Skripsi Sekali, Skripsi lah yang Berarti

Bagi sebagian besar mahasiswa, skripsi sering menjadi kekhawatiran menjelang akhir-akhir masa di kampus. Dan tak dapat dipungkiri, demikian pula dengan saya. Rasanya berbagai kekhawatiran bercampur aduk; berapa lama akan selesai, bagaimana menyakinkan dosen tentang ide dan judulnya, seberapa baik nanti jadinya, ada manfaatnya atau hanya untuk melengkapi persyaratan menjadi sarjana, dan sebagainya. Belum lagi jika ditambah kekhawatiran pada keadaan pasca kampus nantinya; apa yang akan dikerjakan, seperti apa pilihan profesi, berapa lama tanpa status –setelah status mahasiswa dicabut-, dan lain-lainnya. Bagaimanapun, yang ini pun tidak dapat diabaikan.

 

Alhamdulillah, bersyukur pada Allah, semangat untuk selalu menghadirkan kebermanfaatan menjadi kekuatan dan kejernihan tersendiri di tengah berbagai kekhawatiran tersebut. Saya meyakini, terselesaikannya berbagai rintangan, kerumitan, serta kejenuhan dalam proses penyusunan skripsi saya karena masih adanya semangat kebermanfaatan ini. Saya hanya berfikir dan bertanya sederhana; bagaimana agar skripsi yang saya susun dan proses menyusunnya setiap detiknya membawa kebermanfaatan. Sulit rasanya, ketika pada saat yang sama, teman-teman lain sedang berfikir bagaimana agar skripsinya tampak menakjubkan. Menampilkan teori-teori yang terbaru dan belum banyak orang tahu serta menggunakan variabel-variabel unik yang menjadikan persamaan kian menarik. Hingga ada rasa bangga –biasanya- ketika para penguji dapat berdecak kagum memerhatikan dan membahasnya. Kalau pun harus jujur, dahulu saya pun juga ingin yang demikian. Namun memerhatikan keadaan dan keterbatasan saya saat itu, saya memilih jika ada yang lebih sederhana. Fokus saya satu; bermanfaat!

 

Setelah mempertimbangkan berbagai hal, ada beberapa keputusan saya di awal-awal masa penyusunan skripsi. Pertama, skripsi saya harus memberikan kontribusi bagi pengembangan Ekonomi Islam. Kedua, saya akan menggunakan data primer dan terjun di lapangan menyapa masyarakat secara langsung. Ketiga, saya ingin skripsi saya bisa masuk dalam jurnal ilmiah agar bisa dibaca orang lebih banyak. Terakhir, keempat, saya ingin menyelesaikannya dalam satu semester saja. Dan alhamduliLlah, yang ini tidak tercapai. Akhirnya saya insyafi, keputusan yang terakhir ini memang cenderung individualis.

 

Semoga berkenan menyimak uraian saya tentang empat keputusan tersebut. Maafkan apabila rasanya ada berbagai ketidaknyamanan dan kejenuhan dalam membacanya, tak lain karena keterbatasan dan kelemahan saya yang kurang pandai memilih, memilah, dan menyusun kata-kata menjadi kalimat-kalimat. Mohon agak bersabar atas hal ini. Thayyib. Berikut ini adalah latar belakang, pertimbangan, dan proses menjalani empat keputusan saya.

 

Pertama, skripsi yang harus memberikan kontribusi terhadap Ekonomi Islam. Mengapa Ekonomi Islam? Agak sulit terbayang bagaimana mulai menjelaskannya, tapi singkatnya demikian. Ilmu, pemahaman, dan kerja-kerja Ekonomi Islam cenderung memenuhi hari-hari saya di  empat tahun lebih dua bulan masa kuliah. Saya mendengar, mengenal, dan memelajarinya sejak semester satu kuliah dan berusaha melibatkan diri dalam aktivitas pengembangannya di kampus. Dari yang tertatih mengeja istilah; mudharabah, musyarakah, murabahah, dan sebagainya, sampai berbagai pemahaman yang didapat secara otodidak diujipublikkan dan diberondong pertanyaan di depan kelas. Bahkan Ekonomi Islam yang dipelajari di luar ruang-ruang kelas, seolah menjadi penutup aib keterbatasan dalam menguasai materi yang diajarkan di kelas. Artinya, ketika merasa sangat sulit untuk menjadi rujukan tentang materi kuliah –sering disebut ekonomi konvensional sebagai pembeda-, setidaknya saya bisa menampilkan diri menjadi rujukan dalam Ekonomi Islam. Sebab ketika itu, tak banyak yang berusaha dan fokus memelajari.

