Narasi Makna: Ketika Titik Demi Titik Terhubung

Ketika memulai menulis catatan ini, saya tiba-tiba saja penasaran untuk membaca kembali catatan saya sebelumnya. Di tengah ketiadaan ide spesifik, paling mudah adalah meneruskan cerita kemarin, mengurai kembali bersesambung cita-cita, perjuangan, pengalaman, dan pembelajaran yang tak pernah mengenal istilah usai. Juga dalam keinsyafan kecil, bahwa makna yang ternarasi sampai hari ini tidak dapat dilepaskan dari sekumpulan panjang renungan-renungan tentang hari-hari semenjak itu. Hari-hari yang tanpa terasa hampir lima tahun berlalu.

Catatan saya yang dimuat dalam Sharing for Growing Together kurang lebih lima tahun silam, bercerita tentang simpulan-simpulan makna yang saya rasai selama membersamai Shariah Economics Forum (SEF) dan jejaringnya. Pada catatan tersebut, saya kisahkan SEF dengan begitu istimewa di hati. Sebab rasanya memang, sepanjang usia saya di Ilmu Ekonomi UGM (2005-2010) hampir sepenuhnya saya jalani bersama SEF, cita-citanya, juga semangatnya. Sebuah kebersamaan yang paling memberi warna; dalam segala pengalaman dan pembelajarannya, pada duka dan sukanya, di jatuh dan bangunnya, hingga menjadi salah satu bagian terpenting dalam perjalanan hidup saya. Ada sepuluh hal yang saya simpulkan di sana dan menjadi kerangka kehidupan yang tersusun lengkap di SEF. Sampai pada akhirnya, masa-masa setelah tidak lagi terlibat di SEF adalah perjalanan untuk menemukan kesepuluhnya kembali, tentu dengan jalan cerita yang berbeda, ujian yang tak sama, juga debaran-debaran yang tak serupa.

Kali ini, melanjutkan catatan sebelumnya, saya ingin berbagi tentang perjalanan gagasan yang tersimpul ketika menjalani masa-masa pasca kampus. Di penghujung catatan sebelumnya, saya menutup dengan sebuah do’a agar dipilihkan tempat paling berkah; Q.S. Al Mu’minun: 29. Masih ingat? Hingga akhirnya pada suatu titik saya merasa untuk tahu, bahwa tempat paling berkah itu, bahwa sebaik-baik tempat itu; tidak selalu tempat yang paling kita inginkan dan cita-citakan, tidak selalu tempat paling nyaman dan berlimpah kemudahan.

#01: Memetakan Pilihan

Pada masa-masa awal pasca kampus, barang kali hal yang paling membuat galau adalah menentukan pilihan profesi atau ranah kontribusi. Tentu, menjemput jodoh juga membuat galau, tetapi untuk kali ini hal tersebut kita asumsikan ceteris paribus dahulu. Bukan berarti mengabaikan atau menomorsekiankan, hanya untuk menyederhanakan pembahasan. Hehe.

Bagi mereka yang telah menyusun petanya, menentukan arahnya, dan mempersiapkan jauh-jauh hari sebelum mengakhiri statusnya sebagai mahasiswa, tentu pilihan profesi atau ranah kontribusi (juga jodoh) tidak akan menjadi persoalan serius. Banyak teman-teman saya yang sesukses itu ceritanya. Sementara bagi seseorang seperti saya, yang terbiasa mengalir dalam menjalani hidup, menikmati segala ketidakpastiannya sebagai sesuatu yang silih berganti dihadapi, hingga kemudian enggan repot mempersiapkan ketika masih dianggap jauh; ada cerita menariknya sendiri. Dan memang, kecenderungan bagi seseorang yang tidak menyusun petanya adalah tanpa fokus, risiko terdekatnya adalah abai mempersiapkan, serta konsekuensi terbesarnya adalah keterbatasan. Tanpa fokus, berbagai hal akan mudah ditempuh, agaknya layak disebut tanpa prioritas, dan pada akhirnya bisa jadi tidak ada yang tuntas satu pun. Tiadanya persiapan dan konsekuensi keterbatasan sering kali meminta kita harus tetap memilih di saat tidak ada pilihan. Dan berulang lagi, semua peluang yang terbentang akan dicoba dan berharap yang terpilih nanti adalah pilihan paling tepat.

Bagaimanapun, dalam ketiadaan pilihan yang benar-benar mudah, kita tetap harus memilih dengan pertimbangan yang utuh. Bukan sebab pilihan itu yang terbaik, tetapi pilihan yang kita telah siap dengan risiko dan konsekuensinya. Hingga kita sampai pada pilihan yang tepat dan realistis untuk saat itu, serta kita yakin akan mampu mencintai pilihan tersebut sepenuhnya. Pertimbangan utama saat itu, pilihan profesi yang dekat dengan dunia akademis (relevan dengan Ilmu Ekonomi) dan penelitian. Beberapa lembaga yang saya lamar, antara lain: Karim Bussiness Consulting (KBC), Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan, Kementerian Perindustrian, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), dan Kementerian Perdagangan. Kalau tidak salah, hanya itu. AlhamduliLllah, salah satu di antaranya, yang disebut terakhir, berkenan menerima lamaran saya.

Setidaknya dari sini ada pelajaran; bahwa kecenderungan itu sejatinya dapat dibaca. Kecenderungan apapun. Tidak, saya tidak sedang berbicara tentang psikologi, ini hanya soal peluang dalam statistika paling dasar. Di antara sekian lembaga yang saya lamar, hampir kesemuanya ada di ranah birokrasi. Maka sesungguhnya, sejak awal saya seharusnya telah menyadari bahwa pilihan profesi saya ada di ranah birokrasi. Tidak di swasta, tidak di sektor ketiga, tidak pula di kampus.

#02: Belajar Menyelam

Hari-hari awal aktivitas saya di Kementerian Perdagangan saya jalani dengan lebih banyak diam dan menyimak, juga menebak-nebak. Saat itu saya berpikir untuk tidak bersegera mengambil simpulan, sebelum mengerti baik-baik apa yang terjadi di dalamnya. Saya mulai memasuki ruang-ruang di kementerian tersebut dengan kesadaran bahwa saya seorang yang belum mengerti, sehingga waktu-waktu yang dilalui sepenuhnya adalah waktu untuk belajar dan memahami segala sesuatu yang ada di sana. Tentu, dalam proses tersebut pun ada saja godaannya. Tak jarang, ada saatnya jiwa bergejolak dan emosi membuncah, tetapi kesadaran bahwa saya seorang yang masih belum paham, menahan diri saya agar diam terus menyimak. Di saat semacam itu, seolah-olah ada yang berbisik di dalam hati, “Tugasmu hanya mengamati.”

Salah satu perasaan berat yang pernah saya jalani adalah ketika ditempatkan tidak sesuai dengan profesi yang saya pilih. Saya yang memilih profesi sebagai seorang perencana, sempat lebih banyak diminta untuk mengurusi keuangan dan perlengkapan yang kesemuanya administratif. Betapa menjemukan! Apalagi ketika teman-teman yang lain diminta mengerjakan hal substantif, semisal menyusun bahan kajian kebijakan perdagangan dan perkembangannya, sedangkan saya berpusing dengan mencatat jumlah barang dan harga, serta kuitansi, memerika persediaan, juga mengurus berbagai jenis administrasi transaksi.

Pernah ada saatnya, setelah hampir enam bulan bekerja, ada godaan untuk menyerah dan memutar arah. Jujur, pernah ada pikiran untuk resign di usia pekerjaan yang masih terbilang muda. Sepertinya, ketika itu hanya ada dua simpulan yang harus saya terima tanpa menunggu waktu lebih lama lagi. Pertama, saya tidak cocok dengan pekerjaan yang harus saya kerjakan. Kedua, sepertinya saya tidak dapat berkontribusi lebih jauh melalui ranah ini.

Hingga ketika saya sudah hampir dekat, sangat dekat dengan simpulan tersebut, titik balik itu terjadi. Saya yang pada awalnya berusaha untuk tidak bersegera mengambil simpulan, akhirnya menentukan simpulan. Bukan menyetujui dua simpulan tersebut di atas, melainkan sebaliknya. Pertama, saya akan memperjuangkan profesi saya. Kedua, sepertinya ada banyak celah kontribusi di ranah ini yang barangkali belum terpikirkan oleh orang lain. Dan menjadi kesimpulan saya sampai sejauh ini, saya tidak akan pernah berpikir untuk keluar dari sini karena saya merasa tidak nyaman. Di sini tempat saya berjuang, di sini tempat saya berpikir.

Saya jadi ingat ketika pada akhirnya saya mengambil keputusan untuk memasuki Kementerian Perdagangan di awal Desember 2010. Ketika itu, saya pernah bertanya kepada beberapa sosok. Berulang kali saya bertanya, lebih dari sekali saya tanyakan pada orang yang sama, bahkan masih terus saya tanyakan setelah kurang lebih enam bulan saya bekerja di sana. “Apa yang bisa saya lakukan di sana (Kementerian Perdagangan) nanti?” Dan jawabnya tidak jauh-jauh, “Masuklah terlebih dahulu, itu salah satu rizqi yang Allah karuniakan pada Antum. Nantinya Antum akan tahu kenapa Antum harus di sana.”

Hari pertama berlalu, bulan pertama berlalu, tahun pertama berlalu, sampai dengan hari ini kurang lebih empat tahun berlalu sejak pertanyaan itu pertama kali hadir. Sampai pada suatu titik, di mana saya menyadari bahwa jawaban itu sebetulnya tidak dari mereka, tetapi dari diri saya sendiri. Ya, boleh jadi memang saya yang harus menjawabnya sendiri. Setelah menempuh hari-hari sejak pertama kali memasukinya, terlibat di dalamnya, berinteraksi dengan mereka yang juga di dalamnya, dan menyelami sepanjang malam-malam dalam renungan paling dalam. Saat itu, saya memutuskan untuk tidak menanyakannya lagi, bahkan merasa harus membagi jawaban itu pada yang lain, seluas-luasnya.

