Barakah; Do’a yang Merangkum Seluruh Kebaikan

Barakah. Begitulah seuntai do’a yang sering kita mohonkan kepada saudara kita. Juga yang lebih sering dimohonkan saudara untuk kita. Sungguh kalau kita tahu, ada makna dan rasa kebaikan yang tak pernah berputus di dalamnya. Bahkan, memohonkan barakah ini lebih dianjurkan dari do’a yang biasa diucap; Semoga sukses! Semoga lancar! Juga, semoga sakinah! Sebagaimana ‘Uqail ibn Abi Thalib, ketika merasai gundah mendengar do’a-do’a kawan-kawannya. Lalu ia mengingatkan pada sebuah sunnah yang indah, tentang do’a Sang Nabi; Baarakallaah.. Semoga Allah karuniakan barakah..

Di antara sekian banyak, barakah salah satunya diartikan sebagai ziyadatul khair ‘alal khair. Barakah adalah bertambahnya kebaikan atas kebaikan. Di sini kita melihat hubungan antara barakah dengan kebaikan. Bahwa barakah itu hanya untuk kebaikan, sehingga kebaikan itu bertambah. Menjadi tepat ketika do’a barakah itu dimohonkan untuk mereka yang menuntut ilmu, mengkhtiyarkan amal shalih, menikah, bekerja mencari nafkah, dan kebaikan-kebaikan lainnya. Namun tidak ada do’a barakah untuk mereka yang membung-buang waktu, dan terlebih yang bermakshiyat. Ya, tidak ada do’a semacam; Semoga berjudinya berkah ya! Juga, semoga gosipnya berkah ya!

Selanjutnya, mari kita menilik mushhaf al Qur’an kita, surat ke enam puluh tujuh; al Mulk. Surat ini, dalam sebuah riwayat juga disebut Sang Nabi dengan at Tabarak. Mengapa? Karena surat ini dimulai dengan kata “tabaraka”. Kalau kita lihat dalam terjemahan, kata ini diartikan dengan Maha Suci. Ya, sebenarnya tidak salah, namun ada yang lebih tepat digunakan mengartikannya. Tabaraka, artinya adalah Maha Berkah. Atau, Maha Agung dan Maha Banyak Kebaikannya. Di sini kita memahami, bahwa barakah itu adanya pada Allah. Nah, kalau kita menginginkan kebaikan, maka kita harus mendatangi sumber kebaikan; Allah. Oleh karena itu, mengikhtiyarkan kebaikan tentu saja menghajatkan keikhlasan kita kembali kepada Allah. Dan kembali kepada Allah, paling mula adalah mengimaninya, dengan iman tanpa syarat.

Ah, di sini kita menemukan satu keterkaitan indah; antara barakah dan iman. Dan Allah telah membenarkannya dengan jelas tertulis. Baik, sejenak coba kita balik mushhaf yang kita buka, menuju halaman lebih awal, di surat ke enam ayat sembilan puluh enam; “Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka barakah dari langit dan bumi..” Begitulah, barakah, kebaikan di atas kebaikan, kuncinya adalah keimanan dan ketakwaan. Iman, yang sepenuh yakin, inilah yang menghadirkan ketakwaaan pada diri pemiliknya. Iman sejati, iman tanpa syarat, sebagaimana kata Sang Nabi, ibarat pohon yang akarnya menghujam kokoh dalam tanah.

Barakah artinya bertambahnya kebaikan atas kebaikan. Sungguh kalau kita tahu, ada makna dan rasa kebaikan yang tak pernah berputus di dalamnya. Bahwa kebaikan itu bersambung dengan kebaikan-kebaikan lainnya agar tetap hidup dan dirasakan buahnya. “Adalah tidak wajar,” demikian kata Ustadz Syatori dalam sebuah kesempatan, “jika ada seorang yang paling shabar, namun dia juga menjadi seorang yang paling kikir.” Artinya, kebaikan shabar itu tidak sedang bersambung dengan kebaikan-kebaikan lainnya. Ya, menjadi aneh jika kesabaran bersanding dengan kekikiran. Kebaikan bergandengan dengan keburukan. “Boleh jadi”, beliau melanjutkan, “kebaikannya layu kemudian mengering, karena telah jatuh terlepas dari dahan dan pohonnya.” Sungguh, satu kebaikan itu begitu berharga, jika senantiasa dijaga oleh kebaikan-kebaikan lainnya, dalam ruang-ruang suasana kebaikan.

Lalu, dari sana kita memahami kaidah ini; Baik dalam sebagian adalah baik dalam keseluruhan, karena semua kebaikan berada dalam satu ruang yang sama. Logikanya, kalau seseorang memasuki masjid, insyaallah dia akan bertemu dengan orang-orang shalih di dalamnya. Artinya, kalau seseorang sudah memasuki ruang kebaikan, maka dia akan bertemu dengan semua kebaikan. Konsekuensinya, seseorang yang memiliki satu kebaikan secara sempurna, maka akan sempurnalah seluruh kebaikan padanya. Ini mengingatkan, tentang sejauh mana kita fokus pada kebaikan yang sudah ada pada diri kita. Kita sempurnakan satu kebaikan itu, berangkat dari iman sejati, insyaallah sempurnalah seluruh kebaikan pada kita. Inilah barakah.. Allahuma amin..

Wallahua’lam bish shawwab.

Minomartani, 12 Agustus 2010
Baarakallaahu laka, wa baarakallaahu ‘alaika..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s