Agar Bernilai Hijrah

Selalu teriring harapan dalam sebentang perjalanan. Ya, harapan. Saya balas tanyanya, seorang sahabat saya tersayang, dengan serangkum harapan yang ingin coba saya tinggalkan. Di penghujung ia menyempurnakan perbincangan dengan permohonan yang hangat. “Iya deh,” tulisnya dalam sms, “semoga Antum dapat menyiapkan segala sesuatunya sebelum hijrah ke Jakarta.” Saya tersenyum. Tersemangati.

Hijrah. Sebuah ungkapan yang dipilih sahabat saya itu, terasa terlalu agung untuk disematkan pada perpindahan saya ke Jakarta nanti, insyaallah. Yang saya fahami, hijrah adalah sejarah. Sejarah yang menghajatkan kesungguhan tanpa jeda hingga tertuliskannya. Di sana pun tidak sempat terizin adanya pilihan lain, menembus batas antara suka dan tidak suka. Nyaman dan tidak nyaman.

Meski harus ada pengorbanan harta dan segala yang tak terbilang. Walau jelas ada ketidakjelasan masa depan yang terbentang. Tetapi tergantilah semua itu, tergerak oleh ketaatan tanpa syarat. Betul-betul tanpa syarat. Tentu, manusiawi, jika masih terselip duka lara yang membangkitkan rasa derita. Saat seluruh apa yang dimiliki terpaksa rela ditinggalkan. Tak ada yang dibawa. Bahkan, sesampai di lahan yang baru, masih saja tertumbuh rindu pada apa-apa yang tertinggal. Ingin pulang. Rasanya rumah sendiri jauh lebih nyaman. Namun terhapuslah semua itu, tergerak oleh ketaatan tanpa syarat. Lalu ketegaran sekokoh karang yang menopang terjalaninya hijrah hingga paripurna.

Tentu jauh berbeda dengan yang hendak saya jalani. Ketika nanti saya meninggalkan Jogja tercinta, ada rasa tenang tertinggal sebab buku-buku dan seisi kamar sepenuhnya terjaga aman. Berbeda dengan muhajirin yang tertinggalkan harta artinya entah tidak tahu siapa nanti yang akan mengambilnya. Juga ada rasa tentram tersisa, sebab tempat yang dituju pun sekilas telah jelas. Termasuk bagaimana nanti menjalani kehidupan di sana. Berbeda dengan muhajirin yang seolah tidak pernah tahu apa yang akan dijalani di Madinah nanti. Yang mereka tahu hanyalah berhijrah, berpindah dari Mekah menuju Madinah untuk menaati perintah Allah. Ya. Sangat berbeda. Maka biar saya menyebutnya, yang hendak saya jalani nanti, merantau saja. Mungkin itu istilah yang lebih adil.

Tentang do’a hangat dari saudara saya tersayang yang saya tuliskan sebagai pembuka cerita, perkenankan saya memaknainya sebagai harapan. Yang terharap. Yang hendak diikhtiyarkan. Agar rantauan yang akan terjalani nanti pun bernilai hijrah. Saya sangat setuju! Ya, tentunya tidak mudah, namun bukankan pada kita tertuntut ikhtiyar? Itu saja. Maka sebelumnya, izinkan sejenak saya mengambil sedikit tempat di sini untuk mendo’akannya, “jazaakumullaahu khayran katsiiraan, akhi fillah ash shalih.”

Selanjutnya, kita coba buka dan telaah sebuah ayat yang menjelaskan hijrah ini sebagai bagian dari sebuah alur; iman, hijrah, jihad –Al Qur’an surat Al Anfal: 74–. Ustadz Rahmat Abdullah menyebut alur termaksud dengan rangkaian amal islami. “Bertolak dari iman,” begitu redaksi beliau, “sebagai suatu pilihan hati nurani untuk bersama seluruh ciptaanNya tunduk mengabdi kepada Allah Rabbul ‘Alamien, seorang hamba memutuskan pilihan sulit; Diam di tempat dengan kehinaan, iman yang tidak produktif, dan masa depan yang sangat gelap atau berangkat!” Ya. Hijrah adalah sebuah keberangkatan sebagai sebuah konsekuensi pilihan iman. Lalu hari-hari setelah hijrah diyakini semangat membangun, semangat berjihad, bukan perasaan keterpaksaan yang kadang masih saja tersisa sebab cintanya pada yang ditinggalkan. Perasaan yang tertinggal dalam jiwa hanyalah, lalu menggerakkan adalah, sebuah keberserahan sepenuhnya pada Allah. Allah saja. Bermula niatan iman, terpilih adanya keberangkatan, serta setelahnya diikuti oleh semangat perjuangan, inilah yang mengantarkan akhirnya setiap rantauan bernilai hijrah. Semoga.

Sudah terlalu panjang. Maaf, jika saya cukuplah. Biarlah yang lebih panjang nanti, adalah renungan pada diri masing-masing, utama dan khususnya pada diri saya. Akhirnya, tentu ada makna mengapa yang terabadi sebagai kalender adalah hijrahnya, bukan kelahirannya, bukan momentum kenabiannya. Juga ada semangat dari Asy Syafi’i. “Jika kau tinggalkan tempat kelahiranmu,” tandas beliau, “kau akan temui derajat kemuliaan di tempat baru, dan kau bagai emas yang sudah terangkat dari asalnya.” Merantau, membening, menyilaukan! Ah, indahnya andai bisa demikian. Semoga ini senantiasa menjadi kemantapan bagi diri tentang pilihan merantau ini. Yang tak mudah, hanya paripurna sebab kesungguhan. Mohon do’a dan ingatan senantiasa ya.

Untuk hari ini, Selamat Tahun Baru 1432 H. Selamat merencanakan dan mempersiapkan agenda-agenda terbaik. Semoga berkah, istiqamah, dan husnul khatimah ;)

Minomartani, 6 Desember 2010, 23:16
Salah satu do’a saya yang terangkai malam ini, belajar dari do’a Rasulullah tentang Madinah; “Allah, buat saya mencintai Jakarta seperti cinta saya kepada Jogja atau lebih lagi. Sebarkan kesehatan di Jakarta, berkahi, singkirkan susah gelisah, sisakan ketenangan. Amiin.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s