Umair bin Himam Al-Anshary, Sang Lelaki Akhirat

Membaca kisahnya, kini hati ini merasa tergetar dan terkagum. Yang pasti terserak rasa malu. Malu sangat, karena begitu jauhnya jarak antara diri ini dengannya. Boleh jadi, kita sangat jarang mendengar namanya. Namun oleh Anis Matta dalam Arsitek Peradaban, seorang shahabat ini disebutnya sebagai lelaki akhirat. Shahabat ini mengajarkan dan meyakinkan kita bahwa bayangan kenikmatan surga dan kedahsyatan neraka yang dimaknainya setiap saat, menelusup dan menyentuh lembut dalam hati terdalam, lalu menjadi penggerak yang akan mampu melampaui keterbatasan. Bayangan itu menjadikan seseorang ringan bersegera dalam ‘amal kebaikan.

Sang lelaki akhirat itu, berikut ini kisahnya sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim dari Anas ra. Ketika itu, menjelang berkecamuknya perang di lembah Badr. Rasulullah SAW menyeru para shahabat, “Bangkitlah kalian untuk menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi.” Salah seorang shahabat, dengan keingintahuannya kemudian bertanya, “Ya Rasulullah, surga yang luasnya seluas langit dan bumi?” Rasulullah tersenyum sembari menjawabnya, “Betul.”

Wajah shahabat ini pun seketika berubah dengan cepat. Nampak ada semangat yang menggelorakan hatinya. “Wah wah,” gumamnya. “Apa yang membuatmu berkata: wah wah?”, tanya Rasulullah yang dikejutkan oleh gumam shahabatnya. Lalu shahabat ini menjawab, “Demi Allah, tiada lain karena aku sangat berharap untuk bisa menjadi salah satu penghuninya.” Mendengarnya, Rasulullah kembali tersenyum. Beliau berkata, “Sungguh, engkau termasuk salah seorang penghuninya.”

Apa reaksi dari shahabat ini? Dia lalu mengeluarkan kurma dari wadahnya untuk dia makan, namun ia lalu berkata, ‘Sekiranya aku diberi umur hingga selesai memakan kurma ini, sungguh rasanya aku hidup terlalu lama.” Dia pun membuang kurma yang ada padanya, lalu bangkit. Dia dengan ringan hati dan langkah bersegera meninggalkan semua kenikmatan untuk menjemput janji Allah. Keyakinannya yang utuh pada Allah, bayangan kenikmatan surga yang seolah-olah sudah di hadapannya, menjadi sesuatu yang sangat menakjubkan. Inilah kisah shahabat, sang lelaki akhirat, Umair bin Himam al-Anshary.

Kisah lelaki akhirat ini, menjadi kontemplasi yang mendalam untuk saya saat ini. Malu ketika berkaca pada kebersegeraannya menyambut tawaran-tawaran langit; untuk menjemput kenikmatan di akhirat kelak. Begitu ringan dan mudah kebersegeraannya itu. Diri ini menjadi begitu tertohok, karena tak jarang masih merasakan susah dan berat untuk berbuat kebaikan. Ada ingatan yang masih sangat jelas dari Ust. Syatori Abdurrouf, “Kalau ‘amal kebaikan itu rasanya susah dan berat, itu tandanya masih ada ragu.” Mungkinkah itu yang sedang terjadi pada saya, hingga merasa berat untuk bersegera? “Misalkan saja”, lanjut beliau, “bersyukur itu mudah atau susah? Kalau kita merasakan bersyukur itu susah, berarti kita belum yakin pada janji Allah, bahwa Allah akan menambah nikmat. Artinya juga, kita masih ragu bahwa janji Allah pasti benar.”

Juga ditambah ingatan dari Ust. Abu Ridha ketika berkunjung ke Jogja kali itu, “Masalahnya, adanya virus-virus hati yang menyebabkan adanya ragu pada iman. Hal itu nantinya, menyebabkan perjalanan tersungkur-sungkur, lalu suatu saat terpelanting jatuh dari jalan-Nya, dan akhirnya adalah menyesal.” Yah, begitu menyesalnya jika itu yang sedang dijalani. Bisa jadi, saat ini kita bisa mengatakan bahwa kita yakin sepenuhnya, namun rasa susah dan berat menjemput kebaikan itu menjadi pertanda yang jelas adanya ragu atau syak, setidaknya bagi hati. Ini artinya, harus ada yang diperbaiki dari hati ini. Dan harus dihindarkan jauh-jauh dari virus-virus hati yang menggerogoti.

Akhirnya, masih ada satu ingatan lagi. Kali ini dari Mas Fatan, “Mengapa mereka, para shahabat, bisa meninggalkan semuanya hanya untuk Islam? Karena mereka memiliki gambaran yang jelas tentang surga dan neraka; tentang akhirat.” Ya, itu jawabannya. Adanya ragu atau syak itu, boleh jadi bermula dari ketidaksanggupan menghadirkan gambaran tentang akhirat dalam hati kita. Kita bisa menyebut surga, namun terkadang begitu sulit menjelaskan lebih detail. Demikian juga neraka. Karena itu tidak pernah terasa harap dan takut yang nyata. Jadinya, bayangan akhirat itu tidak pernah menggerakkan. “Allahumaghfirlii. Ya Allah, ampuni hamba ketika di hati ini masih ada saja ragu pada janji-janjiMu.”

Kisah lelaki akhirat ini, semoga menjadi pengingat yang kuat, utamanya bagi diri ini yang masih butuh banyak dinasihati. “Sudahkah,” saya ingin kembali menanam pertanyaan pada hati ini, “bayangan tentang akhirat telah mengalahkan kemalasan, kelelahan, kebingungan, dan kelambatanmu? Bangkit Yog!”

“Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang yang bertakwa, mengalir di bawahnya sungai-sungai, senantiasa berbuahnya dan teduh. Itulah tempat kesudahan bagi orang yang bertakwa; sedang tempat kesudahakn bagi orang yang ingkar kepada Tuhan ialah neraka,” (Q.S. ar-Ra’d: 35)

7 Agustus 2010
Akhir-akhir ini, dalam perenungan-perenungan, banyak diingatkan kembali untuk menjaga hati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s