Mahar

Bertubi-tubi kiriman undangan dari sahabat-sahabat sebaya mengajak –dan mendesak- saya untuk lebih sungguh-sungguh mengilmui apa-apa tentang nikah. Lhoh, apa hubungannya? Ini tidak usah dibahas. Ya, berbincang tentang masalah nikah memang menyimpul berbagai makna. Sesekali mengasyikkan, sesekali menggelisahkan. Nah, bagaimana dengan anda?

Terlalu banyak ilmu tentang nikah. Mulai dari pengertian, hukum, persiapan, proses, bahkan hingga pembinaan keluarga nantinya. Dan sebagian besarnya belum sungguh-sungguh saya fahami. Karenanya di waktu yang singkat ini saya tak hendak mengajak anda untuk mempelajari banyak-banyak. Kali ini, saya hanya ingin menuliskan tentang mahar saja. Bagi saya, yang satu ini menjadi rukun nikah yang unik. Mengapa? Karena tidak ada ketentuan dalam menentukan bentuk dan besarnya. Namun memang ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan utamanya. Perlu saya sampaikan, sebagian besar materi saya ambil dari makalah Pak Cah dan Akh Salim dalam sebuah seminar. Yuk, kita mulai membacanya.

“Dan berikanlah mahar kepada perempuan-perempuan yang kamu nikahi sebagai pemberian dengan penuh kerelaaan.” (Q.S. 4: 4)

Pengertian mahar adalah pemberian wajib dari seorang laki-laki kepada perempuan yang akan dinikahi baik berupa materi ataupun non materi. Mahar adalah salah satu rukun nikah. Bentuk dan besar mahar harus dibicarakan kedua belah pihak agar saling ridha dan tidak memberatkan. Nah, tentang bentuk dan besarnya mahar ini memang tidak ada ketentuan baku. Namun Allah sudah menjelaskan prinsip yang utama tentangnya.

Pertama, sederhana. Kita ingat sabda Rasulullah SAW, sebaik-baik mahar adalah yang paling ringan. Hal ini disebabkan Rasulullah SAW tidak mengingini adanya kesulitan dalam proses pernikahan. Sebagai gambaran, mari saya kutipkan sebuah kisah seorang wanita dari Bani Fazarah yang diberi mahar sepasang sandal. Rasulullah SAW bersabda, “Apakah engkau ridha terhadap diri dan hartamu hanya dengan sepasang sandal?” Dia menjawab, “Ya.” Beliau pun membolehkannya (HR Tirmidzi). Namun demikian juta tidak serta merta terlalu menyederhanakannya, disunnahkan memberi mahar tidak kurang dari sepuluh dirham, jalan tengah dengan Madzhab Hanafi yang mewajibkannya, dan jangan sampai lebih dari lima ratus dirham, nilai mahar anak-anak perempuan dan istri-istri Rasulullah SAW. Ada ungkapan Ibn Taimiyah berikut ini. Barang siapa yang dalam dirinya timbul keinginan untuk menambah mahar putrinya melebihi mahar yang diberikan kepada putri-putri Rasulullah SAW yang mereka semua adalah sebaik-baik wanita dari seluruh segi karakter, maka orang tersebut merupakan seorang bodoh yang amat bodohnya. Sama bodohnya, dengan mereka yang ingin memberikan mahar kepada istri mereka yang lebih banyak dari mahar yang diberikan Rasulullah SAW kepada istri-istri beliau yang mendapat julukan Ummahatul Mukminin. Itupun bagi orang yang dalam keadaan mampu, maka bagi orang fakir dan miskin tidak patut baginya untuk memberikan mahar yang tidak bisa ia penuhi selain dengan bersusah payah. Yang patut baginya adalah memberikan mahar yang mudah didapat tanpa harus bersusah payah.

Kedua, manfaat. Mahar boleh berupa uang, barang, ataupun non materi. Seseorang diperbolehkan memberi mahar pengajaran bagian dari al Qur’an atau melakukan pekerjaan tertentu. Mari saya kutipkan kembali sebuah kisah seorang fakir yang memberi mahar hafalan al Qur’an. Rasulullah bertanya, “Apakah engkau dapat membacakan kepadanya dengan hafalan (al Qur’an)?” Dia menjawab, “Bisa.” Beliau bersabda, “Pergilah, aku telah mengawinkanmu dengannya dengan mahar ayat al Qur’an yang ada padamu.” (HR Bukhari dan Muslim) Ingat pula, semulia-mulia mahar yang bernilai setinggi-tinggi kemanfaatan adalah mahar Ummu Sulaim, yaitu keislaman Abu Thalhah.

Ketiga, tidak boleh diambil kembali. Setelah akad nikah, terlebih setelah jima’, mahar sudah menjadi hak mutlak istri. Karenanya tidak boleh diminta kembali kecuali istri merelakan sebagian atau seluruhnya. Sedangkan kalau seseorang laki-laki mencerai istrinya sebelum jima’, ia wajib membayar setengah maharnya. Mahar seorang wanita ditetapkan secara penuh karena meninggal dan jima’.

Sebenarnya ada satu lagi. Keempat, kewajiban pemerintah. Namun nampaknya saat ini kita belum layak terlalu berharap untuk dinikahkan dan dibantu mahar oleh pemerintah.

Demikian pembahasan kita tentang mahar, semoga mencerahkan dan menyemangati. Khususnya bagi yang dalam kerangka fikirnya menjadikan besarnya mahar sebagai kekhawatiran. Sejatinya, yang harus dikhawatirkan adalah bagaimana kebersiapan diri untuk melangkah ke ke amal “kedua”. Ingat lagi bahwa beda antara kebersegeraan dan ketergesaan hanya ada pada satu hal; kebersiapan. Sebagaimana kiat yang disampaikan Akh Salim untuk menyambut kawan sejati; fokuskan diri pada persiapan. Mahar bisa dimusyawarahkan agar jangan sampai menjadi kesulitan, sedang kebersiapan harus dibangun sejak awal agar menjadi bekal perjalanan. Apa saja? Ada persiapan ruhiyah, ilmiyah-fikriyah, jasadiyah, maaliyah, dan ijtima’iyyah. Ruhiyah adalah tentang mental bertanggung jawab, berbagi, berlapang dada, bersyukur, bersabar, hingga taat. Ilmiyah-Fikriyah adalah tentang ilmu. Jasadiyah adalah tentang kesehatan, kebersihan, dari makanan hingga pakaian. Maaliyah adallah tentang penghasilan dan pengelolaan keuangan. Serta ijtima’iyyah adalah tentang bertetangga dan bermasyarakat, lalu visi dan misi dakwah. Mana yang masih kurang? Ingatkan saya untuk segera memenuhi yang masih terabai ya..

Selanjutnya, bersiap menyambut kawan sejati. Insyaallah, masih ada waktu ;)

6 Oktober 2010, 00:08
Di sela-sela target akademik yang dipancang sendiri, masih bersusah payah mengeja alur ini; menjaga, menata, lalu bercahaya. Masih mengeja dalam kata, nampaknya belum sampai dalam kerja. Hiks.

One thought on “Mahar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s