Mereka yang Masih Membujang

Diskusi-diskusi ringan yang mengisi jenak-jenak perjalanan bolak-balik Bogor-Jakarta sepekan lalu setidaknya menyimpulkan sebuah judul: Di Jalan Dakwah Mereka Membujang. “Akhi, bagaimana kalau kita menulis buku ini?” begitu tanyanya, salah seorang yang membersamai perjalanan-perjalanan itu. Dan salah seorang yang lain pun hanya tersenyum. Mengiyakan, maksudnya.

Bukan sekedar ide yang sekilas lalu, judul itu terlahir dari kegelisahan kami melihat fenomena yang terjadi, juga menilik sejumlah alasan-alasan di sebaliknya. Sungguh, kami pun faham, ketika begitu banyak yang masih menunda. Biasanya menundanya bukan karena niat, yang tak ingin menyegera. Secara umum yang kami dapati, sebagian besar disebabkan oleh lingkungan yang belum terkondisikan. Namun sungguh tidak bijak jika menyalahkan keadaan. Karena itu, bagaimanapun kita tetap akan membicarakan niat dalam konteks ini. Niatlah yang bisa mengubah cerita, karena niat itu menggerakkan pembuktian-pembuktian terhadap lingkungan hingga mampu dipercaya untuk mengondisikan. Sudahkah kita meniatkan pembuktian-pembuktian kelayakan kita?

Saya teringat dengan cerita Ust. Didik di Masjid Mardliyyah pagi itu. Biasanya, kata beliau, orang tua sering dipersalahkan sebagai penghalang. Ini kalau dari sudut pandang kita. Kemudian beliau memberikan sudut pandang yang lain, bahwa pada dasarnya tidak ada orang tua yang menjadi penghalang. Sesungguhnya, ketika orang tua belum mengizinkan hanya disebabkan oleh cinta dan kasih sayang. Hanya saja cinta dan kasih sayang itu mengejawantah dengan cara yang berbeda dari pandangan kita. Oleh karena itu, yang perlu dipahami dan dijawab dengan pembuktian-pembuktian adalah alasan-alasan yang ada dalam benak orang tua yang masih belum mengizinkan.

Kurang lebih, Ust. Didik menyampaikan beberapa hal mendasar. Pertama, karena selama ini kita dianggap sebagai anak mami yang dalam pandangan orang tua belum mandiri. Kedua, karena kasih sayang orang tua berarti tidak ingin anaknya mengalami kesulitan hidup sebab belum berkemapanan. Sebuah ekspresi kasih sayang yang berbeda dari pandangan kita. Ketiga, karena kita belum bisa dibanggakan atau dianggap sukses. Misalkan saja, baru lulus S1, belum memiliki pekerjaan tetap, belum memiliki rumah atau kendaraan sendiri, dan sebagainya. Ya, ukuran sukses menurut orang tua terkadang berbeda. Kadang terkait dengan pertanyaan ini: Punya pekerjaan tetap atau tetap bekerja? Keempat, kalau ketiga yang tersebut di awal dapat dipenuhi, hambatan itu bisa jadi karena orang tua tidak cocok dengan pilihan kita. Terkadang orang tua memiliki persyaratan sendiri. Misal, orang tua mensyaratkan jangan yang lebih tua, jangan dari luar Jawa, dan jangan menembak duluan, dan sebagainya. Ah, saya teringat dengan syarat yang diberikan kepada seorang saudara. Uniknya, katanya dengan ekspresif, semua syarat itu dilanggarnya. Dasar antum ini..! Kelima, alasan-alasan tradisi. Ini juga kadang bermacam-macam. Dan keenam, bisa alasan-alasan lain, kalau berdasarkan curhatan: orang tua masih kesulitan biaya sehari-hari, adik-adik masih perlu biaya, kakak ada yang belum nikah.

Membaca alasan-alasan itu, kadang kita ingin mengusap dahi. Fiuhh. Banyak bener. Lalu kita bertanya, apakah kita sudah mampu menunjukkan pembuktian-pembuktian, lalu berkemampuan mengondisikan lingkungan kita? Setidaknya ini menjadi introspeksi, agar kita tak sekedar menuntut. Kuncinya, seperti yang telah sama-sama diikhtiyarkan dengan santun, yaitu mencari jalan tengah. Bagaimana jalan tengah itu diciptakan?

Pada jalan tengah itu, kita iringi jalan-jalan ideal pandangan kita dengan pembuktian-pemmbuktian yang dapat mereka terima dengan terbuka. Setidaknya, masih menyimak Ust. Didik, ada langkah-langkah yang harus ditempuh sekarang juga. Pertama, tunjukkan pada orang tua dan lingkungan bahwa ada proses menyiapkan kemampuan dalam hidup kita. Kita harus mampu menunjukkan percepatan, bersama penjelasan akhlak yang baik. Kedua, buktikan kita mampu menafkahi. Setidaknya adalah mandiri, atau berkomitmen untuk mandiri. Ketiga, berbicaralah kepada orang tua dengan cara yang baik, mampu menyentuh hati. Keempat, setelah menyentuh hati, maka harus dijaga dengan komunikasi-kamunikasi yang positif. Kadang masalahnya bukan hal yang mendasar, boleh atau tidak boleh, juga mengizinkan atau tidak mengizinkan. Hanya komunikasi yang kurang baik saja. Kelima, ajak orang tua mengenal komunitas kita agar terhapus kekhawatiran mereka terhadap nasib kita. Keenam, ajak orang lain yang pembicaraannya didengar oleh orang tua untuk membantu komunikasi dan menyampaikan keinginan kita. Keenam, jangan lupa berdo’a, minta pertolongan kepada Allah. Insyaallah.

Di jalan dakwah mereka membujang. Ada banyak alasan seorang kader dakwah masih saja membujang. Entah karena menumpuknya aktivitas amanah, masih disibukkan dengan urusan pribadi, masih terhalang oleh urusan keluarga, hingga masih belum memantapkan keberanian. Namun kesemuanya tidak dapat dijadikan pembenaran. Pada akhirnya yang dibutuhkan adalah pembuktian-pembuktian. Dan tetaplah berada di jalan perbaikan diri, hingga terciptalah pembuktian-pembuktian, sampai lingkungan memahami apa kebutuhan kita. Semoga dengan niat yang jujur kepada Allah, jalan-jalan itu akan dipermudah. Bismillah.. []

Minomartani, 20 Mei 2010, 23:50
Aditya Rangga Yogatama

One thought on “Mereka yang Masih Membujang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s