Do’a

Do’a, bukan sekedar pinta.

Do’a, ianya ungkapan cinta, bincang mesra, tetapan cita, pun komitmen kesungguhan atasnya.

Do’a, terkadang ia pemelihara cita, pengingat atas janji ikhtiyar sepenuh jiwa,

Do’a, sering ia penentram rasa, ketika ujian memberati dada.

Do’a, akan selalu bermula dalam keyakinan.

Tak cukup, ianya harus dilanjutkan dlm kesungguhan.

Sempurna, insyaaLlah, bertunai keberserahan.

Kata guru saya, Kalau punya target tulis saja dulu.

Rasanya akan beda kalau sudah ditulis.

___12 November 2012

Jangan Mengeluh

AlhamduliLlah. Allah perkenankan saya menyadari kekurangdewasaan saya, dengan jalan yang indah. Pada setiap keluh yang pernah tersampai hingga oleh lisan saya, Allah tunjukkan jawaban sebentuk renungan mendalam buat diri dari sekian perbincangan dengan sosok-sosok yang inspiratif. Indahnya, renungan itu yang kemudian hadirkan penentram hati atas segala keluh.

Mengeluh. Seolah mengidentik pada kecenderungan hati yang ringkih. Atau ketidakmampuan menata dan mengelola setiap rasa terhadap takdir yang terkarunia. Mengeluh pun boleh jadi tersebab oleh melemahnya iman dan keyakinan pada pertolongan Allah. Dan keluhan itu, tentu saja akan membersamai mereka yang tidak mampu hadirkan syukur atas apa-apa yang terkaruniakan. Juga mengiringi mereka yang tidak sanggup hadirkan sabar atas apa-apa yang tercobakan. Padahal, orang beriman, terbekali padanya syukur dan sabar pada ketentuan Allah yang menjadikannya kebaikan. Setidaknya, itu yang pernah saya rasai. Dan, memang, mengeluh ini berkaitan dengan rasa.

Continue reading “Jangan Mengeluh”

Agar Bernilai Hijrah

Selalu teriring harapan dalam sebentang perjalanan. Ya, harapan. Saya balas tanyanya, seorang sahabat saya tersayang, dengan serangkum harapan yang ingin coba saya tinggalkan. Di penghujung ia menyempurnakan perbincangan dengan permohonan yang hangat. “Iya deh,” tulisnya dalam sms, “semoga Antum dapat menyiapkan segala sesuatunya sebelum hijrah ke Jakarta.” Saya tersenyum. Tersemangati.

Hijrah. Sebuah ungkapan yang dipilih sahabat saya itu, terasa terlalu agung untuk disematkan pada perpindahan saya ke Jakarta nanti, insyaallah. Yang saya fahami, hijrah adalah sejarah. Sejarah yang menghajatkan kesungguhan tanpa jeda hingga tertuliskannya. Di sana pun tidak sempat terizin adanya pilihan lain, menembus batas antara suka dan tidak suka. Nyaman dan tidak nyaman.

Meski harus ada pengorbanan harta dan segala yang tak terbilang. Walau jelas ada ketidakjelasan masa depan yang terbentang. Tetapi tergantilah semua itu, tergerak oleh ketaatan tanpa syarat. Betul-betul tanpa syarat. Tentu, manusiawi, jika masih terselip duka lara yang membangkitkan rasa derita. Saat seluruh apa yang dimiliki terpaksa rela ditinggalkan. Tak ada yang dibawa. Bahkan, sesampai di lahan yang baru, masih saja tertumbuh rindu pada apa-apa yang tertinggal. Ingin pulang. Rasanya rumah sendiri jauh lebih nyaman. Namun terhapuslah semua itu, tergerak oleh ketaatan tanpa syarat. Lalu ketegaran sekokoh karang yang menopang terjalaninya hijrah hingga paripurna.

Continue reading “Agar Bernilai Hijrah”

Kerinduan yang Terjujur

Pada mulanya adalah kerinduan. Pada akhirnya adalah sejauh mana kita mempertahankan kerinduan itu tetap terjaga dalam jiwa. Inilah yang sering dirasa tidak mudah bagi sebagian besar kita. Begitu sering kerinduan hanya bertahan sementara waktu. Hanya ketika semangat memuncak tinggi. Namun kemudian menghilang di saat-saat futur, terjatuh, dan terlupa. Hingga ujungnya, sering kali penyesalan pun tumbuh mengiringi terlambatnya kesadaran. Saat mulai teringatkan, sementara waktu telah lewat jauh. Menyedihkannya, jika itu berulang kali terjadi, hingga kita ringan merasai penyesalan. Inilah pertanda jiwa yang rapuh dan sakit.