 

Saya juga meyakini bahwa memelajari Ekonomi Islam sama dengan belajar materi kuliah dua kali lebih banyak dibanding lainnya. Atau, jika pada akhirnya tidak sempat belajar materi kuliah, cukuplah belajar Ekonomi Islam sebagai pengganti. Sebab pada dasarnya, kerangka ilmu dan pemahaman –secara metodologi- tentu tidak berbeda. Hanya epistemologi, logika, teori dasar, dan asumsi yang digunakan berbeda. Bersyukur dengan itu, terbangun pemahaman tentang ilmu ekonomi dalam kerangka dan perbandingan yang lebih luas dan dalam. Sebuah nilai plus dibanding mahasiswa yang lainnya.

 

Al ‘ilmu qablal ‘amal. Ilmu adalah sebelum amal. Selain dimaknai sebagai sebuah prasayarat, pemahaman tentang ilmu di sisi yang lain juga menjadi batu pijakan untuk kerja-kerja yang harus segera ditunaikan. Nah, memahami Ekonomi Islam ketika yang lain belum tergerak hatinya menjadi tuntutan tersendiri untuk mengamalkannya, menunjukkan di tengah-tengah khalayak tentang pentingnya dan harusnya, serta menyampaikannya dengan mudah dan indah agar dapat menarik hati dan menggerakkan yang lainnya. Dari sinilah semangat dakwah Ekonomi Islam yang sedang mengakar dan tumbuh. Ianya –jika lebih jauh kita memandang- menjadi gelombang pergerakan dan semangat mahasiswa yang memiliki perhatian terhadap Ekonomi Islam dan masalah ummat. Ada idealisme, dan kerja-kerja, dan ada kontribusi yang terus-menerus ingin dihadirkan.

 

Bersama sahabat yang lainnya, kami bersepakat bahwa salah satu ukuran idealisme dan syi’ar dakwah Ekonomi Islam yang kami bawakan, juga sebagai warisan yang ingin ditinggalkan di kampus, adalah menulis skripsi dengan tema Ekonomi Islam. Sampai ada tersemat; jika belum menulis skripsi tentang Ekonomi Islam, berarti belum bisa disebut aktivis dakwah Ekonomi Islam. Hal ini berawal dari kegelisahan masih terbatasnya literatur Ekonomi Islam yang tersedia serta kurangnya semangat untuk mengkaji dan mengkaji. Sampai-sampai kita pernah punya mimpi; suatu saat nanti skripsi tentang Ekonomi Islam dikritisi dan dikembangkan dalam skripsi berikutnya, dan berturut demikian seterusnya, hingga skripsi-skripsi tersebut seolah saling berdebat dalam hubungan tesis-anti tesis-sistesis, memenuhi perpustakaan fakultas kami. Ah, mimpi yang mungkin masih sangat panjang untuk menemuinya, namun memulainya harus dari sekarang; dengan menulis skripsi tentang Ekonomi Islam.

 

Setelah memutuskan untuk menulis skripsi tentang Ekonomi Islam, saatnya untuk memunculkan ide dan menulis judul. Dan ini pun memiliki ceritanya sendiri. Berbicara tentang Ekonomi Islam, bagaimanapun kita akan sangat familiar dengan perbankan syariah. Bahkan, Ekonomi Islam sering diidentikkan dengan perbankan syariah. Kalau mengkaji Ekonomi Islam itu kecenderungannya mengkaji perbankan syariah. Entah karena momentum kemunculan Ekonomi Islam pertama kali di Indonesia ditandai dengan berdirinya bank syariah pertama, Bank Muamalat Indonesia, pada tahun 1992, menjadi pemantik pertumbuhan pesat perbankan syariah di Indonesia setelahnya. Atau entah karena kebanyakan data yang tersedia bersumber dari data-data perbankan syariah yang mudah ditemui dan diakses. Entah pula karena dalam grand design pengembangan Ekonomi Islam di Indonesia, perbankan syariah memiliki gambaran dan target-target yang paling konkret. Tentunya, ada latar belakang atas hal tersebut. Padahal sejatinya, harus dipahami bahwa perbankan syariah merupakan bagian kecil dari Ekonomi Islam itu sendiri. Selain perbankan syariah, Ekonomi Islam sejatinya diawali dari pemahaman mengenai fiqh muamalah, ilmu ekonomi Islami, ada pula teori tentang manajemen syariah, akuntansi syariah, kebijakan fiskal dan moneter Islami, pengelolaan zakat, dan sebagainya. Saya kira, tulisan tentang perbankan syariah sudah cukup banyak ketika itu. Sementara bahasan yang lainnya sepertinya kurang menarik minat. Atas dasar itulah, saya memutuskan untuk tidak menulis skripsi dengan tema perbankan syariah.

