Hari Ini Untukmu, Ibunda..

Berbincang dengan ibunda, senantiasa hadirkan sedalam renungan buat saya. Uniknya, kalau saya ingat perbincangan-perbincangan dengan beliau, sebagian besar terjadi dalam perjalanan. Ya. Sering kesempatan itu datang saat saya memboncengkan beliau, dalam perjalanan mengantar berbelanja, atau bersama menemani adik jalan-jalan, juga saat-saat lain yang serupa.

Hari ini, saat-saat akhir kesempatan saya banyak-banyak membersamai beliau sebelum pergi merantau, perbincangan pun terasa jauh lebih dalam dari biasanya. Ketika yang ternasihatkan, yang terrembug, dan terrencanakan, adalah tentang hari-hari di rantau nanti. Ada berontak ngeyel dalam celetuk dan sikap, hehe –semoga tak sampai menyebabkan murka Allah ya-, jika rasa-rasanya ibunda terlalu jauh mendikte diri. Ini dan itu, seolah kita tak pernah tahu. Ada sekerabat angkuh mungkin, saat terbisik dalam hati demikian, “Iyaa Buu, saya sudah tahu, masa begitu saja sampai dibilangin terus..” AstaghfiruLlaah, mudah-mudahan hanya menjadi sebab kenangan yang selalu terrindu nantinya –dalam indah-, bukan kerenggangan hubungan dan ketidakberbaktian yang memantik murka.

Saya tahu, ini hanya disebabkan oleh cinta. Cinta ibunda pada sang putra. Maka dalam nasihat dan perlakuan ibunda sejatinya tertumpuk harapan-harapan terbaik. Bukan yang terbiasa diprasangkakan; menyulitkan, merepotkan. Bukan juga sebuah pengekangan, atau kekhawatiran berlebihan, hanya dalam kalbu yang tak sanggup mendengar kesusahan sang putra. Dari seorang ibunda sahabat, saya pernah memahami maksud baik itu. Ketika sang putra, sahabat saya itu, menelpon ibundanya dari rantau, menceritakan kondisinya. Lalu indah penuh syukur jawaban ibundanya, “AlhamduliLlaah, ya syukur nek kowe ora nganti keliren neng kana Le..” Yang penting kamu tidak sampai kelaparan saja. Begitu.

Sungguh, kalau terjadi beda solusi, hanya sebab bedanya pula cara pandang tentang penyikapan suatu kondisi. Sekali lagi, bukan menyulitkan. Juga bukan merepotkan. Dari gurunda, Ustadz Didik Purwodarsono, beliau pernah mengetengahkan tentang cara pandang ini. “Ketika orang tua belum izinkan, pada dasarnya bukan menghalangi“, kata beliau –sebagaimana yang sering terprasangkakan-. Sebabnya, hanya tak ingin sang putra sampai menderita. Alasan yang mirip dengan ibunda sahabat saya itu bukan? Para ibunda biasanya berkesimpulan demikian, “Cukup saya saja yang menderita, anak-anak jangan sampai.” Ini lumrah. (Namun kalau berlebihan, berpotensi mendampak dalam metoda pendidikan; anak dibesarkan dengan fasilitas, bukan realitas. Cenderung steril, bukan imun. Padahal, anak harus diajari ikhtiyar, bukan menghindari masalah. InsyaaLlah, lain kesempatan kita bahas ini lebih panjang ya..)

Karena itu, yang terbaik adalah dengan sepenuh cinta –meski masih tak sanggup menyamai cinta beliau kepada sang putra-, kita senantiasa dampingi dan dengar beliau dengan santun, dalam prasangka baik, wajah baik, pandangan baik, tutur baik, laku baik, serta jangan sampai menyakiti hati sebab ketidakmengertian yang jarang disadari. Jangan sampai kita –tega-teganya- mengkhianati cinta beliau, memandangnya dengan prasangka yang salah dan berlebihan, hingga berujung sikap yang salah mengeruhkan bakti. Jalan keluarnya, ada pada komunikasi yang baik. Masalah perbedaan ini sering muncul dalam ketiadaan komunikasi atau komunikasi yang tidak sehat. Sulit ya? Tidak lah. Katakan insyaaLlah, lalu ikhtiyar, mudah-mudahan Allah senantiasa bimbing kita. Tentang ini, sebenarnya Allah telah menyebutkan dengan kata yang indah; persahabati…

“Dan kami wasiatkan kepada manusia tentang kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepadaKu-lah tempat kembali. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu atasnya, maka janganlah kau taati keduanya. Dan persahabati mereka di dunia dengan baik.” (Q.S. Luqman: 14-15)

Ya. Mari bersyukur dengan taati dan persahabati. Dalam segala hal, kecuali mmpersekutukan Allah. Ibunda, Allah sebut tiga kali tentang yang berhak peroleh kebaikan kita, baru kemudian ayahanda. Dan kedua orang tua, ibunda dan ayahanda, dalam tingkatan cinta kita, setelah Allah dan RasulNya. Kesyukuran itupun, dengan mendo’akannya..

“Rendahkanlah ketundukan kalian penuh kasih sayang kepada keduanya. Dan ucapkanlah; Tuhanku, kasihanilah keduanya, sebagaimana mereka telah mendidikku di waktu kecil.” (Q.S. Al Isra 24)

Hm, kok jadi panjang ya? Semoga yang panjang ini hadirkan manfaat.

Namun sebenarnya, saya tadi hanya ingin bercerita dengan nasihat ibu dalam seperjalanan tadi. Dalam kalimat yang panjang, terangkum sebuah pesan indah yang akan selalu saya ingat sebagai bekal rantauan. Singkatnya, “Punyailah target, rencanakan –mulai dari istri, rumah, beasiswa luar negeri-. Dengan punya target, kamu akan berusaha menggapainya.” Lalu, bersambung pilihan-pilihan yang dapat diambil. “InsyaaLlah, Bu. Saya punya target, dan berusaha menggapainya satu demi satu, waktu demi waktu”, jawabku dalam senyum, dari hati.

Maaf, cukup dulu ya. Saya mau susun target dulu. Ssst, tapi yang ini rahasia saja.. :P

Minomartani, 19 Desember 2010, 23:51
Selalu ada rindu, hari-hari membersamai ibu, mendengar nasihatnya yang penuh cinta. Terlebih saat nanti di rantau. Ibu, sungguh, selalu ada rindu untuk berbakti padamu. -menjelang Hari Ibu-

4 thoughts on “Hari Ini Untukmu, Ibunda..

    1. Temannya ya Mbak? Diingetin tuh, suruh ngerjain skripsinya, :P
      Wah, saya masih ngontrak, belum punya rumah. Baiklah, salam kenal. Saya Yoga, aseli Jogja.
      Kunjunglah sesekali kemari… (Sesekali saja, agar tak terlalu bosan sebab mulai jarang diisi :D)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s