4,5 cm

Cara memprediksi paling baik adalah dengan mempersiapkannya. Itulah pesan guru saya yang kali ini dengan sangat terpaksa agak saya abaikan. Menuju puncak Merbabu hanya dengan persiapan yang sangat seadanya karena dipaksa padatnya agenda sebelum hari H. Kamis malam belajar Ekonometrika II dan tidur yang bisa dikatakan cukup. Jum’at pagi masih belajar dan dilanjutkan UAS Ekonometrika II jam 9.40 sampai sholat Jum’at. Ba’da sholat Jum’at ngisi evaluasi dosen, nyiapin kado, dan menyelesaikan tugas verifikasi di Bantul. Jum’at malam ba’da maghrib menghadiri undangan makan-makan seorang teman yang lagi ultah dilanjutkan dengan menyusun program bidang KKN sampai tengah malam. Tidur sebentar pun dianggap cukup.

Sabtu pagi-pagi sekali empat anak tim pendakian berkumpul: perencanaan sangat sederhana. Sebentar saja, jam 7.30 saya harus mengantar adik sekolah. Setelah itu, meminjam instrumen pendakian secara keseluruhan dan dilanjutkan dengan rapat KKN jam 10.00 sampai zuhur. Jam 13.00 harus menghadiri diskusi FoSSEI. Sampai ba’da ashar belum selesai diskusinya, dengan sangat terpaksa saya tinggal.

Waktu saya semakin mendekati deadline. Tim pendakian janjian berangkat jam 16.00 tidak ada negosiasi. Berarti bahwa saya hanya punya waktu 45 menit untuk menyiapkan keseluruhannya termasuk belanja logistik dan lain-lain. Tidak masuk nalar akal sehat! Dengan penuh semangat saya terus menyiapkan apa pun yang terjadi, meskipun pada akhirnya tetap terlambat juga 15 menit. Sampai di tempat janjian, ternyata Bos GC, salah seorang personil tim pendakian kali ini, malah lebih terlambat dari saya. Usaha saya untuk cepat-cepat terasa sia-sia. Memang terlambat menjadi kesalahan yang paling sering dimaafkan di mana pun. Akhirnya, jam 17.00 kita berangkat! Mundur satu jam dari perencanaan.

***

Perjalanan menuju base camp pendakian di Selo mengalami banyak ujian. Ujian yang pada akhirnya menjadikan petualangan kali ini jauh lebih berkesan. Ujian pertama, ban motor Bos GC bocor. Perjalanan tertunda untuk tambal ban dan baru bisa dilanjutkan maghrib. Ujian kedua, berpisah. Kejadian ini mengingatkan pada ungkapan dosen saya. Sing teka ra tuku-tuku, sing tuku ra teka-teka (yang datang tidak segera membeli, yang mau membeli tidak segera datang). Nggak ketemu gara-gara saling nunggu! Saya nunggu di Stadion Trikoyo, Bos GC nunggu di GOR Gelarsena. Terpisah jauh dan lumayan menunda perjalanan. Miskomunikasi merupakan masalah kecil yang memberikan pengaruh sangat signifikan. Dan pelajaran sore itu, jangan janjian di stadion kalau belum bisa membedakan stadion dan GOR!

Ujian ketiga, salah jalan. Mungkin status dan almamater menjadikan kita enggan bertanya di kala tidak tahu. Sungguh ini tidak tepat. Sok tahu dengan landasan insting membawa kita terus melaju sampai tempat yang tidak kita ketahui. Karena arah yang semakin tidak jelas, untuk mengurangi risiko kita pun bertanya. Jawaban seorang hansip menyadarkan kita bahwa kita telah salah jalan sejauh tiga kilometer. Kita harus menempuh jarak sejauh itu hanya untuk kembali. Capek deh.