 

Sepanjang memelajari Ekonomi Islam, bidang yang cenderung menarik hati saya adalah dalam kebijakan fiskal. Sejak awal kuliah saya sudah memilih berkonsentrasi pada Ekonomika Publik dan Ekonomika Pembangunan. Secara umum, di sana membahas bagaimana negara dan strateginya mengelola urusan masyarakat, menciptakan kesejahteraan, serta melindungi masyarakat dari berbagai krisis yang berpotensi melanda. Ketertarikan saya juga disebabkan adanya pertanyaan besar yang masih belum terjawab. Ketika belajar kebijakan fiskal dalam Ekonomi Islam, berbagai rujukan selalu berangkat dari sejarah. Bagaimana dahulu RasuluLlah SAW menerapkan kebijakan fiskal dalam mengelola ummat, dilanjutkan oleh Khulafaur Rasyidin, sampai pada masa-masa berkuasanya kedinastian Islam. Sebagaian besar literatur yang tersedia memaparkannya sebagai cerita, sambung-menyambung, belum secara khusus terbangun teori yang kontekstual dan dijadikan pijakan pengambilan kebijakan di saat ini. Dalam keterbatasan konteks yang dihadapi berbeda; bahwa dahulu pemerintahan yang berjalan merupakan pemerintahan Islam, sementara ketika berbicara Indonesia saat ini, tidak ada pemerintahan Islam. Seolah-olah berusaha menerapkan kebijakan Ekonomi Islam sebagaimana masa kekuasaan Islam di Indonesia masih jauh terjangkau di langit sana. Tapi menurut saya, sekali mengupayakan tidak serta merta akan tercipta. Ada proses bertahan, perlahan tapi pasti, yang harus dilalui. Saya tidak hilang asa, dan akhirnya memulainya dari satu teman, salah satu bagian terpenting dalam kebijakan fiskal Islami yang berharap suatu saat nanti dapat segera diterapkan di negeri ini secara baik; zakat. Dengan merujuk teori-teori dan penelitian-penelitian mengenai strategi pengumpulan pungutan dana masyarakat untuk menjalankan kebijakan, saya akhirnya menemukan judul skripsi ini; “VARIABEL-VARIABEL YANG MEMPENGARUHI KEPATUHAN MENUNAIKAN ZAKAT: PENDEKATAN KONTINJENSI.”

 

Kedua, menggunakan data primer dan menyapa masyarakat. Saya memulai menulis skripsi dengan sebuah keyakinan bahwa kebermanfaatan skripsi sebenarnya tidak cukup hanya dari hasilnya, namun juga sepanjang prosesnya juga bisa menghadirkan kebermanfaatan. Maka ketika mahasiswa kebanyakan cenderung lebih menyukai data sekunder yang sudah tersedia di berbagai sumber dan tinggal unduh, saya memilih sebaliknya. Saya lebih tertarik menggunakan data primer, mengambil data langsung dari sumber utamanya. Pilihan ini tentu membawa konsekuensi; saya membutuhkan waktu lebih lama, energi lebih besar, dana lebih banyak, kesabaran lebih panjang, dan secara teknis, saya pun harus belajar bagaimana menyusun kuesioner yang benar. Tapi alhamduliLlah, semangat saya ketika itu tidak sampai memandangnya sebagai hambatan yang layak dihindari, malah menjadi tantangan yang harus dihadapi.