Sesungguhnya kerinduan merupakan ejawantah dari keyakinan. Kita pun tahu, keyakinan yang masih terselip ragu akan membawa kerinduan yang terkadang-kadang. Kadang ingat, kadang lupa. Maka menegaskan keyakinan menjadi pilihan yang tidak bisa ditawar lagi untuk membangun kerinduan sepanjang perjalanan. Keyakinan yang tegas akan memupuk kerindungan untuk bertumbuh semakin besar dan berkembang semakin kokoh. Keyakinan itu mampu membangun pemikiran, kemudian mencipta kesadaran, akhirnya membuahkan akhlak yang menggerak. Dan keyakinan yang jujur senantiasa membuahkan amal yang benar dan bermanfaat. Amal yang menyempurna hingga menemukan muara kerinduannya.

Sejenak membaca diskusi dua shahabat pada masa itu, kita mengenang tentang kerinduan mereka. Keduanya memohonkan harapan masing-masing kepada Allah. Do’a shahabat yang pertama, “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu kesyahidan. Tuntunlah aku di jalanMu sehingga aku bertemu denganMu. Do’a shahabat yang kedua pun tak kalah mengagumkan, “Ya Allah, jika kami berhadapan dengaan musuh esok hari, pertemukanlah aku dengan musuh yang paling kuat, paling ganas, dan paling berani, berilah aku kekuatan untuk membunuhnya dan aku terbunuh olehnya, kemudian aku mendapatkan syahadah dan memasuki surga.” Dan keduanya menyempurnakan kerinduannya, do’anya.

Belajarlah kita dari mereka, tentang kerinduan. Karena kerinduan mereka begitu kokoh disebabkan oleh kejujuran pada Allah. Dan di sepanjang perjalanan, kerinduan selalu melahirkan keindahan pada tiap masa. Saat-saat paling melelahkan, adalah saat-saat terindah ketika kerinduan itu dirasai. Nah, bagaimana dengan kerinduan kita? Apakah kita telah jujur kepada Allah tentang kerinduan kita? Masih ada waktu untuk menata kerinduan…

11 April 2010
Bertanya dalam hati, tentang kerinduan-kerinduan yang tumbuh dalam hati. Menata ulang hati, agar merasai kerinduan tertinggi.. Tersemangati oleh saudara-saudara di jalan cinta para pejuang, yang banyak mengajari saya tentang kerinduan… Kerinduan karena Allah..

Kesabaran Senantiasa; Saat Mudah, Saat Susah, Tetap Bersabarlah

Ada saat-saat di mana kita harus mengingatkan diri, untuk senantiasa berusaha menemukan hakikat kesabaran di sepanjang perjalanan. Senantiasa, karena kita tidak pernah mengetahui puncak kesabaran dan sejauh mana kesabaran kita, di saat kesabaran pada hakikatnya tak pernah menemui batas. Terkadang, ada saat-saat berat, lelah, dan jenuh, yang menggoda kita untuk membatasi kesabaran itu, menjadikannya terasa pendek, sempit, dan kemudian terlepas. Semoga kita selalu dibimbing Allah, terlebih saya yang mesti lebih banyak belajar tentangnya, untuk tidak pernah tenggelam dalam perasaan diri telah bersabar, padahal sebenarnya jauh darinya.

Mungkin telah berkali-kali, kebimbangan mencul di tengah-tengah ketegaran menjaga konsistensi perjalanan. Saat yang kita temui adalah; kerja-kerja kita tak segera menampakkan perubahan, rasa pesimis yang menyelinap dan memengaruh sesekali, atau sempitnya waktu kala kerja dirasa kian berat bertumpuk-tumpuk. Hingga tersirat niatan menarik diri dari lingkungan yang dirasa tidak ideal.

Bersamaan dengan itu, tumbuhlah kerinduan untuk menikmati kenyamanan berjalan di lingkungan terbaik. Tidak salah memang. Namun, semoga kerinduan bukan sekedar untuk menikmatinya, karena sebenarnya kita diminta untuk menciptakannya. Seolah ditegur dengan lembut, ketika membaca bahwa Rasulullah pernah menyabdakan, “Seorang mukmin yang bergaul dengan banyak orang, lalu ia sabar dengan tindakan mereka yang menyakitkan, maka itu lebih baik daripada orang yang tidak pernah bergaul dengan orang banyak dan ia tak bisa bersabar dengan tindakan mereka.” Ruang-ruang yang tidak ideal itulah, yang harus dimasuki, bukan dihindari. Di sana adalah medan amal terluas yang menghajatkan kesabaran untuk berkorban.

Jiwa yang kokoh, selalu ada keyakinan bahwa kesabaranlah yang akan menjadi saksi pengorbanan. Maka sesungguhnya dalam lingkungan yang tidak ideal, kita benar-benar dididik tentang hakikat kesabaran. Ada banyak kesabaran yang tidak bisa kita dapati di lingkungan yang ideal saja. Seperti Sayyid Quthb mengungkapkannya, “Sabar mesti ada dala semua ini, sabar mesti ada dalam melaksanakan ketaatan, dalam menahan diri dari kemaksiatan, dalam memerangi orang-orang yang menentang Allah, dalam menghadapi muslihat yang beragam coraknya, dalam menanti lamanya datangnya pertolongan, dalam menanggung lamanya keletihan, dalam mengenyahkan kebatilan, dalam sedikitnya penolong, dalam panjangnya jalan berduri, dalam menghadapi kebengkokan jiwa, kesesatan hati, kepayahan penentangan, dan terobeknya kehormatan.” Maka di lingkungan yang tidak ideal itulah, kita diminta untuk bersabar menyeluruh untuk mengubahnya, menjadikannya ideal.