#03: Memetik Makna

Sejujurnya ada banyak kegagalan yang saya temui. Salah satu di antaranya adalah ketika saya gagal melalui semester pertama kuliah saya, sehingga menjadi pemantik kegagalan-kegagalan lainnya. Tetapi jauh setelah itu, saya menemukan jalan cerita yang menarik. Jalan cerita yang mengantarkan saya pada makna lebih dalam.

Bersyukur kepada Allah, juga berterimakasih khususnya kepada Pak Gita Irawan Wirjawan selaku Menteri Perdagangan waktu itu (2012), yang entah beliau tahu atau tidak, telah mengalokasikan beasiswa sekolah untuk saya walaupun saat itu baru genap setengah tahun berstatus sebagai PNS. AlhamduliLlaah, saya dapat diterima dan dibiayai untuk melanjutkan sekolah di Program Pascasarjana Ilmu Ekonomi Universitas Indonesia. Melalui proses yang agak unik, saya termasuk satu di antara empat orang yang tidak dipersiapkan untuk menempuh program tersebut. Mengapa saya sebut tidak dipersiapkan? Sebab hampir semua yang mendapat sekolah telah mengikuti kursus Bahasa Inggris sejak berbulan-bulan sebelumnya. Ketika itu, saya nekad mengikuti proses seleksi program double-degree, karena kebertepatan program tersebut yang tersedia saat itu. Saya sebut nekad, karena saya tahu bahwa saat itu kemampuan bahasa asing saya terbatas, hanya bermodal prinsip; siap tidak siap urusan nanti, yang penting maju dulu!

Di semester pertama, bersama dengan euforia kembali ke kampus dan meninggalkan keruwetan di kantor, teriring empat target yang dikejar bersamaan di semester tersebut. Dua target pertama tidak perlu saya sebut di sini, dua target sisanya adalah IELTS minimal 6,5 dan IPK 3,5. Di satu semester itu, saya berusaha mengejar semuanya. Dan benar akhirnya, kenekadan saya tidak semudah dongeng. Hingga sampai pada waktu yang ditentukan, saya mengakui bahwa tidak satu pun target saya capai! Saya pun belajar menerima konsekuensi dari keempatnya, sebagaimana kemungkinan terburuk yang telah terbayang sebelumnya. Namun dari situlah makna demi makna dimulai.

Ada cerita yang berbelok, dengan belokan yang tidak terduga tetapi mengantarkan pada jalan cerita yang jauh lebih menarik dan bernilai. Singkatnya, kegagalan saya mengikuti program double-degree memberi kesempatan saya untuk bertemu dengan mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang belajar di berbagai negara melalui Simposium Internasional Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Bangkok, menyusuri Singapura-Kuala Lumpur-Melaka menyeksamai tatanan dan sejarahnya, mengunjungi dan membincang materi kepemimpinan di kampus-kampus sepanjang Indonesia melalui sejumlah Temu Wilayah, menuntaskan amanah di dalam negeri, memperbanyak waktu di kampus untuk berdialog dengan dosen senior dan dosen muda di kampus tersebut untuk belajar lebih dalam tentang motodologi riset, serta membersamai teman-teman seangkatan dalam melewati tesisnya.

Dua tahun berlalu, alhamduliLlaah, saya menyelesaikan sekolah di Universitas Indonesia tepat pada waktunya. Dan itu pun berarti, saya harus kembali ke kantor, mengambil sebuah peran strategis dan menghadapi tantangan-tantangannya. Seperti dahulu ketika pertama kali hadir di ruang-ruang ini, saya kembali menjadi seorang yang diam, menyimak, dan menebak-nebak. Di perjalanan ini, saya mulai banyak berbincang dengan sosok-sosok muda yang merasakan adanya masalah. Namun masih banyak di antara mereka yang berakhir dengan keluhan. Dan yang lainnya masih memilih diam. Ada yang bersikap keras, namun akhirnya terlepas. Ada yang bersikap lembut, namun tanpa sadar mulai terhanyut. Lalu, bagaimana dengan masalahnya?

Selama ini, kita menganggap masalahnya ada pada keadaan, sehingga penyelesaian masalah yang terusul tidak jauh-jauh dari mengubah keadaan. Sampai pada suatu titik, saya menemukan bahwa masalahnya ada pada sudut pandang yang membentuk cara berpikir. Keadaan yang terjadi, juga tindakan-tindakan yang dipilih, semuanya berawal dari sudut pandang. Maka keterlibatan kita di berbagai ranah pada akhirnya bukan untuk mengubah keadaan, tetapi mengubah cara pandang. Inilah yang harus menjadi titik tolak dalam dakwah. Ketika yang dihadapi sudah sedemikian rumitnya, saya benar-benar merasai bahwa dakwah harus dimulai dengan sikap paling sederhana, paling ringan. “Berilah maaf,” sebagaimana Allah ajarkan melalui Q.S. Al A’raaf: 19. Berilah maaf di sini termaknai luas; terimalah mereka apa adanya, maklumi kekurangan-kekurangan mereka, maafkanlah kesalahan-kesalahan mereka, jangan bebani mereka dengan yang tidak mereka sanggupi, jangan bicara pada mereka dengan yang mereka tidak mengeri. InsyaaLlaah, inilah yang akan menentukan sudut pandang dan mengarahkan cara berpikir.

#04: Memandang Ujung Jalan

Saya coba membandingkan gagasan-gagasan antara saat ini dengan masa-masa awal menempuh ranah profesi, lima tahun silam. Ada yang berubah? Tentu saja, tapi semoga tidak pada asasnya. Perubahan-perubahan sering kali menjadikan ingatan bahwa perjalanan yang dinamis memberikan berbagai cerita baru, pengalaman baru, cara pandang baru, semangat baru, juga kematangan baru. Kesemuanya itu menjadi bekal untuk menempuh kehidupan ke depan dalam jenjang yang lebih tinggi.

Pada akhirnya, sepanjang perjalanan hidup kita diisi dengan peristiwa demi peristiwa. Seringkali sebagian besar dari kita memandang dan menyimpulkannya masing-masing, terpisah satu sama lain. Tetapi apabila kita mau memahami bahwa sejatinya peristiwa-peristiwa tersebut saling terhubung, maka kita akan menemukan sebuah peta besar dan ketelusurannya. Sebuah peta besar yang akan membentuk sudut padang kita menjadi semakin luas, melihat hari-hari kemarin sepenuhnya menjadi pembelajaran, menatap jalan ke depan menjadi lebih jelas dan terarah, juga menemukan makna-makna perjalanan yang tidak akan dijumpai hanya dengan menyimpulkan dari satu peristiwa dipahami. Steve Jobs menyebutnya dengan connecting the dots. Ketika titik demi titik terhubung, di sanalah narasi makna. Ia akan menjadi bekal berharga dalam menempuh perjalanan panjang perjuangan di manapun ranahnya.

Tetaplah menghubungkan titik-titik dan membaginya dalam narasi.. []

Depok, 27 April 2015;

Tulisan ini khusus dipersiapkan untuk buku Share to Grow yang disusun oleh alumni SEF JMME.

Itsar; Puncak Tertinggi Ukhuwah

Sahabat sekalian, ukhuwah adalah hal terindah dalam kebersamaan kita dalam dakwah. Bersyukur kepada Allah atas kehadiran saudara di jalan Allah; yang salamnya kita rindu, nasihatnya kita tunggu, pun kita rasai do’anya tak pernah jemu. Lalu kita menjumpai seindah-indah ukhuwah, saat kita sampai di puncak tertingginya; itsar. Lebih dari sekedar ta’aruf, tafahum, juga takaful. Maka agar menjadi inspirasi, mari kita seksamai kisah tentang itsar dalam hijrahnya para sahabat dari Makkah ke Madinah dan disambut orang-orang Anshar, yang terabadi dalam Q.S. Al Hasyr: 9-10.

Dan orang-orang (Anshar) yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah ke tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (Muhajirin), atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang yang beruntung. (Q.S. Al Hasyr: 9)

Imam Jalaluddin As Suyuthi dalam Lubabun Nuqul fi Ashabin Nuzul menjelaskan tentang sebab turunnya ayat ini lewat sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Pada suatu saat RasuluLlah SAW kedatangan seorang tamu. Tamu itu menyatakan bahwa dia membutuhkan tempat menginap, makan malam, dan keperluan beberapa hari karena bekalnya sudah habis. RasuluLlah SAW bukanlah orang yang bisa menolak permintaan. Tetapi kalau kondisi beliau tidak memungkinkan untuk memenuhi permintaan seseorang, beliau akan menawarkan kepada para sahabat.

Maka ada seorang sahabat, Abu Thalhah, mengacungkan tangan, “Saya Yaa RasuluLlah.” Kemudian Abu Thalhah dipersilakanlah oleh RasuluLlah SAW untuk membawa tamu ini ke rumahnya. Selanjutnya AbuThalhah bermusyawarah dengan istrinya, Ummu Sulaim. Kata sang istri, “Kita tidak punya apa-apa. Hanya ada makanan, itupun hanya cukup untuk anak kita, satu porsi.” Kata Abu Thalhah, “Lakukan yang kuminta. Pura-puralah bahwa minyak kita habis sehingga lampu tidak dinyalakan untuk malam ini. Segera tidurkan anak-anak kita. Hidangkan makanan itu dalam sebuah piring untuk tamu kita dan hidangkan sebuah piring kosong untukku, akan kutemani dia makan.

