Jika pada Akhirnya Kota Ini yang Tertakdir

Jakarta. Inilah kota yang hampir selalu saya datangi dalam beberapa perjalanan terakhir. Juga kota yang paling sering saya kunjungi selama berkecimpung pada organisasi kemahasiswaan empat tahun terakhir. Setidaknya sekedar menjadi transit sebelum melanjutkan perjalanan menuju kota selanjutnya. Tentu ada sekian alasan yang tak perlu saya sebut berpanjang-panjang. Jakarta sebagai pusat negeri ini tentu sudah merangkum sekian alasan tersebut; pasar bagi pedagang-pedagang kecil, lowongan bagi sarjana-sarjana baru, singgahan bagi pejalan-pejalan berbagai kota, dan lain-lain. Saya yakin anda lebih banyak tahu dibanding saya yang hanya sekilas tahu.

Namun izinkan saya menyebutnya sebagai alasan yang memaksa. Apa sebab? Dari sekian alasan tersebut, jika diperkenankan jujur, buat saya tak ada yang terbangun oleh kehendak orisinil dalam hati. Lebih cenderung pada keterpaksaan daripada ketertarikan. Hehe. Berikut ini uraian dari apa yang ingin saya jelaskan. Berangkat dari apa-apa yang menarik buat saya. Inspiratif? Sepanjang pesisir pantura sebagai kampung halaman bagaimanapun masih tidak tergantikan inspirasinya. Indah? Payakumbuah dengan berbukitnya ditambah keramahan warganya mencatatkan kesan indah tidak ada tandingan. Teduh? Malang dengan keteraturan tata kotanya ditambah kesejukan hawanya menuliskan rasa teduh tidak ada saingan. Tentram? Jogja bagaimanapun menjadi kota cinta paling menawan yang senantiasa dirindu saat nanti pulang. Menyemangati untuk belajar, menulis, dan berkarya. Juga menghangat untuk beristirahat dan memulihkan kembali energi dan menumbuhkan visi. Lalu Jakarta? Ah, saya tidak tahu. Atau boleh jadi saya belum tahu saja. Kini saya terharus mulai belajar untuk tahu. Bukan untuk sekedar berkompromi dengan keterpaksaan yang melingkupi alasannya, namun terus menggali alasan yang lebih tinggi dari sekedar keterpaksaan itu.

Bagaimanapun, tetap pada akhirnya saya mulai bersiap menyusun rencana-rencana tentang kota ini. Juga mulai belajar tentang keseharian di sini. Itu andai Allah izinkan tertakdir, maka akan lebih banyak lagi insya Allah. Mengapa? Saya ingat-ingat, memang lahan amal yang saya tuju dalam jangka pendek ini semuanya ada di kota ini; mulai lari konsultan bisnis, perbankan, sampai dengan pemerintahan. Semua surat lamaran yang pernah saya susun bermuara di kota ini. Dan nantinya, saya juga belum tahu akan memijak di sudut mana dari kota ini. Yang pasti, dalam pekan ini saya merasa telah memulainya dengan baik sangka dan semangat dari sudut sini; Salemba. Ada banyak pelajaran yang Allah hadirkan selama empat hari ini.

Masih berhubungan, pernah ada bincang yang terkenang. “Aku berdo’a,” ujar seorang sahabat, “Allah, tingkatkan kapasitas diriku.” Dia mengambil jeda sehelaan nafas. “Engkau tahu apa yang Allah takdirkan?” tanyanya retoris. Saya masih saja tersunyi mendengarkannya. “Ya,” ia jawab tanyanya dengan mantap, “Allah takdirkan aku bekerja di tempat yang sangat menyulitkan dan tidak mengenakkan!” Saya pun tersenyum mendengarnya. “Aku tahu,” sambut saya bersemangat, “apa yang engkau ingin jelaskan.” Mengiringi kisah itu, pernah ada tertulis pengingat yang disampaikan sahabat-sahabat alumni lembaga akademis sebagai pembuka dalam risalahnya; “Ketika kumohon pada Allah kekuatan, Allah memberiku kesulitan, agar menjadi kuat. Ketika kumohon pada Allah kebijaksanaan, Allah memberiku masalah, untuk bisa kupecahkan. Karena Allah Rabb Yang Maha Tahu apa yang saat ini kubutuhkan.”

Apa artinya? Jika pada akhirnya kota ini yang tertakdir, boleh jadi Allah telah siapkan pelajaran demi pelajaran yang sejatinya menumbuhkan, mengembangkan, dan memberdayakan kapasitas saya. Ini yang pada akhirnya mulai kupelajari dan kufahami dalam lapang hati dan sepenuh kesadaran. Ketika dahulu saya pernah berujar, tidak hendak ke Jakarta dikarenakan kerasnya perjuangan yang harus dihadapi. Kini saya begitu bersemangat mendatanginya, sebab dari kerasnya perjuangan saya terbayang akan belajar untuk lebih kuat, lebih bijaksana, lebih berani, dan lebih dekat menghajatNya. Di sana saya bersiap menyambut dengan sangka baik sebab Allah Yang Maha Tahu, lalu beramal yang terbaik sebab itu yang membedakan seseorang dengan lainnya. Jika pada akhirnya kota ini yang tertakdir.

Jazaakumullaahu khairan katsiiraan, untuk saudara-saudaraku yang kuncintai karena Allah; Akh Andrie Javs serta keluarga –pakdhe dan budhe, serta ibu kos- yang sepetak kamarnya menjadi rumah berpulang saat hari memetang selama empat hari ini. “Salemba begitu inspiratif!” Akh Pugo yang rela menerobos Jakarta di tengah malam sekedar untuk menjemput saya yang telantar sebab banjir. “Ternyata begini ya Jakarta itu?” Akh Fauzul yang berbagi makan siang dan bersedia diganggu sejenak jam kerjanya. “Belum jadi futsal, kita jadwalkan lain kesempatan..” Dan juga Akh Subhan yang membersamai perjalanan dan perjuangan, serta menutup setiap kekurangan saya jika harus membayar-bayar. “Mari terus berjuang!”

——–
Sleman, 30 Oktober 2010
Catatan sepulang dari Salemba, menulis di bawah guyuran hujan abu pagi ini.

2 thoughts on “Jika pada Akhirnya Kota Ini yang Tertakdir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s