Rasa malu sering kali mengetuk hati. Malu karena betapa jauhnya diri ini dari kesabaran. Malu karena keimanan pun berlubang-lubang ketika ketidaksabaran masih mengisi jiwa dan tingkah laku. Di saat keimanan, separuhnya adalah sabar, dan separuh sisanya adalah syukur. Terlebih jika mengingat, dalam Q.S. an Nahl: 125 Allah telah dengan sangat jelas mengajari kita bagaimana sikap kesabaran di lingkungan yang tidak ideal bagi kita, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” Dan menyemangati kita, “Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” Masih adakah sisa ruang untuk perasaan tidak sabar sementara Allah telah membimbing kita dalam petunjuk?

Akhirnya, sabar artinya menahan. Semoga di sepanjang perjalanan hidup kita, di saat ringan dan berat, di lingkungan yang ideal atau sebaliknya, kita dapat terus menahan dari rasa gelisah, cemas, amarah, keluh kesah, dan keburukan. Mencoba untuk tetap tersenyum..

10 April 2010
Akhir-akhir ini nampaknya sudah mulai sering tidak sabar, saat lingkungan tak semudah dulu. Ingin menjadikan detik-detik ini sebagai momentum peningkatan kapasitas kesabaran..

Jika pada Akhirnya Kota Ini yang Tertakdir

Jakarta. Inilah kota yang hampir selalu saya datangi dalam beberapa perjalanan terakhir. Juga kota yang paling sering saya kunjungi selama berkecimpung pada organisasi kemahasiswaan empat tahun terakhir. Setidaknya sekedar menjadi transit sebelum melanjutkan perjalanan menuju kota selanjutnya. Tentu ada sekian alasan yang tak perlu saya sebut berpanjang-panjang. Jakarta sebagai pusat negeri ini tentu sudah merangkum sekian alasan tersebut; pasar bagi pedagang-pedagang kecil, lowongan bagi sarjana-sarjana baru, singgahan bagi pejalan-pejalan berbagai kota, dan lain-lain. Saya yakin anda lebih banyak tahu dibanding saya yang hanya sekilas tahu.

Namun izinkan saya menyebutnya sebagai alasan yang memaksa. Apa sebab? Dari sekian alasan tersebut, jika diperkenankan jujur, buat saya tak ada yang terbangun oleh kehendak orisinil dalam hati. Lebih cenderung pada keterpaksaan daripada ketertarikan. Hehe. Berikut ini uraian dari apa yang ingin saya jelaskan. Berangkat dari apa-apa yang menarik buat saya. Inspiratif? Sepanjang pesisir pantura sebagai kampung halaman bagaimanapun masih tidak tergantikan inspirasinya. Indah? Payakumbuah dengan berbukitnya ditambah keramahan warganya mencatatkan kesan indah tidak ada tandingan. Teduh? Malang dengan keteraturan tata kotanya ditambah kesejukan hawanya menuliskan rasa teduh tidak ada saingan. Tentram? Jogja bagaimanapun menjadi kota cinta paling menawan yang senantiasa dirindu saat nanti pulang. Menyemangati untuk belajar, menulis, dan berkarya. Juga menghangat untuk beristirahat dan memulihkan kembali energi dan menumbuhkan visi. Lalu Jakarta? Ah, saya tidak tahu. Atau boleh jadi saya belum tahu saja. Kini saya terharus mulai belajar untuk tahu. Bukan untuk sekedar berkompromi dengan keterpaksaan yang melingkupi alasannya, namun terus menggali alasan yang lebih tinggi dari sekedar keterpaksaan itu.

Bagaimanapun, tetap pada akhirnya saya mulai bersiap menyusun rencana-rencana tentang kota ini. Juga mulai belajar tentang keseharian di sini. Itu andai Allah izinkan tertakdir, maka akan lebih banyak lagi insya Allah. Mengapa? Saya ingat-ingat, memang lahan amal yang saya tuju dalam jangka pendek ini semuanya ada di kota ini; mulai lari konsultan bisnis, perbankan, sampai dengan pemerintahan. Semua surat lamaran yang pernah saya susun bermuara di kota ini. Dan nantinya, saya juga belum tahu akan memijak di sudut mana dari kota ini. Yang pasti, dalam pekan ini saya merasa telah memulainya dengan baik sangka dan semangat dari sudut sini; Salemba. Ada banyak pelajaran yang Allah hadirkan selama empat hari ini.

