” Saya tersenyum. Tersemangati.

Hijrah. Sebuah ungkapan yang dipilih sahabat saya itu, terasa terlalu agung untuk disematkan pada perpindahan saya ke Jakarta nanti, insyaallah. Yang saya fahami, hijrah adalah sejarah. Sejarah yang menghajatkan kesungguhan tanpa jeda hingga tertuliskannya. Di sana pun tidak sempat terizin adanya pilihan lain, menembus batas antara suka dan tidak suka. Nyaman dan tidak nyaman.

Meski harus ada pengorbanan harta dan segala yang tak terbilang. Walau jelas ada ketidakjelasan masa depan yang terbentang. Tetapi tergantilah semua itu, tergerak oleh ketaatan tanpa syarat. Betul-betul tanpa syarat. Tentu, manusiawi, jika masih terselip duka lara yang membangkitkan rasa derita. Saat seluruh apa yang dimiliki terpaksa rela ditinggalkan. Tak ada yang dibawa. Bahkan, sesampai di lahan yang baru, masih saja tertumbuh rindu pada apa-apa yang tertinggal. Ingin pulang. Rasanya rumah sendiri jauh lebih nyaman. Namun terhapuslah semua itu, tergerak oleh ketaatan tanpa syarat. Lalu ketegaran sekokoh karang yang menopang terjalaninya hijrah hingga paripurna.

Continue reading “Agar Bernilai Hijrah”