Jangan Lupa Jaga Kesehatan Antum ya

“Yoga, akhirnya Antum bisa berangkat kan?” Tanyanya dalam karakter kesahajaan. ”InsyaAllah Mas, alhamdulilah ane udah dapet izin untuk berangkat Mas.” Jawabku dengan kesungguhan hati. Inilah saat-saat keyakinan datang padaku. Allah mulai membuka tabir skenario kemudahan hidup untukku. Aku menyerahkan segalanya hanya padaNya. Sebuah jawaban terbaik untuk sebuah anugrah yang terindah dariNya.

”Antum udah istikharah?” Tanyanya kembali tentang persiapan dan kesiapanku. ”InsyaAllah udah Mas, mudah-mudahan Allah memberikan kemudahan atas pilihan ini Mas.” Jawabku mulai lirih. Hati ini terasa bergetar dalam keharuan dan keyakinan. Teringat bahwa ini pilihan besar yang tidak akan pernah dipilih siapapun kecuali orang-orang tertentu saja. Pernah terbayang seakan rasa berat berlarian ke sana ke mari menantiku di depan mata. ”Nanti Mas bantu kok. Jadi kerjaanmu akan lebih mudah dan transfer lebih jelas. Kita kan sama-sama di Jogja, insyaAllah lebih mudah untuk ketemu dan diskusinya.” Sebuah ungkapannya mencoba menguatkan hatiku. ”Iya Mas.” Kembali jawabku lirih mulai menemukan sedikit kelegaan.

”Jangan lupa jaga kesehatan Antum ya.” Nasihatnya melanjutkan dalam makna yang begitu dalam. Begitu dalam karena dia yang mengatakannya. Dia, seseorang yang benar-benar merasakan betapa kesehatan adalah anugrah yang begitu besar. Anugrah yang terkadang tidak selalu dia dapatkan. Harus dijaga dalam kesabaran dan dioptimalkan dalam semangat berkontribusi. ”Iya, insyaAllah Mas.” Aku mengiyakan nasihat itu.

Dan tak lama berselang pembicaraan kami pun usai. Aku menutup telepon terlebih dahulu setelah menjawab salamnya. Pembicaraan ini pun ditutup dengan salam penuh kerinduan. Kerinduan untuk sebuah perjumpaan. Kerinduan untuk berbagi semangat dan visi. Kerinduan akan cintaNya yang mengejawantah dalam indahnya ukhuwah. Subhanallah. Pagi pun mulai beranjak menjemput terangnya cahaya mentari. Masih terasa hangat, perlahan mencipta semangat. Halaman depan pondokan KKN menjadi saksi azzam ini. Dan lima hari lagi seakan begitu dekat di depan mata.

***

Aku memandangi kegelapan malam di luar sana. Sekilas nampak pohon-pohon tak nyata berkejar-kejaran. Gelap tak menjadikannya nampak jelas. Pikiranku pun terus berlarian entah ke mana. Di sana teringat oleh seluruh pertimbangan yang pernah ada hingga pilihan ini mengokohkan dirinya dalam hati. Pernah terbayang pula akan masa depan seperti apa yang akan kujalani setelah ini. Seluruhnya, tiada pernah menjelaskan dirinya. Aku pun semakin yakin, hanya perjalanan yang sebenarnya yang akan menjelaskan seluruhnya. Dan perjalanan ini menjadi sangat menantang dan menarik, karena kita tidak pernah tahu apa yang terjadi setelah ini, esok, dan selanjutnya.

Aku masih berdiri di depan pintu kereta, bersandar pada salah satu dindingnya. Masih bermain-main wajah masa depan dalam pikiranku yang seolah tak menentu. Pikiran-pikiran yang tidak lagi ingat akan dirinya sendiri. Di sana aku tidak tahu apakah ini baik? Ataukah buruk? Seakan relativitas yang mengambil keputusan. Satu jawaban tidak akan selalu benar. Tergantung pada siapa jawaban itu dilontarkan, kapan dan di mana.

Mata yang selayaknya sudah begitu letih ini enggan terpejamkan. Seolah aku lupa bahwa seharian sebelumnya aku telah menguras habis tenagaku untuk pekerjaan-pekerjaan di KKN yang akan sejenak kutinggalkan. Pagi kerja bakti. Siang membuat lapangan voli, dan malam berdiskusi dengan pengurus koperasi. Sebenarnya sangat melelahkan. Namun lelah yang ada pada akhirnya terkalahkan oleh pikiran-pikiran tak menentu, membuatku terus terjaga sepanjang malam.