Masih berhubungan, pernah ada bincang yang terkenang. “Aku berdo’a,” ujar seorang sahabat, “Allah, tingkatkan kapasitas diriku.” Dia mengambil jeda sehelaan nafas. “Engkau tahu apa yang Allah takdirkan?” tanyanya retoris. Saya masih saja tersunyi mendengarkannya. “Ya,” ia jawab tanyanya dengan mantap, “Allah takdirkan aku bekerja di tempat yang sangat menyulitkan dan tidak mengenakkan!” Saya pun tersenyum mendengarnya. “Aku tahu,” sambut saya bersemangat, “apa yang engkau ingin jelaskan.” Mengiringi kisah itu, pernah ada tertulis pengingat yang disampaikan sahabat-sahabat alumni lembaga akademis sebagai pembuka dalam risalahnya; “Ketika kumohon pada Allah kekuatan, Allah memberiku kesulitan, agar menjadi kuat. Ketika kumohon pada Allah kebijaksanaan, Allah memberiku masalah, untuk bisa kupecahkan. Karena Allah Rabb Yang Maha Tahu apa yang saat ini kubutuhkan.”

Apa artinya? Jika pada akhirnya kota ini yang tertakdir, boleh jadi Allah telah siapkan pelajaran demi pelajaran yang sejatinya menumbuhkan, mengembangkan, dan memberdayakan kapasitas saya. Ini yang pada akhirnya mulai kupelajari dan kufahami dalam lapang hati dan sepenuh kesadaran. Ketika dahulu saya pernah berujar, tidak hendak ke Jakarta dikarenakan kerasnya perjuangan yang harus dihadapi. Kini saya begitu bersemangat mendatanginya, sebab dari kerasnya perjuangan saya terbayang akan belajar untuk lebih kuat, lebih bijaksana, lebih berani, dan lebih dekat menghajatNya. Di sana saya bersiap menyambut dengan sangka baik sebab Allah Yang Maha Tahu, lalu beramal yang terbaik sebab itu yang membedakan seseorang dengan lainnya. Jika pada akhirnya kota ini yang tertakdir.

Jazaakumullaahu khairan katsiiraan, untuk saudara-saudaraku yang kuncintai karena Allah; Akh Andrie Javs serta keluarga –pakdhe dan budhe, serta ibu kos- yang sepetak kamarnya menjadi rumah berpulang saat hari memetang selama empat hari ini. “Salemba begitu inspiratif!” Akh Pugo yang rela menerobos Jakarta di tengah malam sekedar untuk menjemput saya yang telantar sebab banjir. “Ternyata begini ya Jakarta itu?” Akh Fauzul yang berbagi makan siang dan bersedia diganggu sejenak jam kerjanya. “Belum jadi futsal, kita jadwalkan lain kesempatan..” Dan juga Akh Subhan yang membersamai perjalanan dan perjuangan, serta menutup setiap kekurangan saya jika harus membayar-bayar. “Mari terus berjuang!”

——–
Sleman, 30 Oktober 2010
Catatan sepulang dari Salemba, menulis di bawah guyuran hujan abu pagi ini.

Sepotong Lembaran Peta Hidup

Ketika mempersiapkan perjalanan dan perbekalan (buku bacaan ketika nanti di Kereta Api), saya menemukan kembali beberapa lembar kertas yang mengembalikan ingatan saya. Ah iya, ini catatan peta hidup yang pernah saya susun beberapa tahun silam. Terkenang, ada inspirasi dari peta hidup Fahri ibn Abdullah Shiddiq dalam novel Ayat-Ayat Cinta. Saya cermati kembali, apa-apa yang tertoreh dalam lembar kertas itu.

Ada semangat yang terbaharui. Setidaknya untuk melengkapi ketertinggalam-ketertinggalan yang disebabkan oleh terabaikannya peta hidup tersebut dalam beberapa tahun terakhir ini. Tentunya juga, alhamdulillah, saya tidak tertinggal jauh-jauh amat. Belum terlewat, namun harus berlari lebih cepat. Misalkan saja di sana tercatat, saya menargetkan meraih sarjana pada usia 21 satu, alhamdulillah terpenuhi. Namun kapasitas bahasa asing dan hafalan masih harus dikejar. Ah, cukuplah. Setelah kata namun, pasti membuat saya menjadi malu, akibat akan terlalu panjang yang tertulis setelahnya. Mohon maaf, saya alihkan ya. Kita bincangkan tentang perjalanan saya kali ini.

Peta hidup yang saya temukan kembali tersebut memang sangat berkaitan dengan perjalanan saya kali ini. Insyaallah, dalam tiga pekan ke depan, saya akan sering bolak-balik Tugu-Pasar Senen untuk mengikuti beberapa tes seleksi kerja. Ada Kementrian Perdagangan, LIPI atau Kementrian Riset dan Teknologi (saya menggunakan atau karena jadwal tes bersamaan, jadi saya harus memilih salah satu), dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Saya berdo’a, semoga salah satu di antaranya menjadi tempat terbaik buat saya. Dan kalaupun tidak di antaranya, semoga segera diberikan tempat yang terbaik itu. Baik, mengapa saya katakan sangat berkaitan dengan peta hidup? Ya, bisa ditebak. Makanya saya tidak akan berbicara banyak. Sebagaimana yang jamak terjadi, setelah tahapan kuliah diselesaikan, tahapan berikutnya adalah kerja. Hehe.