 

Sebelum saya jelaskan lebih lanjut tentang proses pengumpulan datanya, perlu saya jelaskan sekilas pertanyaan penelitian dari skripsi saya. Skripsi yang saya susun berusaha mencari tahu apa-apa saja faktor yang signifikan memengaruhi pengumpulan zakat di Indonesia, berdasarkan pertimbangan faktor-faktor yang selama ini sudah menjadi bahan kajian pengumpulan pajak di Barat. Selanjutnya, ingin diketahui pula apakah perbedaan kultur sosial keagamaan memberikan pertimbanagn faktor pengaruh yang berbeda. Oleh karena itu, kuesioner yang saya buat berusaha mengumpulkan informasi faktor-faktor apa saja yang memengaruhi pengumpulan zakat di masyarakat dan sampel yang digunakan adalah masyarakat di lingkungan yang kental nuansa sosial keagamaannya.

 

Saya menetapkan empat daerah dalam pengambilan sampel, antara lain: Mlangi (Sleman), Krapyak (Bantul), Kauman, dan Jogokariyan (Kota Yogyakarta). Berdasarkan penelitian pendahuluan untuk memilih sampel, saya melihat empat daerah ini memiliki karakteristik kultur sosial keagamaan yang cenderung berbeda-beda. Budaya sosial keagamaan di daerah Mlangi cenderung dipengaruhi oleh Nahdlatul Ulama (NU). Sementara budaya sosial keagamaan di daerah Kauman –tempat lahirnya Muhammadiyah atas rintisan K.H. Ahmad Dahlan- cederung dipengaruhi oleh Muhammadiyah. Sedangkan Krapyak dan Jogokariyan, yang secara lokasi bersebelahan, memiliki nuansa sosial keagamaan Islam yang bagus; dalam percampuran berbagai latar belakang.

 

Agar proses pengumpulan datanya juga bermanfaat, saya sekaligus menetapkan bahwa proses pengumpulan data untuk skripsi ini juga harus menjadi kampanye dan sosialisasi pengumpulan zakat di masyarakat. Rasanya awal-awal sulit dibayangkan, ketika memutuskan kampanye seorang diri, tapi dengan semangat dan kesabaran yang panjang, alhamduliLlah terrealisasi juga. Kalau di DKI Jakarta kemarin sangat ramai istilah “Ketuk Sejuta Pintu”, mungkin tanpa sadar itulah yang saya lakukan. Saya menjalani proses perizinan, mulai dari tingkat provinsi, kabupaten, kecamatan, kelurahan, sampai tingkat RT –akan panjang lagi jika diceritakan-, dan menemui berbagai macam realita dalam proses perizinan dan birokrasi di negeri kita tercinta ini. Akhirnya, setelah proses perizinan beres, saya menjalani aksi ketuk pintu warga selama kurang lebih dua bulan, setiap sore sepulang dari tempat kerja di Laboratorium Ekonomika dan Bisnis Islam UGM. Dalam proses ini, saya banyak mendapat pemahaman yang tidak pernah terpapar di buku-buku, bagaimana pandangan masyarakat tentang zakat, bagaimana pemahamannya, bagaimana pendapatnya tentang pengelolaannya saat ini, bagaimana pemerintah seharusnya bertindak, dan perbandingan atas itu semua antara lingkungan Muhammadiyah-NU-selain dominan keduanya. Dalam proses ini, kampanye dengan membagikan stiker ajakan berzakat dan meminta tuan rumah untuk menempelkannya di depan pintunya juga berhasil ditunaikan. Saya membayangkan, semoga stiker-stiker itu saat ini masih ada tertempel. Dalam proses ini, dan tentu ini yang utama, dapat bersilaturrahim dan menyapa masyarakat, berempati dengan realita yang mereka jalani –hidup di lorong-lorong, rumah berdempetan-, berusaha memahamkan mereka tentang zakat, membesarkan hati mereka yang berkekurangan, dan sebagainya. Meski tak selalu mulus prosesnya, beberapa kali ketuk pintu tidak berjawab, ditolak sebelum menyampaikan permohonan, sulitnya menjelaskan pada masyarakat yang terlalu tua, adanya kuesioner yang tidak terisi, keterlambatan dari yang dijanji sehingga harus didatangi esoknya lagi, dan sebagainya. Banyak pelajaran, tentang kesabaran dan pantang menyerah. Semoga Allah limpahkan keberkahan atas niatan dan proses ini.