Ketika tamu datang, kemudian Ummu Sulaim berpura-pura dan berkata, “Maaf, lampunya tidak bisa menyala, minyaknya sedang dicarikan.” Makanan disiapkan, tamu dijamu, sebuah piring kosong diletakkan di depan suaminya. Tamu itu makan dengan sangat lahap dan Abu Thalhah berpura-pura seolah-olah dia makan dengan mengerik piring kosong yang ada di hadapannya. Sampai selesai, tamu itu puas, tertidur lelap. Pagi harinya RasuluLlah SAW menemui Abu Thalhah dengan berseri-seri, kemudian berkata, “Allah SWT takjub kepada apa-apa yang kalian lakukan tadi malam.” Ayat tersebut turun.

…wa yu’tsiruuna ‘alaa anfusihim khashaashah.

Khashaashah, artinya hajat yang darurat, tidak mungkin tidak, kalau tidak dipenuhi bisa terjadi bahaya. Bahkan dalam kondisi yang membahayakan dirinya sendiri, mereka memilih untuk mendahulukan saudaranya. Inilah itsar; mendahulukan saudara kita di atas apa-apa yang kita hajatkan, meskipun kita sangat-sangat membutuhkannya. Itsar ini, menurut Imam Hasan Al Banna dalam salah satu risalahnya, adalah puncak ukhuwah.

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdo’a: “Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sungguh, Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang.” (Q.S. Al Hasyr: 10)

Pada sisi yang lain, batas terendah dari ukhuwah adalah salamatush shadr; lapang dada terhadap saudara sendiri. Selamatnya dada kita dari ghil; perasaan tidak enak, perasaan tidak nyaman, bibit-bibit menuju buruk sangka, iri, dengki, hasad. Maka dalam lanjutan ayat tentang itsar tersebut terteladankan do’a.

…walaa taj’al fii quluubinaa ghillalliladziina aamanu.

Ukhuwah dalam setinggi-tinggi maknanya, bersama seindah-indah rasanya, bagaimanapun akan ada ujian-ujiannya. Mari berjuang untuk menghadirkannya dalam kebersamaan kita agar menjadi pengokoh dan romantika perjuangan di jalan dakwah ini; dalam ikhtiyar dan do’a. ;) []

Barangkali Itulah Pintu Pahala Bagiku

“Sayangku…” Khalifah membuka pembicaraan dengan santun. “Engkau tahu, aku telah diuji dengan urusan yang besar.” Sang istri perlahan memandang kejernihan air muka Khalifah. Pandangan keduanya pun bertemu dalam kejujuran. Sejenak keduanya terdiam. Naungan cahaya temaram melukiskan nuansa keindahan di seluruh sudut malam itu.

“Jika engkau ingin,” Khalifah melanjutkan kata-katanya. Suaranya semakin lembut meresap dalam hati. “Engkau bisa memilih bersamaku tanpa jaminan apapun. Atau jika engkau mau,” Masih Khalifah melanjutkan. Bersamaan dengan nuansa keharuan semakin menenggelamkan keduanya. “Engkau bisa meninggalkanku sedangkan keadaan dan urusanmu terserah padamu.” Mata kedua insan yang diuji Allah berkaca-kaca, tak sanggup menahan keharuan yang begitu hebat. Keharuan karena merasakan begitu besar cinta Allah untuk keduanya, dengan ujian ini.

“Aku ikhlas, menyerahkan pilihan ini sepenuhnya padamu Sayangku…” Sang istri terdiam sunyi, mendengar kata-kata sang suami meminta jawaban. Ada pilihan bagi sang istri di saat perasaan hati tak menentu. Bisa jadi dia memperoleh kemudahan hidup di dunia ketika memilih yang pertama. Dan itu tidak mengapa karena Khalifah telah mengizinkan. Namun, sang istri memilih jalan lain. Jalan yang akan dilewati dengan penuh perjuangan dan pengorbanan, dan hanya akan dipilih oleh orang-orang tertentu saja. “Aku akan tetap tinggal bersamamu tanpa jaminan apapun. Barangkali itulah pintu pahala bagiku atau bisa membantumu…” Jawab sang istri shalihah Khalifah. Subhanallah, jawaban yang menguatkan Khalifah. Dia yakin bahwa tidak ada keimanan tanpa ujian. Tidak ada surga terindah tanpa ujian yang besar. Dan dia memilih menjalani ujian bersama sang suami. Hingga senyum sejuk kedua insan yang dicintai Allah ini menjadi penutup pembicaraan besar ini.

Begitulah, pilihan-pilihan itu hadir bagi sang istri, Fatimah, ketika Khalifah Umar ibn Abdul Aziz diuji dengan amanah yang besar. Semoga Allah menghadirkan sosok-sosok seperti Fatimah yang mengokohkan dan menguatkan dalam perjuangan ini. Sosok yang cerdas, sabar, dan sederhana. Sosok yang ketika ditanya, “Selama ini, kita telah menjalani cinta dengan kesyukuran yang melahirkan nikmatNya yang berlipat. Namun kini, siapkah engkau ketika yang Allah minta dalam perjalanan cinta kita adalah kesabaran?” Dia menjawab, “InsyaAllah Mas…”

————-
Ahad pagi, 22 Maret 2009
Terkenang kembali ketika masih berusaha memantapkan hati pada jalan yang telah dipilihkan. Urusanku adalah berjuang untuk sesempurna-sempurna taat, sebaik-baik akhlaq, dan sepenuh kesanggupan menunaikan amanah, tanpa syarat. Barangkali itulah pintu pahala bagiku…

Untukmu Relawan

————-

Beberapa tukang cukur dan tukang pijat hibahkan waktunya keliling barak-barak. Alangkah iri kita pada kebermanfaatan surgawi! #RenungRelawan

Seorang pedagang Gudheg sedekah dagangan sepekan penuh tuk sarapan pengungsi. Butir nasi, serpih nangka, bertasbih untuknya! #RenungRelawan

Seorang juru masak hotel berbintang ambil cuti 3 pekan untuk layani dapur umum barak. Aroma masakanmu pasti tercium di surga! #RenungRelawan

Seorang warga yang sedianya gelar walimah putrinya gunakan beras & semua anggaran tuk pengungsi. Anak kalian pengantin surga! #RenungRelawan

Seorang warga sederhana sediakan rumahnya nan berkamar 3 untuk tampung 100 orang. Istana surgamu pasti megah sekali Pak! #RenungRelawan

Seorang pedagang kecil ambil tabungan hajinya, sediakan makan pengungsi. Dengan berkaca kupeluk: Kau mabrur sebelum berhaji! #RenungRelawan

Melihat wajah kalian, bagaimana mungkin bisa nasehatkan kesabaran? Ia telah ada ketika kalian dipukul kehilangan nan dahsyat. #RenungRelawan

Bercermin. Jika di kaca itu tampak ketakpantasan, yang harus dibenahi justru kita nan lagi mematut diri, bukan sang bayangan. #RenungRelawan

Kesabaran telah tampak dalam hantaman pertama, ujar Sang Nabi. Yang selanjutnya tugas kita tuk berbagi dengan para terdampak. #RenungRelawan

Sebab semua ujian telah diukur kadarnya tuk tidak lampaui kesanggupan; maka yang diujiNya ialah kemauan, bukan kemampuan. #RenungRelawan

Setiap halangan di jalan kehidupan ditakdir ada tuk satu alasan sederhana: Mengetahui seberapa besar tekad kita melampauinya. #RenungRelawan

————-

Allah, ampuni kami atas segala gerisik hati yang merasa lebih, merasa telah membantu, padahal yang kami perbuat belum apa-apa. #DoaRelawan

Allah, ampuni kami sebab kadang harus memilih mana yang didahulukan sebab keterbatasan, padahal semua perlu dibantu. #DoaRelawan

Allah, ampuni kami hari ini sebab ada saja janji hari kemarin yang belum tertunaikan, dan itu pasti menyakiti. #DoaRelawan

Allah, ampuni kami hari ini yang tak bisa sepenuh hati hadirkan layanan terbaik, sebab ada saja kedirian yang terpikirkan. #DoaRelawan

Allah, ampuni kami hari ini yang tak bisa berlama-lama, padahal mereka masih perlukan telinga nan mendengar & hati nan memahami. #DoaRelawan

Allah, ampuni kami hari ini karena tidak semua tangis dan air mata bisa kami hiburkan tuk jadi senyum bahagia. #DoaRelawan

Allah, ampuni kami hari ini karena tidak semua bahu terguncang bisa kami tenangkan dengan pelukan hangat dan cinta tulus. #DoaRelawan

Allah, ampuni kami hari ini karena tidak semua panggilan yang penuh harap untuk dikunjungi, bisa kami datangi. #DoaRelawan

Allah, ampuni kami hari ini karena tidak semua permintaan bantuan yang kami terima bisa kami jawab, “Ya!” #DoaRelawan

————-

Saya rangkumkan dari twit Ust. Salim A. Fillah, semoga dapat menjadi penyemangat dan pengingat untuk para relawan yang ikhlas bekerja. Untuk inspirasi lebih banyak dan berkelanjutan, silakan follow di: http://twitter.com/safillah dan berkunjung ke blog beliau: http://www.safillah.co.cc. BaarakaLlaahufiikum.. ;)

Status FB Pak Cah

‎”Saya menyangka dia akan melamar saya, karena selama ini begitu perhatian kepada saya. Ternyata dia menikah dengan wanita lain. Betapa hancur hati saya”, sms seorang muslimah kepada saya, barusan. Maka ingat rumus yang sering saya berikan kepada para wanita lajang : JANGAN MEMASTIKAN SESUATU YANG BELUM PASTI. Inga’… inga’…..
(6 Oktober 2010)

‎”Karena belum pasti, jaga hati anda maksimal sampai perasaan level kedua saja, yaitu kertetarikan. Jangan sampai masuk perasaan level tiga, yaitu ketergantungan. Level ketiga ini yang disebut orang jatuh cinta. Kondisinya tidak rasional dan sulit dikendalikan. Biarkan hati anda masuk ke perasaan level ketiga ketika sudah akad nikah”. Ini jawaban saya via sms.
(7 Oktober 2010)