Sudah dulu ya, saya ada janji bertemu seseorang ashar nanti. Ada hal penting. Sekarang saya mau siap-siap. Mohon do’anya dari sahabat saya sekalian agar peta hidup dan perjalanan senantiasa beriring kebaikan dan keberkahan.

“Usia 33 ibadah haji bersama istri, usia 28 menyabet gelar master (bersama istri), dan yang paling dekat, yang harus dikejar cepaat-cepat, usia 22 –sekarang- kerja dan menulis buku. Insyaallah masih bisa! ;)” (Peta Hidup, Aditya Rangga Yogatama)

——–
8 Agustus 2010, 14:15
Catatan sebelum keberangkatan ke Jakarta senja nanti.

Sejernih Dakwah, Sehangat Ukhuwah, Sesegar Amal Ilmiah

Saya melihat seluruh KSEI (Kelompok Studi Ekonomi Islam) yang tergabung dalam FoSSEI (Forum Silaturahim Studi Ekonomi Islam) sebagai skesta kegemilangan masa depan. Semoga ini bukan berlebihan, namun semata-mata sebuah keyakinan yang terangkum oleh setumpuk alasan. Mengapa? Lihatlah, di sana berkumpul calon pemimpin muda masa depan yang senantiasa mengajarkan dan belajar, mengikhtiyarkan perubahan, serta membiasakan keshalihan, dalam kebersamaan yang saling menjaga dan menguatkan. Di sana ada visi yang besar dipancang sebagai penunjuk arah perjalanan. Di sana ada semangat yang tak pernah surut dipelihara sebagai pelipat ganda energi. Di sana ada kepekaan yang sedalam jiwa diresap sebagai pemantik gemuruh nurani. Dan di sana ada penataan yang teratur dibangun sebagai kokohnya strategi. Keempatnya –visi, semangat, kepekaan, dan penataan- tersimpul dalam naungan cita-cita mulia; rahmatan lil ‘alamin. Begitulah mereka, mengikhtiyarkan peradaban madani dengan membumikan ekonomi islam mulai dari diri, keluarga, lalu masyarakat terdekat.

Bersama dengan itu, ada karakteristik-karakteristik yang mencelup dan mewarnai kesehariannya. Ada kejernihan dakwah, yang setiap detik dan ruangnya menyeru kepada Allah, berpegang kepada Al Qur’an dan Al Hadits, meneladani akhlaq Rasulullah. Ada kehangatan ukhuwah, yang menjadi pengingat di kala terlupa dan penyemangat di kala terlemah, dan hamparan terlapang untuk membiasakan baik sangka pada sesama. Dan tentu saja, ada kesegaran amal ilmiah, yang senantiasa menemukan hal-hal baru oleh tadabbur dan asahnya fikir agar menjadi pemantik hidayah yang mudah diterima logika siapa saja. Ketiganya –dakwah, ukhuwah, amal ilmiah- menjadi sebuah rerangka gerak yang senantiasa bertumbuh, berkembang, dan menggerakkan sehingga cita-cita mulia itu perlahan tertampak. Ya, pertama kali tertampak pada laku mereka yg dekat dengan Allah, shalih, jujur, dan pembelajar. Laku mereka, adalah celupan akhlaq diri yang sejuk menginspirasi sekitarnya, seiring kredo yang acap terseru: “berbagi berkah bersama ekonomi syariah”.

Saudaraku sekalian di jalan perjuangan ekonomi islam, suatu saat kita akan temukan godaan yang meminta untuk berhenti dari perjalanan dakwah ini. Di depan sana, akan ada kesulitan-kesulitan dan sekian banyak alasan –lelah, susah, payah, jemu, kecewa- yang terselinap dalam hati mengajak untuk mengeluh dan berputus asa. Oleh karena itu, mari kita jaga ruh-ruh dakwah yang telah kita bina sejak kita menginjakkan kaki di jalan ini pertama kali, sehingga tak sedikitpun tergoyah. Semoga kita pun tidak terlalai pesan itu, “ashlih nafsaka wad’u ghairaka.” Inilah alur yang mampu menjaga dakwah kita; perbaiki dirimu, dan ajak yang selainmu. Artinya, dakwah ini menghajatkan kita mulai dari diri. Pertama, kita persiapkan diri kita agar menjadi sebaik-baik pribadi yang siap berdakwah; mengikhtiyarkan kebaikan pada diri dan sesama. Menjadi pribadi yang senantiasa berikhtiyar mendekat dengan Allah, senantiasa mencintai ilmu dan beramal dengan ilmunya, serta senantiasa tertata dan terjaga dalam kesehariannya. Selanjutnya, dalam ruang kebersamaan dengan selainnya berusaha menjadi pribadi yang menyuburka iklim saling menasihati (tausyiah) dan saling musyawarah (syura’). Hingga dakwah ini terasa sejuk dan akrab.