Tiada terasa azan subuh berkumandang. Tiada terasa fajar telah kembali datang dan perjalanan masih panjang. Dan tiada terasa aku mulai tersadar, aku telah melewatkan kesempatan beristirahat di malam ini. Aku hanya berharap, aku dikuatkan untuk menjalani seharian ke depan. Semoga tidak terjatuh karena keadaan fisik yang sangat buruk.

***

Seperti yang telah kuperkirakan sebelumnya, kedatanganku di Malang yang sejuk ini tak menyisihkan sedikit waktuku untuk sejenak beristirahat. Berulang kali sms kuterima menanyakan kapan kedatanganku. Aku hanya bisa menjawab, ”InsyaAllah jam sekian, kira-kira satu jam lagi, iya sebentar lagi sampai, dan sebagainya….” Tiba di stasiun, aku segera beranjak menuju tempat kegiatan. Tidak boleh ditunda lagi karena waktu terus berjalan.

Sungguh aku merasa kuat dan tiada terbatasi oleh keterbatasan apapun, ketika teingat oleh teman-teman yang telah menantikan kehadiranku. Meskipun mata ini berusaha bertahan menahan serangan kantuk yang semakin berat, dan tulang-tulang persendian yang mulai mengeluh dalam lelah terus menderanya. Seluruhnya seolah menjadi mati rasa. Di sana lah, samudra kesabaran itu menjadi kunci. Mengutip perkataan Ibnul Qayyim, ”Bersabarlah… Hingga akhirnya kesabaran itu sendiri yang gagal mengejar kesabaranmu…” Dan ungkapan indah seorang kakak menjadi makna dalam langkahku saat ini, ”Berlarilah… Hingga kelelahan lelah mengejarmu…” Hingga aku benar-benar yakin dengan ungkapan itu.

Hari pertama berakhir hingga tengah malam. Setelah itu, aku bisa beristirahat paling tidak selama empat jam. Hari kedua sampai dengan hari terakhir pun sama. Keadaan ini merupakan keadaan yang tidak ideal bagiku. Dan pilihan selalu memaksakan diri memberikan konsekuensi buruk untukku. Konsekuensi yang sejujurkan tidak akan pernah kusesali, karena aku yakin ini bagian dari skenarioNya yang sejak awal telah kuyakini.

Aku terus menahan sakit di kepalaku. Sakit yang datang karena aku mengabaikan diriku sendiri. Mengabaikan bahwa kepala ini pernah terluka sangat parah enam tahun yang lalu. Mengabaikan kesehatanku. Mengabaikan nasihatnya waktu itu, ”Jangan lupa jaga kesehatan Antum ya…” Aku mencoba tetap tersenyum pada dunia, di saat sakit itu telah semakin kuat mencengkeram kepalaku. Tapi sekali lagi, aku tidak pernah menyesali. Semua ini telah menjadi bagian dari sejarah perjalanan yang tak pernah tergantian.

Aku terus menahan sakit ini di sepanjang kegiatan, dari awal sampai akhir. Saat aku melaporkan sebuah laporan pertanggung jawaban kegiatan. Saat aku melaporkan sebuah laporan pertanggung jawaban organisasi. Saat aku menerima penghargaan untuk organisasi. Dan saat aku mengucapkan visi hingga suasana pelantikan yang begitu mengharu biru di ujung kegiatan yang kujalani. Kepalaku terus menahan sakit itu. Aku yakin, saat itu tidak ada seorang pun yang mengetahui keadaanku yang sebenarnya.

Aku lebih banyak diam di sepanjang kegiatan, kecuali ketika aku diminta berbicara. Itu saja. Padahal sebenarnya aku ingin banyak berbicara, namun seolah takkan sanggup lagi. ”Udah Yoga, nggak usah dipikir terlalu dalem, santai aja…” Begitu ungkapan sang Presiden yang tak lama lagi akan melepas amanahnya. Aku hanya tersenyum. Ingin sekali aku berucap, ”Mas, sebenarnya bukan karena kegiatan ini dan amanah yang ane terima selanjutnya, tapi karena ane udah nahan sakit kepala ini sejak dua hari yang lalu Mas…” Namun aku bisa menahan diri. Sekedar senyuman menjadi jawaban yang jauh lebih indah dari jawaban lain yang pernah terpikirkan.