Lelaki yang pertama kali dicintai oleh seorang wanita, akan sulit dilupakan seumur hidupnya. Ini karena wanita banyak menggunakan perasaan. Maka berhati-hatilah dalam interaksi. Kaum lelaki jangan mudah memberi harapan, kaum wanita jangan mudah terlena oleh perhatian. Ingat, “jangan memastikan sesuatu yang belum pasti”.
(8 Oktober 2010)

Secara umum, lelaki mudah jatuh ke dalam fitnah dari hal-hal yang bersifat fisik, seperti kecantikan, bentuk tubuh, dll. Wanita mudah jatuh ke dalam fitnah dari hal-hal yang masuk perasaan. Seperti perhatian, pujian, dll. Berhati-hatilah semuanya, brother, sister, yang sudah berkeluarga maupun yang belum….
(9 Oktober 2010)

Dalam hal ketertarikan hati lelaki dan wanita, yang membuat
perasaan meningkat ke level berikutnya adalah (1) interaksi dan komunikasi yang rutin dan intens (2) tidak ada mekanisme penjagaan diri, dan membiarkan perasaannya berjalan ke level yang lebih tinggi.Jaga diri Bro, Sist…..
(11 Oktober 2010)

——–
Beberapa status FB Pak Cah. Ingin membaca lebih banyak tulisan dari beliau silakan berkunjung juga di: www.cahyadi-takariawan.web.id. Semoga menjadi pengingat dan manfaat ;)

Inspirasi Shahabat

Selalu ada inspirasi, terlahir dari saudara-saudara yang shalih. Selalu ada manfaat, bersapa dan berbincang dengan saudara-saudara yang shalih. Selalu ada kerinduan, berjumpa dan bersama dengan saudara-saudara yang shalih. Alhamdulillah, saya bersyukur karena selama ini Allah perkenankan saya berkenalan dan bersaudara dengan mereka-mereka. Semoga –saya sangat berharap- kesempatan membersamai mereka, mengizinkan saya tercelup keshalihan seperti mereka, ibarat ikut mendapati semerbak wangi karena berdekat-dekat dengan penjual minyak wangi.

Sesungguhnya, inspirasi, manfaat, dan rindu itu bukannya tanpa sebab. Kesemuanya itu terlahir dari kebaikan-kebaikan yang di atas rata-rata. Dalam bahasa akademis, mudahnya kita sebut saja sebagai prestasi. Namun semoga kita tak terjebak istilah ini, karena i-tsar juga merupakan prestasi yang tak terakui dalam dunia akademis. Sementara ianya adalah prestasi tertinggi persaudaraan. Pokoknya –dalam pembicaraan kita ini secara khusus-, sebabnya adalah prestasi. Kesimpulan inilah yang teralur dari ngobrol-ngobrol santai, yang bermula dari kekagetan yang segera menyadarkan saya. “Bukannya memang,” katanya merangkum saling sahut, “muslim itu harus berprestasi?”

“Betul!” dalam hati saya mengiyakan. Mengiyakan apa yang begitu sering terlupakan, sehingga tak pernah jadi identitas. Seorang muslim, dengan keislamannya yang sungguh-sungguh yang mengejawantah dalam keshalihan, sebenarnya sanggup menjadi jaminan terlahirnya prestasi demi prestasi. Sampai-sampai saya pernah mengambil kesimpulan –yang juga ikut terlupakan-, kalau kita tidak berprestasi, berarti ada yang harus ditata dan dibenahi bagaimana kita berislam. Boleh jadi belum seshalih yang selayaknya.

Saya ingat mereka, saudara-saudara yang shalih. Shalihnya membuatnya terjaga dalam prasangka baik, sehingga tersemai do’a-do’a yang merintis kebaikan. Ia yakin, Allah sebagaimana prasangka hambaNya, karenanya prasangka selalu kebaikan. Shalihnya membuatnya kokoh dalam bercita-cita, sehingga terbangun cahaya yang menyuluh memandu langkah-langkah menuju. Ia yakin, ada cita-cita di atas cita-cita, hingga cita-citanya menembus batas dunia –sampai akhirat-. Shalihnya membuatnya merasa tak layak mengeluh, sehingga syukur dan shabar menjadi kendaraan yang setia mengantarkan perjalanannya. Ia yakin, syukur itu baik, hingga nikmat tak membuatnya terbang terombang-ambing terlepas dari pijakan bumi; dan shabar itu pun baik, hingga ujian tak sampai membuatnya melemah, tersungkur-sungkur lalu terpelanting jatuh. Malah keduanya jadi karet katapel yang melontarkan kebaikan-kebaikan. Tentu saja, yang terpenting, shalihnya membuatnya indah dalam celupan iman dan kebersegeraan taqwa, yang membuat Allah cinta dan mendekat seribu langkah lebih dekat pada setiap langkahnya. Sungguh, adakah yang lebih baik jika Allah ridha? Ya, insyaallah mereka-mereka dapati itu. Ridha yang menjadikan bertumpuk prestasi, sampai ada rasa tak menyangka, apa yang mereka dapati begitu banyak dibanding apa yang mereka lakukan.

Muslim itu harus berprestasi. Kalau kita tidak berprestasi, berarti ada yang harus ditata dan dibenahi bagaimana kita berislam. Boleh jadi belum seshalih yang selayaknya. Insyaallah, saya nggak ingin ini menjadi kesimpulan. Apabila sebuah kesimpulan pada akhirnya membuat pintu-pintu refleksi diri tertutup rapat-rapat. Semoga darinya membuat gelisah bertambah-tambah, ada rasa tak puas dengan prestasi yang seadanya, ada rasa tak nyaman dengan cita-cita yang tak segera dijemput, ada muhasabah pada ikhtiyar-ikhtiyar diri selama ini. Dan kalaupun ada kesimpulan, mudah-mudahan kesimpulan itu adalah rentetan prestasi-prestasi yang diraih dengan kerja yang susah payah tak mengenal keluh kesah.

JazaakumuLlaah, untuk saudara-saudaraku yang shalih, yang setiap perjumpaannya menjadi rindu, yang setiap perbincangan dan kebersamaannya menjadi manfaat, dan setiap akhlaqnya menjadi inspirasi. Semoga saya bersama kalian, dan menjadi bagian dari kalian… []

Semarang, 12 September 2010, 22:44
Setelah beberapa perbincangan sesiang ini. Memejam mata lalu mengguman, “Aku tak layak mengeluh..” Bangkit Yog! ;)

Warisan Imam Hasan Al Banna

Berbicara mengenai Jamaah Ikhwanul Muslimin, seperti yang ditulis Anis Matta dalam kata pengantar terjemahan Wasailut Tarbiyah ‘inda Ikhwanil Muslimin, berarti berbicara mengenai tarbiyah, dan demikian sebaliknya. Maka berbicara tentang keduanya, kita pun akan berkenalan dengan satu nama yang menyejarah, Hasan Al Banna, seorang da’i, murobbi, dan sang pendiri Jamaah Ikhwanul Muslimin.

Anis Matta dalam Dari Gerakan ke Negara menyebut Hasan Al Banna sebagai bapak revolusi, bapak perubahan, atau bapak pembaharuan, yang memegang saham terbesar bagi fenomena kebangkitan Islam abad ke-20. Hasan Al Banna, seperti yang diceritakan oleh Anis Matta, percaya bahwa sebuah perubahan besar harus dilakukan dengan cepat, tetapi tidak menempuh jalan pintas. Beliau sangat percaya pada prinsip pertumbuhan yang cepat namun terkendali sebab pertumbuhan yang terlalu cepat selalu merupakan karunia bagi umat. Perubahan besar yang cepat harus dimulai dari manusia. Kepercayaan yang menghujam di hati tentang perubahan, dapat kita seksamai pada langkah-langkah yang diambil oleh beliau untuk mengembalikan kejayaan Islam, setelah melihat keadaaan umat Islam yang identik dengan ketertindasan dan keterjajahan. Langkah-langkah yang diambilnya, bersumber dari perenungannya yang mendalam terhadap kondisi uma Islam yang mengiris-iris kalbu, paling tidak telah mewariskan dua jejak yang menyejarah: Ikhwanul Muslimin dan tarbiyah. Selanjutnya, mari kita sedikit berdiskusi tentang kedua untuk mengenal lebih dekat.

Ikhwanul Muslimin, didirikan pada tahun 1928, setelah Hasan Al Banna tuntas dengan kegelisahannya, memahami permasalahan mengakar yang dihadapi oleh umat Islam, serta menetapkan sasaran dan target yang ingin dicapainya untuk umat. Organisasi ini, masih seperti diungkapkan Anis Matta, menggambarkan buah pertimbangan Hasan Al Banna bahwa gagasan-gagasan besar dan target-target yang telah ditetapkan hanya akan menjadi kenyataan ketika dikerjakan di dalam dan melalui organisasi. Begitulah, hingga dalam perkembangan Ikhwanul Muslimin, kita mampu merasakan pandangannya yang menyejarah, yaitu transformasi wacana kebangkitan Islam menjadi sebuah gerakan yang bekerja pada semua lini umat. Ikhwanul Muslimin, masih seiring dengan dasar pemikiran Hasan Al Banna tentang perubahan, menfokuskan pada kerja-kerja rekonstruksi sosial yang bertumpu pada pembentukan manusia. Maka dari sini kemudian, kita mengenal dan sekaligus merasakan warisan menyejarahnya yang kedua: tarbiyah.
‘Ali ‘Abdul Halim Mahmud menyebut tarbiyah sebagai cara ideal dalam berinteraksi dengan fitrah manusia, baik secara langsung melalui kata-kata maupun secara tidak langsung dalam bentuk keteladanan, sesuai dengan sistem dan perangkat khusus yang diyakini, untuk memproses perubahan dalam diri manusia menuju kondisi yang lebih baik.