Saudaraku sekalian, kita senantiasa merindukan keberkahan dalam amal-amal kita. Maka iman dan taqwa menjadi bekal yang harus selalu kita bawa. Agar amal-amal kita, menjadi amal shalih –bukan amal salah-, bernilai tercatat, dan menjadi tebaran kebaikan yang tak putus. Akhirnya, teruslah berjuang saudaraku! Salam dan do’a untuk kebersamaan, persaudaraan, dan perjuangan, dari saya untuk Antum sekalian. SalamuLlaahi ‘alaikum. BaarakaLlaahufiikum jami’aa… []

Aditya Rangga Yogatama
Majelis Pertimbangan FoSSEI Nasional 2010-2012
Presidium Nasional FoSSEI 2008-2010
Mahasiswa Ilmu Ekonomi UGM 2005-2009

————-

04 September 2010
Dari tulisan yang saya persiapkan untuk memenuhi permintaan teman-teman FRESH STAIN Surakarta sebagai materi buletinnya. Semoga menjadi penasihat, pengingat, penyemangat, dan pemantik kebaikan pada masa-masa. Semoga bermanfaat.. ;)

Barakah; Do’a yang Merangkum Seluruh Kebaikan

Barakah. Begitulah seuntai do’a yang sering kita mohonkan kepada saudara kita. Juga yang lebih sering dimohonkan saudara untuk kita. Sungguh kalau kita tahu, ada makna dan rasa kebaikan yang tak pernah berputus di dalamnya. Bahkan, memohonkan barakah ini lebih dianjurkan dari do’a yang biasa diucap; Semoga sukses! Semoga lancar! Juga, semoga sakinah! Sebagaimana ‘Uqail ibn Abi Thalib, ketika merasai gundah mendengar do’a-do’a kawan-kawannya. Lalu ia mengingatkan pada sebuah sunnah yang indah, tentang do’a Sang Nabi; Baarakallaah.. Semoga Allah karuniakan barakah..

Di antara sekian banyak, barakah salah satunya diartikan sebagai ziyadatul khair ‘alal khair. Barakah adalah bertambahnya kebaikan atas kebaikan. Di sini kita melihat hubungan antara barakah dengan kebaikan. Bahwa barakah itu hanya untuk kebaikan, sehingga kebaikan itu bertambah. Menjadi tepat ketika do’a barakah itu dimohonkan untuk mereka yang menuntut ilmu, mengkhtiyarkan amal shalih, menikah, bekerja mencari nafkah, dan kebaikan-kebaikan lainnya. Namun tidak ada do’a barakah untuk mereka yang membung-buang waktu, dan terlebih yang bermakshiyat. Ya, tidak ada do’a semacam; Semoga berjudinya berkah ya! Juga, semoga gosipnya berkah ya!

Selanjutnya, mari kita menilik mushhaf al Qur’an kita, surat ke enam puluh tujuh; al Mulk. Surat ini, dalam sebuah riwayat juga disebut Sang Nabi dengan at Tabarak. Mengapa? Karena surat ini dimulai dengan kata “tabaraka”. Kalau kita lihat dalam terjemahan, kata ini diartikan dengan Maha Suci. Ya, sebenarnya tidak salah, namun ada yang lebih tepat digunakan mengartikannya. Tabaraka, artinya adalah Maha Berkah. Atau, Maha Agung dan Maha Banyak Kebaikannya. Di sini kita memahami, bahwa barakah itu adanya pada Allah. Nah, kalau kita menginginkan kebaikan, maka kita harus mendatangi sumber kebaikan; Allah. Oleh karena itu, mengikhtiyarkan kebaikan tentu saja menghajatkan keikhlasan kita kembali kepada Allah. Dan kembali kepada Allah, paling mula adalah mengimaninya, dengan iman tanpa syarat.

Ah, di sini kita menemukan satu keterkaitan indah; antara barakah dan iman. Dan Allah telah membenarkannya dengan jelas tertulis. Baik, sejenak coba kita balik mushhaf yang kita buka, menuju halaman lebih awal, di surat ke enam ayat sembilan puluh enam; “Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka barakah dari langit dan bumi..” Begitulah, barakah, kebaikan di atas kebaikan, kuncinya adalah keimanan dan ketakwaan. Iman, yang sepenuh yakin, inilah yang menghadirkan ketakwaaan pada diri pemiliknya. Iman sejati, iman tanpa syarat, sebagaimana kata Sang Nabi, ibarat pohon yang akarnya menghujam kokoh dalam tanah.

