Barangkali Itulah Pintu Pahala Bagiku

“Sayangku…” Khalifah membuka pembicaraan dengan santun. “Engkau tahu, aku telah diuji dengan urusan yang besar.” Sang istri perlahan memandang kejernihan air muka Khalifah. Pandangan keduanya pun bertemu dalam kejujuran. Sejenak keduanya terdiam. Naungan cahaya temaram melukiskan nuansa keindahan di seluruh sudut malam itu.

“Jika engkau ingin,” Khalifah melanjutkan kata-katanya. Suaranya semakin lembut meresap dalam hati. “Engkau bisa memilih bersamaku tanpa jaminan apapun. Atau jika engkau mau,” Masih Khalifah melanjutkan. Bersamaan dengan nuansa keharuan semakin menenggelamkan keduanya. “Engkau bisa meninggalkanku sedangkan keadaan dan urusanmu terserah padamu.” Mata kedua insan yang diuji Allah berkaca-kaca, tak sanggup menahan keharuan yang begitu hebat. Keharuan karena merasakan begitu besar cinta Allah untuk keduanya, dengan ujian ini.

“Aku ikhlas, menyerahkan pilihan ini sepenuhnya padamu Sayangku…” Sang istri terdiam sunyi, mendengar kata-kata sang suami meminta jawaban. Ada pilihan bagi sang istri di saat perasaan hati tak menentu. Bisa jadi dia memperoleh kemudahan hidup di dunia ketika memilih yang pertama. Dan itu tidak mengapa karena Khalifah telah mengizinkan. Namun, sang istri memilih jalan lain. Jalan yang akan dilewati dengan penuh perjuangan dan pengorbanan, dan hanya akan dipilih oleh orang-orang tertentu saja. “Aku akan tetap tinggal bersamamu tanpa jaminan apapun. Barangkali itulah pintu pahala bagiku atau bisa membantumu…” Jawab sang istri shalihah Khalifah. Subhanallah, jawaban yang menguatkan Khalifah. Dia yakin bahwa tidak ada keimanan tanpa ujian. Tidak ada surga terindah tanpa ujian yang besar. Dan dia memilih menjalani ujian bersama sang suami. Hingga senyum sejuk kedua insan yang dicintai Allah ini menjadi penutup pembicaraan besar ini.

Begitulah, pilihan-pilihan itu hadir bagi sang istri, Fatimah, ketika Khalifah Umar ibn Abdul Aziz diuji dengan amanah yang besar. Semoga Allah menghadirkan sosok-sosok seperti Fatimah yang mengokohkan dan menguatkan dalam perjuangan ini. Sosok yang cerdas, sabar, dan sederhana. Sosok yang ketika ditanya, “Selama ini, kita telah menjalani cinta dengan kesyukuran yang melahirkan nikmatNya yang berlipat. Namun kini, siapkah engkau ketika yang Allah minta dalam perjalanan cinta kita adalah kesabaran?” Dia menjawab, “InsyaAllah Mas…”

————-
Ahad pagi, 22 Maret 2009
Terkenang kembali ketika masih berusaha memantapkan hati pada jalan yang telah dipilihkan. Urusanku adalah berjuang untuk sesempurna-sempurna taat, sebaik-baik akhlaq, dan sepenuh kesanggupan menunaikan amanah, tanpa syarat. Barangkali itulah pintu pahala bagiku…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s