Tarbiyah bagi Hasan Al Banna, mengutip tulisan Salim A. Fillah, setidaknya memiliki tiga makna. Pertama, rabaa, yarbuu. Artinya tumbuh. Tarbiyah menumbuhkan seseorang dari kekanakah ruh, kekanakan akal, dan kekanakan jasad menuju kematangan dan kedewasaan masing-masingnya. Ruh yang dewasa, akal yang dewasa, dan jasad yang dewasa untuk memetakan diri, menyikapi masalah-masalah, dan mengemban tugas-tugas. Maka tarbiyah adalah sebuah improvement, peningkatan.

Kedua, rabiya, yurbii. Artinya berkembang. Tarbiyah mengembangkan manusia muslim dalam kemampuan-kemampuan yang dibutuhkan menjalani kehidupan. Manusia muslim dalam tugasnya sebagai ‘abdullah yang beribadah kepada Allah dan sebagai khalifah yang akan mengelola bumi seisinya dilatih untuk memiliki kompetensi yang dikembangkan dari potensi-potensi yang telah dikaruniakan Allah kepadanya. Maka tarbiyah adalah development, pengembangan.

Ketiga, rabaa, yarubbu. Artinya memberdayakan. Tarbiyah mengarahkan agar berdayaguna. Islam memanggil manusia muslim untuk membuktikan keunggulannya. Islam menghendaki agar sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat, paling besar daya guna dan kontibusi bagi umat. Maka tarbiyah adalah empowerment, pemberdayaan.

Dalam kerangka kerja peradaban Anis Matta, tarbiyah adalah afiliasi, partisipasi, dan kontribusi. Pertama, manusia muslim harus memperbaharui afiliasinya kepada Islam kembali sebab keislaman kaum muslimin saat ini lebih banyak dibentuk oleh warisan lingkungan sosial, bukan dari pemahaman dan kesadaran yang mendalam tentang Islam. Kedua, setiap individu muslim harus melebur dalam komunitas muslim yang besar, di mana ia menjadi bagian dari masyarakat dan berpartisipasi dalam membangun masyarakat tersebut. Ketiga, manusia muslim harus benar-benar dapat mencapai tingkat paling optimal dalam memberikan kontribusi kepada Islam.

Aditya Rangga Yogatama
[jadi ingat, bahwa tulisan ini dulu dibuat sebagai syarat mengikuti Forum tertentu tertentu; ditulis menjelang deadline, jadinya sekedar hasil kutip-kutip :P]

Umair bin Himam Al-Anshary, Sang Lelaki Akhirat

Membaca kisahnya, kini hati ini merasa tergetar dan terkagum. Yang pasti terserak rasa malu. Malu sangat, karena begitu jauhnya jarak antara diri ini dengannya. Boleh jadi, kita sangat jarang mendengar namanya. Namun oleh Anis Matta dalam Arsitek Peradaban, seorang shahabat ini disebutnya sebagai lelaki akhirat. Shahabat ini mengajarkan dan meyakinkan kita bahwa bayangan kenikmatan surga dan kedahsyatan neraka yang dimaknainya setiap saat, menelusup dan menyentuh lembut dalam hati terdalam, lalu menjadi penggerak yang akan mampu melampaui keterbatasan. Bayangan itu menjadikan seseorang ringan bersegera dalam ‘amal kebaikan.

Sang lelaki akhirat itu, berikut ini kisahnya sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim dari Anas ra. Ketika itu, menjelang berkecamuknya perang di lembah Badr. Rasulullah SAW menyeru para shahabat, “Bangkitlah kalian untuk menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi.” Salah seorang shahabat, dengan keingintahuannya kemudian bertanya, “Ya Rasulullah, surga yang luasnya seluas langit dan bumi?” Rasulullah tersenyum sembari menjawabnya, “Betul.”

Wajah shahabat ini pun seketika berubah dengan cepat. Nampak ada semangat yang menggelorakan hatinya. “Wah wah,” gumamnya. “Apa yang membuatmu berkata: wah wah?”, tanya Rasulullah yang dikejutkan oleh gumam shahabatnya. Lalu shahabat ini menjawab, “Demi Allah, tiada lain karena aku sangat berharap untuk bisa menjadi salah satu penghuninya.” Mendengarnya, Rasulullah kembali tersenyum. Beliau berkata, “Sungguh, engkau termasuk salah seorang penghuninya.”

Apa reaksi dari shahabat ini? Dia lalu mengeluarkan kurma dari wadahnya untuk dia makan, namun ia lalu berkata, ‘Sekiranya aku diberi umur hingga selesai memakan kurma ini, sungguh rasanya aku hidup terlalu lama.” Dia pun membuang kurma yang ada padanya, lalu bangkit. Dia dengan ringan hati dan langkah bersegera meninggalkan semua kenikmatan untuk menjemput janji Allah. Keyakinannya yang utuh pada Allah, bayangan kenikmatan surga yang seolah-olah sudah di hadapannya, menjadi sesuatu yang sangat menakjubkan. Inilah kisah shahabat, sang lelaki akhirat, Umair bin Himam al-Anshary.

Kisah lelaki akhirat ini, menjadi kontemplasi yang mendalam untuk saya saat ini. Malu ketika berkaca pada kebersegeraannya menyambut tawaran-tawaran langit; untuk menjemput kenikmatan di akhirat kelak. Begitu ringan dan mudah kebersegeraannya itu. Diri ini menjadi begitu tertohok, karena tak jarang masih merasakan susah dan berat untuk berbuat kebaikan. Ada ingatan yang masih sangat jelas dari Ust. Syatori Abdurrouf, “Kalau ‘amal kebaikan itu rasanya susah dan berat, itu tandanya masih ada ragu.” Mungkinkah itu yang sedang terjadi pada saya, hingga merasa berat untuk bersegera? “Misalkan saja”, lanjut beliau, “bersyukur itu mudah atau susah? Kalau kita merasakan bersyukur itu susah, berarti kita belum yakin pada janji Allah, bahwa Allah akan menambah nikmat. Artinya juga, kita masih ragu bahwa janji Allah pasti benar.”

Juga ditambah ingatan dari Ust. Abu Ridha ketika berkunjung ke Jogja kali itu, “Masalahnya, adanya virus-virus hati yang menyebabkan adanya ragu pada iman. Hal itu nantinya, menyebabkan perjalanan tersungkur-sungkur, lalu suatu saat terpelanting jatuh dari jalan-Nya, dan akhirnya adalah menyesal.” Yah, begitu menyesalnya jika itu yang sedang dijalani. Bisa jadi, saat ini kita bisa mengatakan bahwa kita yakin sepenuhnya, namun rasa susah dan berat menjemput kebaikan itu menjadi pertanda yang jelas adanya ragu atau syak, setidaknya bagi hati. Ini artinya, harus ada yang diperbaiki dari hati ini. Dan harus dihindarkan jauh-jauh dari virus-virus hati yang menggerogoti.

Akhirnya, masih ada satu ingatan lagi. Kali ini dari Mas Fatan, “Mengapa mereka, para shahabat, bisa meninggalkan semuanya hanya untuk Islam? Karena mereka memiliki gambaran yang jelas tentang surga dan neraka; tentang akhirat.” Ya, itu jawabannya. Adanya ragu atau syak itu, boleh jadi bermula dari ketidaksanggupan menghadirkan gambaran tentang akhirat dalam hati kita. Kita bisa menyebut surga, namun terkadang begitu sulit menjelaskan lebih detail. Demikian juga neraka. Karena itu tidak pernah terasa harap dan takut yang nyata. Jadinya, bayangan akhirat itu tidak pernah menggerakkan. “Allahumaghfirlii. Ya Allah, ampuni hamba ketika di hati ini masih ada saja ragu pada janji-janjiMu.”

Kisah lelaki akhirat ini, semoga menjadi pengingat yang kuat, utamanya bagi diri ini yang masih butuh banyak dinasihati. “Sudahkah,” saya ingin kembali menanam pertanyaan pada hati ini, “bayangan tentang akhirat telah mengalahkan kemalasan, kelelahan, kebingungan, dan kelambatanmu? Bangkit Yog!”

“Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang yang bertakwa, mengalir di bawahnya sungai-sungai, senantiasa berbuahnya dan teduh. Itulah tempat kesudahan bagi orang yang bertakwa; sedang tempat kesudahakn bagi orang yang ingkar kepada Tuhan ialah neraka,” (Q.S. ar-Ra’d: 35)

7 Agustus 2010
Akhir-akhir ini, dalam perenungan-perenungan, banyak diingatkan kembali untuk menjaga hati.

Jangan Lupa Jaga Kesehatan Antum ya

“Yoga, akhirnya Antum bisa berangkat kan?” Tanyanya dalam karakter kesahajaan. ”InsyaAllah Mas, alhamdulilah ane udah dapet izin untuk berangkat Mas.” Jawabku dengan kesungguhan hati. Inilah saat-saat keyakinan datang padaku. Allah mulai membuka tabir skenario kemudahan hidup untukku. Aku menyerahkan segalanya hanya padaNya. Sebuah jawaban terbaik untuk sebuah anugrah yang terindah dariNya.

”Antum udah istikharah?” Tanyanya kembali tentang persiapan dan kesiapanku. ”InsyaAllah udah Mas, mudah-mudahan Allah memberikan kemudahan atas pilihan ini Mas.” Jawabku mulai lirih. Hati ini terasa bergetar dalam keharuan dan keyakinan. Teringat bahwa ini pilihan besar yang tidak akan pernah dipilih siapapun kecuali orang-orang tertentu saja. Pernah terbayang seakan rasa berat berlarian ke sana ke mari menantiku di depan mata. ”Nanti Mas bantu kok. Jadi kerjaanmu akan lebih mudah dan transfer lebih jelas. Kita kan sama-sama di Jogja, insyaAllah lebih mudah untuk ketemu dan diskusinya.” Sebuah ungkapannya mencoba menguatkan hatiku. ”Iya Mas.” Kembali jawabku lirih mulai menemukan sedikit kelegaan.

