Kerinduan yang Terjujur

Pada mulanya adalah kerinduan. Pada akhirnya adalah sejauh mana kita mempertahankan kerinduan itu tetap terjaga dalam jiwa. Inilah yang sering dirasa tidak mudah bagi sebagian besar kita. Begitu sering kerinduan hanya bertahan sementara waktu. Hanya ketika semangat memuncak tinggi. Namun kemudian menghilang di saat-saat futur, terjatuh, dan terlupa. Hingga ujungnya, sering kali penyesalan pun tumbuh mengiringi terlambatnya kesadaran. Saat mulai teringatkan, sementara waktu telah lewat jauh. Menyedihkannya, jika itu berulang kali terjadi, hingga kita ringan merasai penyesalan. Inilah pertanda jiwa yang rapuh dan sakit.

Sesungguhnya kerinduan merupakan ejawantah dari keyakinan. Kita pun tahu, keyakinan yang masih terselip ragu akan membawa kerinduan yang terkadang-kadang. Kadang ingat, kadang lupa. Maka menegaskan keyakinan menjadi pilihan yang tidak bisa ditawar lagi untuk membangun kerinduan sepanjang perjalanan. Keyakinan yang tegas akan memupuk kerindungan untuk bertumbuh semakin besar dan berkembang semakin kokoh. Keyakinan itu mampu membangun pemikiran, kemudian mencipta kesadaran, akhirnya membuahkan akhlak yang menggerak. Dan keyakinan yang jujur senantiasa membuahkan amal yang benar dan bermanfaat. Amal yang menyempurna hingga menemukan muara kerinduannya.

Sejenak membaca diskusi dua shahabat pada masa itu, kita mengenang tentang kerinduan mereka. Keduanya memohonkan harapan masing-masing kepada Allah. Do’a shahabat yang pertama, “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu kesyahidan. Tuntunlah aku di jalanMu sehingga aku bertemu denganMu. Do’a shahabat yang kedua pun tak kalah mengagumkan, “Ya Allah, jika kami berhadapan dengaan musuh esok hari, pertemukanlah aku dengan musuh yang paling kuat, paling ganas, dan paling berani, berilah aku kekuatan untuk membunuhnya dan aku terbunuh olehnya, kemudian aku mendapatkan syahadah dan memasuki surga.” Dan keduanya menyempurnakan kerinduannya, do’anya.

Belajarlah kita dari mereka, tentang kerinduan. Karena kerinduan mereka begitu kokoh disebabkan oleh kejujuran pada Allah. Dan di sepanjang perjalanan, kerinduan selalu melahirkan keindahan pada tiap masa. Saat-saat paling melelahkan, adalah saat-saat terindah ketika kerinduan itu dirasai. Nah, bagaimana dengan kerinduan kita? Apakah kita telah jujur kepada Allah tentang kerinduan kita? Masih ada waktu untuk menata kerinduan…

11 April 2010
Bertanya dalam hati, tentang kerinduan-kerinduan yang tumbuh dalam hati. Menata ulang hati, agar merasai kerinduan tertinggi.. Tersemangati oleh saudara-saudara di jalan cinta para pejuang, yang banyak mengajari saya tentang kerinduan… Kerinduan karena Allah..

3 thoughts on “Kerinduan yang Terjujur

  1. oh bisa komen to?
    eh itu yang foto dikasih kredit, foto by: si ganteng at Rembang
    hahahhaha…oi aku ada blog baru ni Ekonom Gila, datang ya, hahaha saya cuma jalan-jalan blog ni…=P

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s