Sampai di Selo sekitar jam 20.30, ujian masih belum berakhir. Jalan menuju base camp yang longsong dan hanya digantikan dengan jembatan bambu yang bergetar kencang ketika diinjak, membuat kita ragu melewatinya. Kita berpikir, harusnya ada jalan lain. Bertanya pun menjadi solusi di mana pun! Kita mengulang jalan tersebut sampai enam kali alias tiga kali bolak balik untuk mencari orang yang bisa ditanyai dan kemudian memutuskan bahwa jembatan bambu yang mengerikan itulah jalan yang harus kita lewati. Dengan hati-hati kita menyeberanginya. Akhirnya, sekitar jam 21.30 kita sampai di base camp.

***

Kita berencana memulai pendakian jam 22.00 dengan target sampai puncak pukul 03.00 esok hari. Target yang sangat menantang! Ada waktu sejenak untuk mempersiapkan diri dan beristirahat. Di sebuah mushola di base camp, saya terdiam dan termenung sejenak. Saya teringat ibu dan kekhawatiran beliau. Sebelumnya beliau tidak mengizinkan saya pergi, namun saya berhasil meyakinkan beliau bahwa insyaAllah semua akan baik-baik saja. Saya mengerti mengapa ibu begitu khawatir terhadap saya. Semua karena peristiwa enam tahun yang lalu dan setiap keluhan saya pada beliau sampai sejauh ini. Paru-paruku sempat terasa sakit, kepalaku pun seakan terasa berat, ditambah dengan kantuk yang menjadi-jadi, keadaan ini menyelinapkan keragu-raguan. Namun, azzam dalam hati untuk mencapai puncak dan keyakinan bahwa Allah selalu membersamai kini terus menguatkan saya. InsyaAllah!

***

Jam 22.00 tepat kita mulai petualangan. Ada tiga hal yang menjadi makna dalam perjalanan ini, yaitu: visi, inspirasi 5 cm, dan Q.S. Ar Rahman yang menjadikan semangat dan kekuatan luar biasa di hati kita.
Visi kita adalah puncak, dan kita tidak akan berhenti kalau tidak di puncak. Kita yakin bahwa kenikmatan di puncak akan jauh lebih besar dibandingkan kenikmatan yang kita dapatkan di saat kita berhenti di tengah perjalanan ini. Analogi tentang perjuangan meraih surga yang dijanjikan Allah menjadi pelajaran berharga dalam perjalanan ini. Surga diraih dengan sabar dan istiqamah. Jangan berhenti!

Inspirasi datang dari filosofi sebuah novel 5 cm. Yakinlah bahwa visi kita sudah sangat dekat. Kita hanya perlu melangkah sedikit lagi untuk mencapainya. Arahkan tanganmu ke puncak itu, lihatlah jarak antara jari telunjuk dan ibu jarimu. Itulah jarak antara dirimu dan puncak, lihat bahwa jarak itu hanya 5 cm. Dan 5 cm lagi kamu akan sampai di puncak itu. Filosofi ini mengajarkan bahwa kita bisa mencapai visi terhebat kita, karena visi itu sesungguhnya sudah dekat dengan kita. Dalam hati saya berteriak, puncak itu bukan 5 cm. Kulihat bahwa puncak itu hanya sepanjang 4,5 cm lagi! Sekali lagi, jangan berhenti!

Q.S. Ar Rahman meresapkan rasa syukur hanya kepada Allah. Rasa syukur inilah yang menjadi makna terbesar dalam perjalanan ini. Apa yang kita cari bukanlah puncak, melainkan rasa syukur ketika kita sampai di puncak nanti. Apa yang kita cari bukanlah kemudahan mencapai puncak, melainkan rasa syukur ketika kita bisa melewati setiap kesulitan sepanjang pejalanan. Semua yang kita resakan, semua yang kita jalani, dalam naungan nikmat Allah yang selayaknya selalu kita syukuri. Bersamaan dengan dingin angin malam yang menerpa, perlahan lantunan Q.S. Ar Rahman menggetarkan hati kita, fabi’ayyi ’alaai robbikuma tukadzdzibaan…

Catatan dari perjalanan mendaki Merbabu;
Juni 2008, sebulan sebelum Munas FoSSEI.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s