”Jangan lupa jaga kesehatan Antum ya.” Nasihatnya melanjutkan dalam makna yang begitu dalam. Begitu dalam karena dia yang mengatakannya. Dia, seseorang yang benar-benar merasakan betapa kesehatan adalah anugrah yang begitu besar. Anugrah yang terkadang tidak selalu dia dapatkan. Harus dijaga dalam kesabaran dan dioptimalkan dalam semangat berkontribusi. ”Iya, insyaAllah Mas.” Aku mengiyakan nasihat itu.

Dan tak lama berselang pembicaraan kami pun usai. Aku menutup telepon terlebih dahulu setelah menjawab salamnya. Pembicaraan ini pun ditutup dengan salam penuh kerinduan. Kerinduan untuk sebuah perjumpaan. Kerinduan untuk berbagi semangat dan visi. Kerinduan akan cintaNya yang mengejawantah dalam indahnya ukhuwah. Subhanallah. Pagi pun mulai beranjak menjemput terangnya cahaya mentari. Masih terasa hangat, perlahan mencipta semangat. Halaman depan pondokan KKN menjadi saksi azzam ini. Dan lima hari lagi seakan begitu dekat di depan mata.

***

Aku memandangi kegelapan malam di luar sana. Sekilas nampak pohon-pohon tak nyata berkejar-kejaran. Gelap tak menjadikannya nampak jelas. Pikiranku pun terus berlarian entah ke mana. Di sana teringat oleh seluruh pertimbangan yang pernah ada hingga pilihan ini mengokohkan dirinya dalam hati. Pernah terbayang pula akan masa depan seperti apa yang akan kujalani setelah ini. Seluruhnya, tiada pernah menjelaskan dirinya. Aku pun semakin yakin, hanya perjalanan yang sebenarnya yang akan menjelaskan seluruhnya. Dan perjalanan ini menjadi sangat menantang dan menarik, karena kita tidak pernah tahu apa yang terjadi setelah ini, esok, dan selanjutnya.

Aku masih berdiri di depan pintu kereta, bersandar pada salah satu dindingnya. Masih bermain-main wajah masa depan dalam pikiranku yang seolah tak menentu. Pikiran-pikiran yang tidak lagi ingat akan dirinya sendiri. Di sana aku tidak tahu apakah ini baik? Ataukah buruk? Seakan relativitas yang mengambil keputusan. Satu jawaban tidak akan selalu benar. Tergantung pada siapa jawaban itu dilontarkan, kapan dan di mana.

Mata yang selayaknya sudah begitu letih ini enggan terpejamkan. Seolah aku lupa bahwa seharian sebelumnya aku telah menguras habis tenagaku untuk pekerjaan-pekerjaan di KKN yang akan sejenak kutinggalkan. Pagi kerja bakti. Siang membuat lapangan voli, dan malam berdiskusi dengan pengurus koperasi. Sebenarnya sangat melelahkan. Namun lelah yang ada pada akhirnya terkalahkan oleh pikiran-pikiran tak menentu, membuatku terus terjaga sepanjang malam.

Tiada terasa azan subuh berkumandang. Tiada terasa fajar telah kembali datang dan perjalanan masih panjang. Dan tiada terasa aku mulai tersadar, aku telah melewatkan kesempatan beristirahat di malam ini. Aku hanya berharap, aku dikuatkan untuk menjalani seharian ke depan. Semoga tidak terjatuh karena keadaan fisik yang sangat buruk.

***

Seperti yang telah kuperkirakan sebelumnya, kedatanganku di Malang yang sejuk ini tak menyisihkan sedikit waktuku untuk sejenak beristirahat. Berulang kali sms kuterima menanyakan kapan kedatanganku. Aku hanya bisa menjawab, ”InsyaAllah jam sekian, kira-kira satu jam lagi, iya sebentar lagi sampai, dan sebagainya….” Tiba di stasiun, aku segera beranjak menuju tempat kegiatan. Tidak boleh ditunda lagi karena waktu terus berjalan.

Sungguh aku merasa kuat dan tiada terbatasi oleh keterbatasan apapun, ketika teingat oleh teman-teman yang telah menantikan kehadiranku. Meskipun mata ini berusaha bertahan menahan serangan kantuk yang semakin berat, dan tulang-tulang persendian yang mulai mengeluh dalam lelah terus menderanya. Seluruhnya seolah menjadi mati rasa. Di sana lah, samudra kesabaran itu menjadi kunci. Mengutip perkataan Ibnul Qayyim, ”Bersabarlah… Hingga akhirnya kesabaran itu sendiri yang gagal mengejar kesabaranmu…” Dan ungkapan indah seorang kakak menjadi makna dalam langkahku saat ini, ”Berlarilah… Hingga kelelahan lelah mengejarmu…” Hingga aku benar-benar yakin dengan ungkapan itu.

Hari pertama berakhir hingga tengah malam. Setelah itu, aku bisa beristirahat paling tidak selama empat jam. Hari kedua sampai dengan hari terakhir pun sama. Keadaan ini merupakan keadaan yang tidak ideal bagiku. Dan pilihan selalu memaksakan diri memberikan konsekuensi buruk untukku. Konsekuensi yang sejujurkan tidak akan pernah kusesali, karena aku yakin ini bagian dari skenarioNya yang sejak awal telah kuyakini.

Aku terus menahan sakit di kepalaku. Sakit yang datang karena aku mengabaikan diriku sendiri. Mengabaikan bahwa kepala ini pernah terluka sangat parah enam tahun yang lalu. Mengabaikan kesehatanku. Mengabaikan nasihatnya waktu itu, ”Jangan lupa jaga kesehatan Antum ya…” Aku mencoba tetap tersenyum pada dunia, di saat sakit itu telah semakin kuat mencengkeram kepalaku. Tapi sekali lagi, aku tidak pernah menyesali. Semua ini telah menjadi bagian dari sejarah perjalanan yang tak pernah tergantian.

Aku terus menahan sakit ini di sepanjang kegiatan, dari awal sampai akhir. Saat aku melaporkan sebuah laporan pertanggung jawaban kegiatan. Saat aku melaporkan sebuah laporan pertanggung jawaban organisasi. Saat aku menerima penghargaan untuk organisasi. Dan saat aku mengucapkan visi hingga suasana pelantikan yang begitu mengharu biru di ujung kegiatan yang kujalani. Kepalaku terus menahan sakit itu. Aku yakin, saat itu tidak ada seorang pun yang mengetahui keadaanku yang sebenarnya.

Aku lebih banyak diam di sepanjang kegiatan, kecuali ketika aku diminta berbicara. Itu saja. Padahal sebenarnya aku ingin banyak berbicara, namun seolah takkan sanggup lagi. ”Udah Yoga, nggak usah dipikir terlalu dalem, santai aja…” Begitu ungkapan sang Presiden yang tak lama lagi akan melepas amanahnya. Aku hanya tersenyum. Ingin sekali aku berucap, ”Mas, sebenarnya bukan karena kegiatan ini dan amanah yang ane terima selanjutnya, tapi karena ane udah nahan sakit kepala ini sejak dua hari yang lalu Mas…” Namun aku bisa menahan diri. Sekedar senyuman menjadi jawaban yang jauh lebih indah dari jawaban lain yang pernah terpikirkan.

Tiga hari aku mengikuti kegiatan itu, akhirnya usai sudah. Perjalanan Musyawarah Nasional FoSSEI berakhir dengan sempurna. Sempurna pula amanahku hingga datang amanah yang lebih besar. Aku pun harus segera pulang untuk melanjutkan kembali tugasku di KKN yang seakan sudah lama kutinggalkan. Penghargaan KSEI Award, Best Regional, LPJ Presidium Nasional 2007-2008, dan amanah besar menemani kepulanganku. Mengingatkanku dan meyakinkanku tentang makna kontribusi. Dan apa yang dikatakan Sayyid Quthb menjadi inspirasi berharga menggambarkan tentang hal itu, ”Manakala nilai hidup ini hanya untuk diri kita, maka akan tampak bagi kita bahwa kehidupan kecil dan singkat. Tetapi apabila kita hidup juga untuk orang lain maka jadilah hidup ini bermakna panjang dan dalam.”

***

Pagi hari, aku telah kembali ke pondokan KKN. Segera mempersiapkan diri untuk kembali menyatu dalan suasana yang ada di sana. Bersama teman-teman satu sub unit dan adik-adik Panti Asuhan Amanah kembali bekerja. Siang nanti akan ada kunjungan dari Dinas Sosial Kabupaten Bantul di panti. Sorenya ada TPA di PP Walisongo. Malamnya ada rapat dengan pengurus pedukuhan. Padat! Dan sakit kepalaku masih sanggup kutahan hingga waktu seminggu pun berlalu. Inilah, sakit kepala terlama yang pernah kualami. Mudah-mudahan tidak akan terjadi lagi. Dan aku benar-benar akan mengingat-ingat nasihatnya, ”Jangan lupa jaga kesehatan Antum ya…” Saya sekarang lebih memilih untuk menjaga instirahatku untuk menjaga keseimbangan.

Thanks to:

Angga Antagia, makasih atas inspirasi dan nasihat Mas yang luar biasa. Ahmad Fil Ardhi, iya Mas, saya santai aja kok, makasih tumpangan nginepnya, sahur dan bukanya, pas Rakernas, besok saya ngerepotin lagi ya Mas, hehe. Mas Aji dan keluarga (Mbak Ita, Nabila, Naufal), makasih tumpangan nginepnya, oleh-olehnya, dan biaya kepulangannya, duh saya jadi nggak enak banyak ngerepotin. Presnas: Muizzuddin, Fauzul Azmi, Ashbah Pratama, Hatib Elham Ahsani, harapan itu masih ada!