Tiga hari aku mengikuti kegiatan itu, akhirnya usai sudah. Perjalanan Musyawarah Nasional FoSSEI berakhir dengan sempurna. Sempurna pula amanahku hingga datang amanah yang lebih besar. Aku pun harus segera pulang untuk melanjutkan kembali tugasku di KKN yang seakan sudah lama kutinggalkan. Penghargaan KSEI Award, Best Regional, LPJ Presidium Nasional 2007-2008, dan amanah besar menemani kepulanganku. Mengingatkanku dan meyakinkanku tentang makna kontribusi. Dan apa yang dikatakan Sayyid Quthb menjadi inspirasi berharga menggambarkan tentang hal itu, ”Manakala nilai hidup ini hanya untuk diri kita, maka akan tampak bagi kita bahwa kehidupan kecil dan singkat. Tetapi apabila kita hidup juga untuk orang lain maka jadilah hidup ini bermakna panjang dan dalam.”

***

Pagi hari, aku telah kembali ke pondokan KKN. Segera mempersiapkan diri untuk kembali menyatu dalan suasana yang ada di sana. Bersama teman-teman satu sub unit dan adik-adik Panti Asuhan Amanah kembali bekerja. Siang nanti akan ada kunjungan dari Dinas Sosial Kabupaten Bantul di panti. Sorenya ada TPA di PP Walisongo. Malamnya ada rapat dengan pengurus pedukuhan. Padat! Dan sakit kepalaku masih sanggup kutahan hingga waktu seminggu pun berlalu. Inilah, sakit kepala terlama yang pernah kualami. Mudah-mudahan tidak akan terjadi lagi. Dan aku benar-benar akan mengingat-ingat nasihatnya, ”Jangan lupa jaga kesehatan Antum ya…” Saya sekarang lebih memilih untuk menjaga instirahatku untuk menjaga keseimbangan.

Thanks to:

Angga Antagia, makasih atas inspirasi dan nasihat Mas yang luar biasa. Ahmad Fil Ardhi, iya Mas, saya santai aja kok, makasih tumpangan nginepnya, sahur dan bukanya, pas Rakernas, besok saya ngerepotin lagi ya Mas, hehe. Mas Aji dan keluarga (Mbak Ita, Nabila, Naufal), makasih tumpangan nginepnya, oleh-olehnya, dan biaya kepulangannya, duh saya jadi nggak enak banyak ngerepotin. Presnas: Muizzuddin, Fauzul Azmi, Ashbah Pratama, Hatib Elham Ahsani, harapan itu masih ada!

Hadi dan Iyank, makasih udah bilangin terus, ”Yog, kamu istirahat aja. Jangan lupa minum obat, Yog. Kamu itu kalo nggak diingetin pasti lupa.” Nobel, makasih atas candaannya, “Obat China-nya segera dihabisin Yog, keburu ketahuan Nunink nanti dimarahin lho… (kalo yang ini becanda, hehe)” Hari, makasih udah pernah kepikiran, ”Eh, Yoga itu senyum tapi kelihatan banget lagi nahan sakit. Nggak usah dipaksain lah Yog.” Putri, makasih udah ngasih rekomendasi, ”Minum ini nih, manjur kok. Mudah-mudahan cespleng… (wah, ini kata-kataku sendiri, hehe)” Ocha, makasih udah ngingetin (atau marahin), ”Yoga, minum obatnya. Kamu tuh mau sembuh apa enggak…? Cepet minum obatnya!” Nunink, makasih udah berulang kali meminta namun (maaf) sampai sekarang belum kupenuhi, ”Yoga, baiknya di-rontgent aja deh, biar tahu penyebabnya apa. Sekarang sih kamu nggak ngerasain, tapi masa depanmu Yog…” Ecy, makasih udah selalu bilang, ”Istirahat Yoga…..” Dan adik-adik Panti Asuhan Amanah yang menjadi semangatku dengan panggilan ramahnya, ”Kak Yoga…. Mas Yoga…. Pak Ustadz…” Makasih telah begitu setia di kala sakitku. Cukup kalian yang tahu dengan keadaanku yang sebenarnya.

19 November 2008,
Terinspirasi oleh perbincangan kemarin siang dengan dua teman saya
Tukang Obat Tamzil dan Pak Menteri Aulia,
”Kok banyak yang sakit ya sekarang….?

2 thoughts on “Jangan Lupa Jaga Kesehatan Antum ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s