Itsar; Puncak Tertinggi Ukhuwah

Sahabat sekalian, ukhuwah adalah hal terindah dalam kebersamaan kita dalam dakwah. Bersyukur kepada Allah atas kehadiran saudara di jalan Allah; yang salamnya kita rindu, nasihatnya kita tunggu, pun kita rasai do’anya tak pernah jemu. Lalu kita menjumpai seindah-indah ukhuwah, saat kita sampai di puncak tertingginya; itsar. Lebih dari sekedar ta’aruf, tafahum, juga takaful. Maka agar menjadi inspirasi, mari kita seksamai kisah tentang itsar dalam hijrahnya para sahabat dari Makkah ke Madinah dan disambut orang-orang Anshar, yang terabadi dalam Q.S. Al Hasyr: 9-10.

Dan orang-orang (Anshar) yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah ke tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (Muhajirin), atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang yang beruntung. (Q.S. Al Hasyr: 9)

Imam Jalaluddin As Suyuthi dalam Lubabun Nuqul fi Ashabin Nuzul menjelaskan tentang sebab turunnya ayat ini lewat sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Pada suatu saat RasuluLlah SAW kedatangan seorang tamu. Tamu itu menyatakan bahwa dia membutuhkan tempat menginap, makan malam, dan keperluan beberapa hari karena bekalnya sudah habis. RasuluLlah SAW bukanlah orang yang bisa menolak permintaan. Tetapi kalau kondisi beliau tidak memungkinkan untuk memenuhi permintaan seseorang, beliau akan menawarkan kepada para sahabat.

Maka ada seorang sahabat, Abu Thalhah, mengacungkan tangan, “Saya Yaa RasuluLlah.” Kemudian Abu Thalhah dipersilakanlah oleh RasuluLlah SAW untuk membawa tamu ini ke rumahnya. Selanjutnya AbuThalhah bermusyawarah dengan istrinya, Ummu Sulaim. Kata sang istri, “Kita tidak punya apa-apa. Hanya ada makanan, itupun hanya cukup untuk anak kita, satu porsi.” Kata Abu Thalhah, “Lakukan yang kuminta. Pura-puralah bahwa minyak kita habis sehingga lampu tidak dinyalakan untuk malam ini. Segera tidurkan anak-anak kita. Hidangkan makanan itu dalam sebuah piring untuk tamu kita dan hidangkan sebuah piring kosong untukku, akan kutemani dia makan.

Ketika tamu datang, kemudian Ummu Sulaim berpura-pura dan berkata, “Maaf, lampunya tidak bisa menyala, minyaknya sedang dicarikan.” Makanan disiapkan, tamu dijamu, sebuah piring kosong diletakkan di depan suaminya. Tamu itu makan dengan sangat lahap dan Abu Thalhah berpura-pura seolah-olah dia makan dengan mengerik piring kosong yang ada di hadapannya. Sampai selesai, tamu itu puas, tertidur lelap. Pagi harinya RasuluLlah SAW menemui Abu Thalhah dengan berseri-seri, kemudian berkata, “Allah SWT takjub kepada apa-apa yang kalian lakukan tadi malam.” Ayat tersebut turun.

…wa yu’tsiruuna ‘alaa anfusihim khashaashah.

Khashaashah, artinya hajat yang darurat, tidak mungkin tidak, kalau tidak dipenuhi bisa terjadi bahaya. Bahkan dalam kondisi yang membahayakan dirinya sendiri, mereka memilih untuk mendahulukan saudaranya. Inilah itsar; mendahulukan saudara kita di atas apa-apa yang kita hajatkan, meskipun kita sangat-sangat membutuhkannya. Itsar ini, menurut Imam Hasan Al Banna dalam salah satu risalahnya, adalah puncak ukhuwah.

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdo’a: “Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sungguh, Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang.” (Q.S. Al Hasyr: 10)

Pada sisi yang lain, batas terendah dari ukhuwah adalah salamatush shadr; lapang dada terhadap saudara sendiri. Selamatnya dada kita dari ghil; perasaan tidak enak, perasaan tidak nyaman, bibit-bibit menuju buruk sangka, iri, dengki, hasad. Maka dalam lanjutan ayat tentang itsar tersebut terteladankan do’a.

…walaa taj’al fii quluubinaa ghillalliladziina aamanu.

Ukhuwah dalam setinggi-tinggi maknanya, bersama seindah-indah rasanya, bagaimanapun akan ada ujian-ujiannya. Mari berjuang untuk menghadirkannya dalam kebersamaan kita agar menjadi pengokoh dan romantika perjuangan di jalan dakwah ini; dalam ikhtiyar dan do’a. ;) []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s