Sepotong Lembaran Peta Hidup

Ketika mempersiapkan perjalanan dan perbekalan (buku bacaan ketika nanti di Kereta Api), saya menemukan kembali beberapa lembar kertas yang mengembalikan ingatan saya. Ah iya, ini catatan peta hidup yang pernah saya susun beberapa tahun silam. Terkenang, ada inspirasi dari peta hidup Fahri ibn Abdullah Shiddiq dalam novel Ayat-Ayat Cinta. Saya cermati kembali, apa-apa yang tertoreh dalam lembar kertas itu.

Ada semangat yang terbaharui. Setidaknya untuk melengkapi ketertinggalam-ketertinggalan yang disebabkan oleh terabaikannya peta hidup tersebut dalam beberapa tahun terakhir ini. Tentunya juga, alhamdulillah, saya tidak tertinggal jauh-jauh amat. Belum terlewat, namun harus berlari lebih cepat. Misalkan saja di sana tercatat, saya menargetkan meraih sarjana pada usia 21 satu, alhamdulillah terpenuhi. Namun kapasitas bahasa asing dan hafalan masih harus dikejar. Ah, cukuplah. Setelah kata namun, pasti membuat saya menjadi malu, akibat akan terlalu panjang yang tertulis setelahnya. Mohon maaf, saya alihkan ya. Kita bincangkan tentang perjalanan saya kali ini.

Peta hidup yang saya temukan kembali tersebut memang sangat berkaitan dengan perjalanan saya kali ini. Insyaallah, dalam tiga pekan ke depan, saya akan sering bolak-balik Tugu-Pasar Senen untuk mengikuti beberapa tes seleksi kerja. Ada Kementrian Perdagangan, LIPI atau Kementrian Riset dan Teknologi (saya menggunakan atau karena jadwal tes bersamaan, jadi saya harus memilih salah satu), dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Saya berdo’a, semoga salah satu di antaranya menjadi tempat terbaik buat saya. Dan kalaupun tidak di antaranya, semoga segera diberikan tempat yang terbaik itu. Baik, mengapa saya katakan sangat berkaitan dengan peta hidup? Ya, bisa ditebak. Makanya saya tidak akan berbicara banyak. Sebagaimana yang jamak terjadi, setelah tahapan kuliah diselesaikan, tahapan berikutnya adalah kerja. Hehe.

Sudah dulu ya, saya ada janji bertemu seseorang ashar nanti. Ada hal penting. Sekarang saya mau siap-siap. Mohon do’anya dari sahabat saya sekalian agar peta hidup dan perjalanan senantiasa beriring kebaikan dan keberkahan.

“Usia 33 ibadah haji bersama istri, usia 28 menyabet gelar master (bersama istri), dan yang paling dekat, yang harus dikejar cepaat-cepat, usia 22 –sekarang- kerja dan menulis buku. Insyaallah masih bisa! ;)” (Peta Hidup, Aditya Rangga Yogatama)

——–
8 Agustus 2010, 14:15
Catatan sebelum keberangkatan ke Jakarta senja nanti.

One thought on “Sepotong Lembaran Peta Hidup

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s