Jangan Mengeluh

AlhamduliLlah. Allah perkenankan saya menyadari kekurangdewasaan saya, dengan jalan yang indah. Pada setiap keluh yang pernah tersampai hingga oleh lisan saya, Allah tunjukkan jawaban sebentuk renungan mendalam buat diri dari sekian perbincangan dengan sosok-sosok yang inspiratif. Indahnya, renungan itu yang kemudian hadirkan penentram hati atas segala keluh.

Mengeluh. Seolah mengidentik pada kecenderungan hati yang ringkih. Atau ketidakmampuan menata dan mengelola setiap rasa terhadap takdir yang terkarunia. Mengeluh pun boleh jadi tersebab oleh melemahnya iman dan keyakinan pada pertolongan Allah. Dan keluhan itu, tentu saja akan membersamai mereka yang tidak mampu hadirkan syukur atas apa-apa yang terkaruniakan. Juga mengiringi mereka yang tidak sanggup hadirkan sabar atas apa-apa yang tercobakan. Padahal, orang beriman, terbekali padanya syukur dan sabar pada ketentuan Allah yang menjadikannya kebaikan. Setidaknya, itu yang pernah saya rasai. Dan, memang, mengeluh ini berkaitan dengan rasa.

Ya, sebuah pilihan yang pernah saya ambil dengan tanpa pertimbangan seutuhnya, seringkali masih mengajak diri pada keluhan. Ketika pilihan itu, apa yang tertakdirkan, memang tak sejalan dengan apa yang dicitakan awalnya. Lalu ungkapan Ustadz Hilmi Aminuddin yang berkali-kali menjadi renungan diri. “Kita merencanakan,” ungkap beliau, “untuk menyesuaikan diri dengan rencana Allah.” Sebab itu kita berdo’a agar rencana kita adalah rencana Allah. Ketika rencana kita tak sejalan dengan rencana Allah, maka bersiaplah untuk takjub pada rencana Allah untuk kita, yang tentunya lebih baik. Begitu pula, soal cita-cita. Ianya membutuhkan rasa.

Ada ingatan pada apa yang Ustadz Salim sebut sebagai cita rasa. “Maka sebuah cita,” begitu redaksinya, “Selalu perlu rasa.” Rasa yang kemudian mengajak belokan-belokan pada cita-cita perjalanan menjadi penuh keindahan yang tiada pernah terduga sebelumnya. Tentu, bisa jadi perjalanan yang tertempuh nanti akan menjadi lebih panjang dan berliku, namun dalam yang demikian itu Allah telah siapkan berbagai keindahan untuk lebih banyak dinikmati. Atau dalam ketentuan lain, Allah hendak tunjukkan sebuah cita yang sejatinya lebih baik untuk kita. Ada banyak hal yang terkadang tak sanggup dijangkau oleh upaya kita. Ya, ada berbagai macam hal yang terkadang harus membelokkan arah kita dalam mengejar cita-cita yang tercenderungi. Ada pula banyak hal yang memang Allah ganti, tak sejalan dengan cita-cita. Maka selalu dalam keyakinan, Allah lebih tahu yang terbaik untuk kita.

Kasih sayang Allah, ketika masih tersisa rintik-rintik keluh pada diri, Allah tambahkan renungan diri melalui lisan-lisan mereka agar bertambah kefahaman dan kelapangan. Satu nasihat seorang sahabat yang menyindir dalam-dalam, “Capek lho ngeluh terus. Buang waktu.” Iya, dan memang tiada manfaat, juga menunda berbuat.

Tiada yang layak untuk dikeluhkan dari apa yang Allah takdirkan. Termasuk juga yang sudah dipilih dan dijalani. Maka bersama itu ada harapan ditumbuhkan. Semoga kita tidak menjadi hamba yang kufur nikmat. Sebab mengeluh, boleh jadi teselip rasa kekufuran atas nikmat dengan tidak mensyukuri pada yang Allah pilihkan untuk kita. Konsekuensinya, Allah ingatkan bahwa azabnya sangat pedih. Dan yang tekecilnya, boleh jadi adalah kesempitan dalam hati dan keterputusasaan. AstaghfiruLlah.

Maka bersyukur dan bersabar, itulah sebaik-baik pilihan rasa. Agar tak sampai terjangkit keluh sejak dalam hati. Pada keduanya, Allah gandengkan kebaikan, entah dalam keadaan apapun kita. Dalam kesulitan, juga dalam kemudahan. Pada Allah kita kembalikan semuanya. Setiap takdir Allah, harus kita maknai dengan ikhtiyar kemanfaatan dan kemaslahatan, juga tanpa kesiaan dan keluh kesah. Setiap takdir Allah, harus kita maknai dengan kebaikan-kebaikan.

Pilihan rasa adalah pemantik kelapangan hati. Tanpa rasa, cita itu terkadang membatasi. Sampai-sampai tertutup kesempatan untuk berbuat yang lebih besar, andai tak sejalan dengan cita yang dibayangkan. Padahal, dalam pertimbangan-pertimbangan cita kita teriring lebih banyak prasangka dan ketidaktahuan. Inilah rasa, yang pada akhirnya melapangkan hati untuk menikmati penyesuaian-penyesuaian dengan rencana terbaik Allah untuk kita.

Akhirnya, jazaakumullaahu khairan katsiiraan. Untuk setiap insan yang menjadi pembina setia dalam melatih rasa; guru-guru kehidupan. Hingga tersempat saya mengecap manisnya rasa. []

“Jangan mengeluh.”
(Leadership Camp Stage, JMME FE UGM, 2006)

Kwitang, 28 April 2011
Aditya Rangga Yogatama
Tulisan pertama di tahun 2011 :-)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s