Barakah artinya bertambahnya kebaikan atas kebaikan. Sungguh kalau kita tahu, ada makna dan rasa kebaikan yang tak pernah berputus di dalamnya. Bahwa kebaikan itu bersambung dengan kebaikan-kebaikan lainnya agar tetap hidup dan dirasakan buahnya. “Adalah tidak wajar,” demikian kata Ustadz Syatori dalam sebuah kesempatan, “jika ada seorang yang paling shabar, namun dia juga menjadi seorang yang paling kikir.” Artinya, kebaikan shabar itu tidak sedang bersambung dengan kebaikan-kebaikan lainnya. Ya, menjadi aneh jika kesabaran bersanding dengan kekikiran. Kebaikan bergandengan dengan keburukan. “Boleh jadi”, beliau melanjutkan, “kebaikannya layu kemudian mengering, karena telah jatuh terlepas dari dahan dan pohonnya.” Sungguh, satu kebaikan itu begitu berharga, jika senantiasa dijaga oleh kebaikan-kebaikan lainnya, dalam ruang-ruang suasana kebaikan.

Lalu, dari sana kita memahami kaidah ini; Baik dalam sebagian adalah baik dalam keseluruhan, karena semua kebaikan berada dalam satu ruang yang sama. Logikanya, kalau seseorang memasuki masjid, insyaallah dia akan bertemu dengan orang-orang shalih di dalamnya. Artinya, kalau seseorang sudah memasuki ruang kebaikan, maka dia akan bertemu dengan semua kebaikan. Konsekuensinya, seseorang yang memiliki satu kebaikan secara sempurna, maka akan sempurnalah seluruh kebaikan padanya. Ini mengingatkan, tentang sejauh mana kita fokus pada kebaikan yang sudah ada pada diri kita. Kita sempurnakan satu kebaikan itu, berangkat dari iman sejati, insyaallah sempurnalah seluruh kebaikan pada kita. Inilah barakah.. Allahuma amin..

Wallahua’lam bish shawwab.

Minomartani, 12 Agustus 2010
Baarakallaahu laka, wa baarakallaahu ‘alaika..

Waiting Means Preparing: Berkaca pada Sang Pejalan yang Menanti Kereta

Waiting means preparing. Saya merasa diingatkan dengan begitu santun tentang pemahaman tersebut, ketika seorang Akh berkisah tentang seorang pejalan yang menanti kereta di sebuah stasiun. Sebagaimana saya –bukan kita, agar lebih kontemplatif dan untuk menekankan pada mendidik diri- juga seorang pejalan yang menempuh jalan kehidupan, ada masa untuk menumpang kereta. Ada begitu banyak hikmah kehidupan yang dapat dipetik dari kisahnya.

Di awal akan ada tanya tentang mengapa harus menumpang kereta? Ya, karena ada masa ketika saya harus berjalan dengan lebih cepat, agar segera melahirkan karya-karya yang besar. Bisa jadi dengan berjalan kaki saja, saya akan membutuhkan banyak waktu untuk meraihnya. Atau bisa jadi malah, saya tidak akan pernah meraihnya karena sudah begitu lelah dan hilang arah di perjalanan. Sesungguhnya waktu terlalu singkat jika harus ditempuh dengan berjalan kaki saja. Artinya, perjalanan kehidupan terlalu sayang untuk ditempuh dengan seadanya dan melewatkan sekian banyak kesempatan untuk karya-karya besar itu.

Nah, selanjutnya, ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar perjalanan kehidupan tidak menjadi seadanya. Inilah beberapa hal tersebut, dari kisah ketika saya hendak menumpang kereta. Pertama, saya harus menentukan tujuan perjalanan dan bagaimana cara terbaik menempuhnya. Ketika saya ingin ke Jogja, saya harus sudah tahu di mana Jogja, setidaknya tahu ke arah mana menujunya, dan memilih cara cara terbaik menuju ke sana. Mau dengan kereta eksekutif, bisnis, atau ekonomi, serta jenis yang mana. Dalam menempuh perjalanan kehidupan, juga dimulai dengan menentukan sebuah tujuan. Akan sangat panjang dan dalam membahas tujuan kehidupan ini. Sederhananya, ada secarik kisah tentang cita-cita saya yang ingin mengambil program master. Saya harus menentukan mau mengambil program master di mana, memiliki gambaran yang jelas tentangnya, hingga mengetahui jalur mana dan bagaimana menujunya.