Hadi dan Iyank, makasih udah bilangin terus, ”Yog, kamu istirahat aja. Jangan lupa minum obat, Yog. Kamu itu kalo nggak diingetin pasti lupa.” Nobel, makasih atas candaannya, “Obat China-nya segera dihabisin Yog, keburu ketahuan Nunink nanti dimarahin lho… (kalo yang ini becanda, hehe)” Hari, makasih udah pernah kepikiran, ”Eh, Yoga itu senyum tapi kelihatan banget lagi nahan sakit. Nggak usah dipaksain lah Yog.” Putri, makasih udah ngasih rekomendasi, ”Minum ini nih, manjur kok. Mudah-mudahan cespleng… (wah, ini kata-kataku sendiri, hehe)” Ocha, makasih udah ngingetin (atau marahin), ”Yoga, minum obatnya. Kamu tuh mau sembuh apa enggak…? Cepet minum obatnya!” Nunink, makasih udah berulang kali meminta namun (maaf) sampai sekarang belum kupenuhi, ”Yoga, baiknya di-rontgent aja deh, biar tahu penyebabnya apa. Sekarang sih kamu nggak ngerasain, tapi masa depanmu Yog…” Ecy, makasih udah selalu bilang, ”Istirahat Yoga…..” Dan adik-adik Panti Asuhan Amanah yang menjadi semangatku dengan panggilan ramahnya, ”Kak Yoga…. Mas Yoga…. Pak Ustadz…” Makasih telah begitu setia di kala sakitku. Cukup kalian yang tahu dengan keadaanku yang sebenarnya.

19 November 2008,
Terinspirasi oleh perbincangan kemarin siang dengan dua teman saya
Tukang Obat Tamzil dan Pak Menteri Aulia,
”Kok banyak yang sakit ya sekarang….?

Sepuluh Catatan Indah: Merangkum Cita-Cita, Semangat, dan Pelajaran Kehidupan Bersama SEF!

Kalau boleh saya katakan dengan jujur, Shariah Economics Forum (SEF) adalah sebuah awal bagi catatan-catatan terindah dalam perjalanan hidup saya. Tidak berlebihan, karena dari sana saya mulai menanam, memupuk, menyirami, dan menyinari hingga terbangun cita-cita dan semangat, lalu mengiringi saya merujuk pelajaran demi pelajaran kehidupan.

Awalnya saya sempat bingung ketika diminta berbagi tentang perjalanan indah saya bersama SEF hingga hari ini. Bukan karena tidak ada yang dapat dibagi. Bukan, bukan karena itu. Namun lebih karena sepanjang perjalanan saya bersama SEF, semuanya adalah keindahan. Tidak ada yang tidak indah! Hingga sebenarnya menjadikan bertumpuk hal yang ingin dibagi, membuat saya bingung entah bagaimana akan membaginya.

Baiklah. Dengan segala keterbatasan, saya lebih tertarik untuk bercerita dengan tidak mengalur berdasarkan kronologis waktu seperti bayangan awal saya. Mengapa? Karena yang demikian itu rasanya masih akan menyisakan catatan-catatan indah itu berserakan. Dan saya tidak tega meminta teman-teman untuk memungutinya masing-masing. Ah, alangkah tidak santunnya saya. Karena itu izinkan saya, untuk bercerita, mengalur berdasarkan pelajaran demi pelajaran kehidupan bersama SEF, hingga keseluruhan terangkum rapi, sambung-menyambung, dan semoga dapat dicerap dengan lebih nyaman dan sempurna. Dari saya, ada sepuluh catatan indah yang membingkai terkenang dalam perjalanan bersama SEF. BismiLlaah, mari kita mulai menitinya dengan niatan untuk belajar bersama. Nampaknya akan begitu panjang, hanya karena ketidakmampuan saya menyederhanakan kata-kata, yang sabar ya..

Pertama, bersama SEF saya menemukan semangat untuk menuntut ilmu. Tidak hanya Ekonomi Islam yang menjadi fokus kajian di SEF, namun juga menyemangati saya untuk mendalami ilmu agama dan teori-teori ekonomi yang menjadi materi kuliah sehari-hari. Saat teman-teman yang lain menghabiskan waktu untuk belajar Ekonomika Moneter, misalnya, saya dan teman-teman di SEF selain belajar Ekonomika Moneter seperti tuntutan kuliah, juga mencari celah waktu agar dapat mengkaji Fiqh Muamalah dan Ekonomika Moneter dalam Islam. Kadang tersenyum-senyum ketika pada akhirnya, nilai kita lebih baik dibanding mereka yang telah berfokus belajar Ekonomika Moneter saja. Lalu dalam hati bergumam, “Lihat teman, meskipun kita membagi apa yang kita pelajari, tidak kalah dengan kalian bukan?” Dan yang membuat kita harus bersyukur, kita belajar lebih banyak hal, belajar apa yang tidak mereka pelajari. Juga bersyukur karena kita menjadi tidak punya waktu-waktu luang untuk lebih banyak kesia-siaan. Dan azam inilah yang menjaga kita, “Anak SEF harus lebih kompeten dan berprestasi!” Hingga tidak ada alasan, anak SEF yang tidak faham ekonomi, terlebih Ekonomi Islam, dan tidak pernah mengejar prestasi! Malu ah.. Yuk, senantiasa kita jaga semangat belajarnya, sesibuk apapun aktivitas kita, raih prestasi demi prestasi..

Kedua, bersama SEF saya menyadari bahwa perjalanan hidup ini dalam rangka mencari Allah. Tidak sekedar memperbanyak teman, mencari pengalaman, mengumpulkan ilmu, mencari sertfikat atau mengisi CV, atau agar mudah mendapat pekerjaan! Bersama SEF, kita yakin bahwa dalam segala aktivitas yang kita jalani, hanya Allah yang kita tuju. Hal ini kurang lebih sebagaimana yang saya rasai, menjadikan saya dapat bertahan, seburuk apapun keadaan saya dan keadaan SEF. Karenanya kemudian, saya dapat menikmati keindahan perjalanan bersama SEF, yang bisa jadi tidak pernah didapati mereka yang sejenak lalu pergi. Kali ini perkenan saya bertanya kepada teman-teman, “Bagaimana perasaan dan sikap teman-teman ketika dalam sebuah kegiatan, sebenarnya kita yang bekerja paling banyak lalu tidak pernah tersebut nama kita? Atau bagaimana perasaan dan sikap teman-teman ketika kita sudah berharap mendapat sertifikat, makanan yang lezat, dan harapan-harapan lainnya lalu kesemuanya tidak terpenuhi? Bagaimana perasaan dan sikap teman-teman?” Ah, saya yakin jawaban teman-teman akan lebih baik daripada jawaban saya. Sejenak saja saya tertunduk terkenang dengan kisah Fandi dalam Kiamat Sudah Dekat. Teman-teman, bantu dan temani saya belajar lebih banyak lagi tentang ikhlas, hanya Allah yang kita tuju..

Ketiga, bersama SEF saya mengokohkan cita-cita kontribusi dan karya. Kita semua senantiasa ingat sabda Rasulullah, yang paling baik di antara kita adalah yang paling bermanfaat. Nah, inilah yang menjadi cita-cita kontribusi dan karya. Dan SEF, yang bervisi kontributif, menjadi sahabat yang membersamai cita-cita itu. Cita-cita itu bermuara perubahan pada masyarakat, dengan jalan melahirkan karya yang bermanfaat. Kontribusi itu, bisa dengan banyak hal. Ketika kita menyampaikan kepada orang lain pentingnya menabung di bank syariah, membayar zakat dengan dilandasi pemahaman yang baik, mengajari dan memberitahu teman kita yang belum tahu Ekonomi Islam, menulis karya ilmiah, melakukan penelitian, dan bahkan menyiapkan konsumsi dan tikar untuk kesuksesan kegiatan kajian Ekonomi Islam. Semuanya adalah kontribusi! Maka bersama SEF, hari-hari kita akan dipenuhi kontribusi. Apa tidak ingin? Mengingat saya masih sangat sedikit kontribusinya, rasanya cukup sampai di sini saja ya membicarakan kontribusi. Lebih baik kita segera berbuat..

Keempat, bersama SEF saya menemukan semangat perjuangan. Bahkan lebih bersemangat dibanding organisasi yang lain! Hehe. Bagaimana bisa? Karena di hadapan kita, masih banyak hal yang ideal dan itu sangat jelas terlihat. Lihat saya, ketika masih banyak dalam masyarakat kita mempersamakan bunga dengan bagi hasil, juga masih menjamurnya kemiskinan dan ketidakadilan bagi mereka yang kurang berdaya. Lihat juga ketika pendidikan Ekonomi Islam masih terbatas hingga masih begitu banyak ketidakfahaman. Banyak hal yang harusnya membuat kita peka, bahwa hidup ini masih jauh dari ideal. Dari sana kita merasai, bahwa perjalanan masih panjang, dan harus dilalui dengan perjuangan. Tidak mungkin, menyampaikan hingga orang lain faham, membumikan Ekonomi Islam, dan mengatasi kemiskinan di masyarakat, tanpa perjuangan. Bersama SEF, bersiaplah untuk melalui jalan-jalan perjuangan, yang terkadang menggoda kita untuk berhenti melangkah, di saat datang lelah, payah, dan masalah yang tak berujung sudah. Pertanyaan ini yang begitu sering terlontar dalam benak saya, “Masihkah berkenan melanjutkan perjuangan?” Maka saksikanlah…

Kelima, bersama SEF saya menikmati indahnya jalan pengorbanan. Ya, benar, jalan pengorbanan itu sangat nikmat dan indah! Bisa jadi, ada kalanya kita harus memilih antara mengurusi organisasi atau belajar, sementara esok hari kita ada ujian tiga mata kuliah berturut-turut. Ya, keadaan ini meminta pengorbanan. Ada kalanya, kita harus meninggalkan kuliah, untuk berangkat ke Jakarta beberapa hari untuk tujuan organisasi. Ya, sekali lagi, keadaan ini meminta pengorbanan kita. Sesungguhnya ada banyak keadaan yang meminta kita untuk berkorban, bahkan bisa jadi setiap saat, setiap detiknya. Hingga nikmat dan indah pengorbanan, berdasarkan sikap dan pilihan kita. Cukuplah, saya tidak ingin bercerita banyak-banyak karena nanti terlalu asyik menceritakannya hingga menghabiskan waktu teman-teman. Saran saya, cobalah, cobalah setiap saat, sampai teman-teman menemukan sendiri nikmat dan indahnya. Lebih nikmat dan indah daripada yang dibayangkan! Karena sebenarnya pertanyaannya hanyalah, “Mau berkorban atau tidak?”