 

Ketiga, selain jadi skripsi harus jadi jurnal ilmiah. Hal ini berangkat dari kebiasaan bahwa skripsi yang sudah jadi hanya sebagai pelengkap persyaratan menjadi sarjana. Setelah itu, hanya akan menjadi tumpukan artefak di gedung perpustakaan fakultas. Kalau pas judulnya bagus, paling nggak akan dirujuk adik kelasnya yang akan menulis skripsi juga. Kalau pas nggak bagus, mungkin tercukup manfaatnya sampai mengantarkan menjadi sarjana saja. Maka ada harapan, bagaimana caranya agar skripsi yang sudah diupayakan dengan susah payah dan sekuat tenaga, dapat bermanfaat lebih luas. Yang terbayang ketika itu, kalau tulisan masuk jurnal, setidaknya tulisan akan ikut beredar mengikuti peredaran jurnal itu. Tidak hanya terbatas di perpustakaan fakultas saja.

 

Ketika mulai menulis, sama sekali saya tidak ada gambaran bagaimana agar hasil penelitian yang tertuang dalam skripsi bisa dipublikasikan di jurnal ilmiah. Namun, setiap niat baik pasti Allah akan berikan jalan. Setelah proses penyusunan skripsi dituntaskan, ujian pendadaran diluluskan, segera saya merombak ulang paparan dalam skripsi sehingga menjadi tulisan yang baru, dengan format jurnal ilmiah yang lebih singkat dan padat. Setelah jadi, saya coba ajukan ke salah satu jurnal ilmiah yang diterbitkan di UGM. Gayung pun bersambut, tulisan saya masuk melewati meja editor dan akhirnya ikut dipublikasikan dalam salah satu edisi jurnal tersebut. AlhamduliLlah, tulisan ilmiah pertama di jurnal.

 

Keempat, menyelesaikan skripsi dalam satu semester saja. Sungguh, setelah memerhatikan proses yang harus dijalani, target ini termasuk dalam kategori yang cukup singkat. Normalnya, penelitian dengan data primer; dari mencari ide, merumuskan tema dan judul, menyusun pertanyaan penelitian, membuat kuesioner, menyebarkan kuesioner dan mengumpulkan data, mengolah data, menganalisis dan menyimpulkannya, sampai dengan menuliskannya secara sempurna dalam dokumen skripsi membutuhkan waktu yang lebih panjang jika dibanding dengan menggunakan data sekunder pada umumnya. Dan terbukti, saya menyelesaikan skripsi lebih dari satu semester pada akhirnya. Total mendekati sembilan bulan. Targetnya tidak tercapai memang, tetapi ada kesyukuran yang besar atas prosesnya yang panjang dan penuh pelajaran. Sebagaimana semua yang telah terceritakan di sini, dan sejatinya masih sangat banyak pelajaran yang tidak sanggup dituliskan.

 

Setidaknya, keempat keputusan yang terurai dalam proses-prosesnya menjadi kerangka besar penyusunan skripsi saya ini. Segalanya tetang skripsi ini, sejak pada mulanya, mengenangkan saya dengan salah satu pesan dalam buku Negeri Lima Menara karya Ahmad Fuadi, menovelkan kisahnya ketika menjalani salah satu fragmen hidupnya di Gontor; hidup sekali, hiduplah yang berarti. Ada nilai-nilai tebaran kemanfaatan yang ingin selalu dihadirkan sebagai latar belakang kehidupan kita. Sama halnya, juga dalam skripsi; skripsi sekali, skripsilah yang berarti. Kita tahu, skripsi dalam hidup pun hanya sekali –kecuali jika kita mengambil gelar kesarjanaan lain-, maka harus ada niatan bahwa yang sekali itu saya jangan sampai tidak ada manfaatnya, sia-sia. Harus ada cita-cita bahwa dalam satu skripsi saja, kita dapat menghadirkan berbagai macam kebermanfaatan. Mungkin sahabat yang lain mampu menghadirkan kebermanfaatan yang lebih banyak, lebih besar, lebih dirasa. Saya harap, demikian juga dengan kita, Demikian juga dengan karya-karya kita yang telah menyita banyak waktu dan energi kita, dengan susah payah yang telah kita korbankan untuk menuntaskannya.

 

Aditya Rangga Yogatama

Ilmu Ekonomi UGM 2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s