Membangun Lembaga Ilmiah dan Penalaran di Kampus

Lembaga ilmiah dan penalaran telah menjadi ruang yang lapang bagi pengembangan kompetensi dan kredibilitas personal seorang mahasiswa. Berbagai aktivitas di dalamnya memiliki potensi untuk menyelaraskan ketercapaian keduanya secara bersamaan. Aktivitas penelitian dan diskusi yang menjadi program utama membiasakan mahasiswa dengan kerangka berfikir dan kultul ilmiah. Hal ini juga menjadi pemantik dan pendorong dalam meraih prestasi akademik di kampus. Aktivitas keorganisasian dengan berbagai permasalahan dan potensinya menjadi ruang pembinaan karakter, moral, dan jiwa kepemimpinan yang kokoh. Hal yang tidak cukup diperoleh dari pendidikan formal. Keselarasan ini yang mempu mendorong seorang mahasiswa menjadi inspirasi bagi siapapun.

Di Indonesia, lembaga ilmiah dan penalaran telah berkembang pesat di berbagai kampus. Sejumlah nama sebagai berikut: Gama Cendekia (GC) di UGM, Research and Business (R n B) di Undip, KSM Eka Prasetya di UI, Forum for Scientific Studies (Forces) di IPB, LSO Ristek di Unibraw, dan lain-lain. Masing-masing lembaga tersebut telah mampu menunjukkan eksistensi, membangun karakter, dan mengukir rentetan prestasi sampai di tingkat nasional. Ke depan, kebutuhan akan hadirnya lembaga ilmiah dan penalaran akan menyebabkan pertumbuhannya secara cepat dan merata di berbagai kampus lain di Indonesia.

Berkaca dari lembaga ilmiah dan penalaran yang sudah ada, beberapa hal berikut ini harus mendapat perhatian utama dalam membangun lembaga yang kokoh, berkarakter, dan kontributif.

Visi

Visi adalah tujuan akhir lembaga, ingin menjadi seperti apa. Ibarat suluh bagi sebuah kapal, visi menjadi penunjuk arah ke mana lembaga mengayunkan langkah. Visi sebuah lembaga harus besar, menantang, realistik, dan jelas waktu pencapaiannya. Oleh sebab itu, visi pun mengenal tahapan. Setidaknya ada empat tahapan visi yang harus dirancang matang, dari yang terawal: visi pembinaan, visi kelembagaan, visi kebangsaan, dan terakhir visi peradaban. Visi pembinaan adalah tentang pembangunan karakter pada diri-diri anggotanya. Visi kelembagaan adalah tentang cita-cita kontribusi lembaga. Visi kebangsaan adalah tentang cita-cita akan negeri ini dan bagaimana kontribusi lembaga. Visi peradaban adalah tentang masyarakat dunia yang ingin dibangun.

Kaderisasi dan Pembentukan Karakter

Terkenang dengan sebuah nasihat. Kita boleh gagal dalam aktivitas, namun kita tidak boleh gagal dalam karakter. Dalam setiap lembaga, ada karakter yang hendak dibangun dalam diri anggota-anggotanya. Ada kompetensi yang harus diasah dan dilejitkan, ada kerja-kerja profesional yang harus dibiasakan, serta ada kontribusi yang harus dihadirkan pada akhirnya. Tentang karakter ini, kita mengenal istilah KPK: kompeten, profesional, dan kontributif. Inilah sebentuk karakter yang ingin kita bangun pada diri-diri kita dan seluruh anggota lembaga.

Penelitian dan Diskusi

Dalam lembaga ilmiah dan penalaran, riset dan diskusi merupakan produk utama. Bagi lembaga ilmiah dan penalaran, setidaknya riset dan diskusi memiliki dua makna: Pertama, sebagai wujud eksistensi lembaga. Kedua, sebagai media pengembangan kapasitas anggotanya. Melalui riset dan diskusi, kompetensi akademik terus dikembangkan. Pada akhirnya, penelitian dan diskusi harus diarahkan kepada pemberdayaan masyarakat.

Jaringan

Sebuah tujuan besar tidak dapat dicapai sendirian. Ada orang lain di luar sana, ada banyak pihak dan lembaga yang memiliki tujuan sama. Sinergisitas yang dibangun akan mampu menghasilkan kerja-kerja yang berdampak lebih besar. Jaringan dan mitra dalam kerja-kerja bersama akan meringankan beban dan memperbesar dampak.

Keempat hal tersebut menjadi dasar yang harus dibangun sejak awal. Selanjutnya, perkembangan lembaga membutuhkan pemeliharaan budaya dan nuansa berikut: (1) learning organization, lembaga mampu mengenali dirinya, mengenali situasi yang dihadapinya, lalu bertahan dan mengembangkan diri dengan menyesuaikan dengan lingkungan yang dihadapinya; (2) leadership, sebentuk kerjasama yang tertata dan mampu bekerja sesuai dengan porsi dan kewenangannya masing-masing sehingga menghasilkan kontribusi yang besar; dan (3) shared vision, tujuan bersama yang difahami bersama, berusaha dicapai dalam kebersamaan.

Awal-awal membangun lembaga baru, dibutuhkan tokoh-tokoh inti yang merintis. Mereka adalah orang yang tetap ada di saat tidak ada yang lain. Mereka bersama-sama menyusun rencana strategis lembaga sekaligus menjadi penggeraknya di awal-awal. Selanjutnya, memperluas diri dengan rekrutmen anggota sebagai pendukung. Program kerja dan aktivitas yang berjalan kontinu akan menunjukkan eksistensi lembaga. Membesarnya lembaga, membutuhkan alur kaderisasi yang matang, jaringan dan mitra yang semakin erat dan luas, juga fokus pada kontribusi-kontribusi yang lebih besar lagi.

Akhirnya, kekata Hideyoshi Toyotomi layak dikenang. Keberuntungan memengaruhi segalanya dalam hidup, tetapi tidak ada yang bisa mengalahkan tujuan yg terencana serta berjuang dengan sepenuh jiwa dan raga untuk mencapainya. Tidak ada awal jika tidak dimulai. Dan tidak ada kesuksesan jika tidak dipersiapkan baik. Maka bagaimana dengan lembaga ilmiah dan penalaran di kampusmu? []

 

 

Buletin Akselerasi Edisi Oktober 2011, Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI) Klaster Mahasiswa

One thought on “Membangun Lembaga Ilmiah dan Penalaran di Kampus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s