Kedua, saya harus mengetahui kapan dan di mana kereta akan berangkat dan menantinya di sana sejak sebelum keberangkatan. Stasiun! Ya, saya harus bersiap di stasiun. Saya harus tahu jadwal keberangkatan, di mana letak stasiun, dan segera menuju ke sana. Bagaimanapun, hidup juga akan berbicara dengan batas waktu. Ada masa ketika saya sudah harus bersiap ketika sampai pada batas-batas kehidupan, entah yang saya tentukan sendiri ataukan yang sudah ditentukan dengan lingkungan. Jika sekali saja melewatkan satu batas waktu tidak seperti rencana, maka akan ada banyak rencana yang harus disusun ulang untuk menyesuaikan. Dan menyesuaikan ini, sering kali lebih menghabiskan segalanya; pikiran, tenaga, waktu, hingga materi. Ah, bagaimana jadinya, ketika saya tiba di stasiun kereta sementara kereta baru saja melaju berangkat? Atau bagaimana jadinya, ketika saya menanti di stasiun yang salah? Bagaimana jadinya, ketika kita sudah harus bekerja dan menikah? Jadinya, sing tuku ra teka-teka, sing teka ra tuku-tuku. Artinya, ya nggak akan ketemu. Saya harus mengetahui tempat bertemu dan batas waktu, lalu berusaha agar datang tepat waktu.

Ketiga, saya harus membeli tiket untuk menumpang kereta. Inilah yang sering kali menjadi penentu, berangkat atau tidaknya. Bayangkan, ketika saya sudah siap di stasiun dengan segala bekal yang saya bawa, di tepi rel kereta di mana kereta saya akan lewat. Ibaratnya, tinggal menunggu kereta lewat saja, lalu berangkat. Namun, bagaimana ketika saya belum memiliki tiket? Saat itu, kesiapan saya dengan segala perbekalannya, berhentinya kereta menunggu penumpangnya yang sudah berada di hadapan saya, tidak akan berarti. Saya tetap tidak bisa menginjakkan kaki di kereta karena tidak membawa tiket. Selanjutnya, akan tiba waktunya kereta berangkat kembali, meninggalkan saya tetap di tepi rel yang sama. Ini yang menyedihkan! Saya harus dengan lapang memandangi mereka yang telah berangkat bersama kereta, mendahului saya. Ya, kali ini memang saya harus berbicara tentang kesiapan kualifikasi. Ialah yang menjadi penentu akhir, apakah kita bisa berangkat dengan tepat waktu. Dan hidup ini meminta saya untuk memenuhi kualifikasi-kualifikasi tertentu agar dapat terus berjalan dengan lebih cepat. Mudahnya, kalau saya sudah memegang tiket sejak awal, setidaknya sudah ada jaminan bahwa saya bisa menumpang di kereta, dan tinggal menunggu sambil menyiapkan kesiapan lainnya. Begitu juga, kalau saya sudah memegang ijazah, trakskrip nilai akademik, dan sertifikat bahasa asing dengan nilai yang memuaskan! Tinggal menunggu sambil menyiapkan kesiapan lainnya; pengalaman, jaringan, dan penunjang lainnya. Begitulah, kesiapan pun memiliki prioritas.

Keempat, saya harus menyiapkan bekal yang dibutuhkan selama perjalanan. Terlebih jika saya telah memahami bahwa perjalanan ini panjang. Setidaknya saya sudah harus menyiapkan minuman dan makanan kecil yang dapat dikemil sepanjang perjalanan. Atau buku yang dapat saya baca untuk mengisi waktu-waktu luang sepanjang perjalanan. Juga buku catatan yang menjadi tempat saya mencorat-coret menuangkan gagasan dan rencana selanjutnya. Tentu saja, saya juga harus menyiapkan kebaikan dan sikap santun kepada mereka yang duduk di samping saya, agar dapat menikmati perjalanan dengan nyaman karena rasa kebersamaan dan saling menghargai. Ya, ini artinya, perjalanan kehidupan pun membutuhkan kemandirian dan akhlaq yang baik terhadap sesama. Saya harus memahami, inilah bekal terbaik saya, dalam menempuh perjalanan, setelah berada di atas kereta yang melaju. Tiket, menjadi syarat agar saya dapat menaiki kereta dan terus melanjutkan perjalanan, sementara kemandirian dan akhlaq inilah yang menjadikan perjalanan saya nantinya indah dan berarti; bagi saya, juga bagi mereka yang di sekitar saya. Kemandirian dan akhlaq ini juga yang menjadi oleh-oleh terbaik untuk tempat yang saya tuju.

Nampak keempatnya menyimpul dalam satu kata: kesiapan. Kesiapan untuk menempuh perjalanan, perjalanan hidup. Ia menghajatkan tujuan, pengetahuan, kualifikasi, dan bekal terbaik. Akan berat dan tidak nikmat rasanya jika saya menempuh perjalanan hidup ini tidak dengan kesiapan keempatnya. Lalu ingatan saya tertuju pada masa-masa yang biasanya dilalaikan, masa-masa menunggu. Maka mereka yang telah memahami hakikat perjalanan, akan menjadikan masa menunggu –masa ketika kita menunggu takdir selanjutnya, dan Allah menunggu kemapanan kita- sebagai masa mempersiapkan. Inilah ketika saya terus berusaha memahami dalam amal, waiting means preparing. Wallahua’lam. Mohon do’a dan pengingat Antum sekalian ya..

Minomartani, 15 Juli 2010
When I shall keep focuss on my dreams.