Keenam, bersama SEF saya banyak belajar tentang bersikap profesional. Dalam profesionalitas, ada ketaatan untuk menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya, dalam keadaan bagaimanapun, susah ataupun mudah. Dan ada rasa malu dan sedih, jika tugas itu tidak tersempurnakan dikarenakan kelalaian dan lemahnya semangat kita. Bersedihlah kita, jika program kerja tidak berjalan karena buruknya koordinasi kita. Bersedihlah kita, jika program kerja gagal karena salahnya kita dalam mengambil prioritas, rapat dulu atau mengerjakan tugas kuliah dulu. Kerja-kerja yang profesional yang akan dapat memberikan dampak kepada lingkungan. Apa jadinya jika kajian sepi peserta karena lupa menyebar publikasi? Apa jadinya jika kunjungan tidak jadi karena renggangnya komunikasi? Yang seperti itu tidak banyak mengubah. Lalu bagaimana jika sebuah kegiatan besar dihadiri ratusan peserta menggaung di seluruh kota dan bahkan Indonesia? Beda bukan? Yah, yang kedua ini dibangun dengan profesionalitas. Engkau bingung kawan? Atau mungkin pembahasan kita sebelumnya terlalu tinggi, mari kita bahas profesionalitas dengan lebih sederhana. Profesional itu, saat kita jadi tahu bagaimana menjadi pemimpin yang inspiratif, mengelola keuangan dengan baik, menuliskan laporan pertanggungjawaban dengan benar, menyiapkan penerus, dan sebagainya. Satu lagi, profesionalitas juga berarti bekerja lebih baik dan lebih cepat dibanding yang lainnya, termasuk dalam menyambut tugas-tugas. Bayangkan, akan berpikir berapa lama, jika engkau ditanya, “Kamu yang jadi ketua panitia ya?” Profesionalitas membuat kita dapat dengan segera membayangkan tugas-tugas, mencocokkan dengan kesanggupan, dan mengambil keputusan.

Ketujuh, bersama SEF saya diminta tentang konsistensi, ketabahan, dan kesabaran. Bisa jadi, kegagalan kegiatan namun memberikan kita banyak tangisan dan pelajaran jauh lebih indah dibandingkan acara yang berjalan lancar namun terasa hampa. Jika engkau belum sempat menangis, bermurung diri, lalu berusaha tersenyum ketika nampak seorang teman mendekat, agar tak tampak berat yang ada dalam kita, maka sebenarnya engkau belum menikmati puncak keindahan itu teman. Bagi saya, saat-saat seperti itu, saat-saat menyembunyikan kesusahan, adalah saat-saat terindah. Lalu kita menunjukkan kesusahan dan memohon kemudahan kepada Allah saja, tanpa ada seorang temanpun yang tahu. Konsistensi, ketabahan, dan kesabaran itu, terkadang lahir karena banyaknya kita berinteraksi dengan lingkungan yang bermacam-macam, hingga tumbuh kepekaan kita, yang menjadikan kita dapat memilih sikap terbaik. SEF mengenalkan saya dengan orang-orang besar, tokoh-tokoh, masyarakat, sampai dengan anak-anak kecil yang membutuhkan perhatian, yang bermacam-macam latar belakang mereka. Dari sanalah kepekaan, ketabahan, kesabaran, melahirkan konsistensi…

Kedelapan, bersama SEF saya mendapati kemantapan kesungguhan dan totalitas. Ada banyak kegiatan bersama SEF, yang karena saya tidak peka belajar, harus sampai berulang kali mengajari saya tentang totalitas. Kegiatan yang pelaksanaannya jauh dari harapan, bisa jadi adalah karena kurangnya totalitas. Atau, kadang pikiran kita terbagi sehingga sedikit energi untuk mempersiapkannya. Berbicara tentang totalitas, tidak ada yang lebih baik dibanding menjalaninya. Totalitas itu, saat kita fokus dan bersungguh-sungguh terhadap satu hal dan sejeka mengesampingkan hal yang lain agar tidak mengeruhkan fokus kita. Saat kita harus memimpin rapat, pikiran kita hanya ada dalam rapat itu. Bukan di ruangan lain, atau memikirkan yang lain. Bersedihlah, jika kegagalan rencana itu terlahir dari kurangnya totalitas. Ah, saya harus banyak bersedih…

Kesembilan, bersama SEF saya belajar bagaimana indahnya persaudaraan. Kita ingat tingkatan persaudaraan; ta’aruf, tafahum, takaful, hingga itsar? Semuanya. Kita akan dapati semuanya jika benar dan jujur dalam persaudaraan. Ada masa-masa untuk mengelus dada karena terkadang ada godaan untuk berburuk sangka pada saudara, ketika janji tak tepat waktu, ketika kerja tak sesungguh rencana. Ada masa-masa untuk saling menopang saat sang saudara tak segera mampu menyudahi kerjanya. Dan ada masa-masa yang terindah, saat mempersilakan sang saudara atas sesuatau sementara kita mencukupkan diri dengan bersenyum, demi mendahulukan saudaranya. Coba nikmati, saat hanya tersisa segelas teh hangat, lalu kita saling berpandangan dengan seorang saudara kita, lalu kita berebutan. Bukan untuk meminum, namun untuk mempersilakan. Atau saat kita di warung makan, lalu selesai makan kita berlari berebutan sampai di kasir duluan untuk membayar semuanya. Ah, indah bukan? Dan banyak sekali, jika kita sudah memahami artinya bersaudara. Salam manis dari saya, untuk saudara-saudara terbaik di SEF…

Kesepuluh, bersama SEF saya belajar tentang bekerjasama dan saling percaya. Karena kita faham, bahwa pekerjaan besar itu akan sangat berat dikerjakkan sendirian. Ada banyak teman, yang sebenarnya punya keinginan yang sama. Bersama merekalah, pekerjaan-pekerjaan besar itu kita tunaikan bersama. Saling berbagi peran, saling membantu, dan kemudian percaya. Sulit rasanya kita dapat berbagi peran jika tidak ada rasa percaya pada lainnya. Bahkan, ada banyak keajaiban ketika rasa percaya itu diberikan. Seseorang yang tidak dibayangkan bisa mengerjakan sesuatu pekerjaan, malah sebenarnya dia mampu mengerjakan dengan sangat baik, lebih baik dari kita. Inilah, pentingnya rasa percaya kepada teman kita. Yakinlah, dia mampu. Lalu beri dia kesempatan. Dan saat keyakinan kita semakin kuat, kita dapat merencanakan pekerjaan-pekerjaan besar itu, bersama-sama. Berkaitan dengan hal ini, ingin rasanya saya bercerita tentang salah satu fragmen terbaik saya bersama SEF. Ketika itu adalah Temilnas VII FoSSEI, dan teman-teman telah mampu bergerak masing-masing berinisiatif tentang tugasnya, bahkan tanpa arahan dari sang ketua. Begitu luar biasanya rasa percaya itu mampu menggerakkan..

Sepuluh catatan inilah, merangkum begitu banyak cerita indah dalam perjalanan saya bersama SEF. Tidak hanya berhenti saat saya selesai di SEF, catatan indah itu terus berlanjut. Dan bahkan semakin indah. Kita coba mengingat bahwa di sepanjang perjalanan kita akan selalu menemukan gejolak, saat yang ada di depan kita adalah pilihan-pilihan. Gejolak itu terasa saat keyakinan dan keraguan itu hanya berbeda tipis. Dalam keadaan apapun, ringan ataupun berat, saat yakin atau berusaha untuk yakin, di manapun dan kapanpun, pada akhirnya kita memang harus memilih. Ya, memilih. Maka pertama kali adalah dengan yakin; bercita-citalah, berencanalah, bersemangatlah, jangan berputus asa dan berharap yang terbaik dari Allah. Memilihlah dengan tersenyum menatap ke depan, biarlah Allah yang akan membersamai. Inilah nasihat buat saya, yang kali ini harus sampai pada masa-masa bertabur pilihan. Memilih mengejar beasiswa S2, mencoba wirausaha, langsung bekerja, di pemerintah, di perbankan, di perusahaan, atau… Dan do’a itu, Q.S. Al Mu’minun: 29, menjadi teman setia yang menyemangati dan menyakinkan. Mohon do’anya juga ya teman..

Akhir kata, jazaakumullaahu khairan katsiiraan, untuk Uda Angga, Mas Dimas, Mas Akbar, Andrie, dan Dennis, serta semua saudara-saudara saya yang setia meniti jalan perjuangan… []

Minomartani, 5 Mei 2010; Ba’da dhuhur sampai ashar
Tulisan ini khusus dipersiapkan untuk buku “Sharing for Growing Together” yang disusun oleh alumni SEF JMME.