Sepuluh Catatan Indah: Merangkum Cita-Cita, Semangat, dan Pelajaran Kehidupan Bersama SEF!

Kalau boleh saya katakan dengan jujur, Shariah Economics Forum (SEF) adalah sebuah awal bagi catatan-catatan terindah dalam perjalanan hidup saya. Tidak berlebihan, karena dari sana saya mulai menanam, memupuk, menyirami, dan menyinari hingga terbangun cita-cita dan semangat, lalu mengiringi saya merujuk pelajaran demi pelajaran kehidupan.

Awalnya saya sempat bingung ketika diminta berbagi tentang perjalanan indah saya bersama SEF hingga hari ini. Bukan karena tidak ada yang dapat dibagi. Bukan, bukan karena itu. Namun lebih karena sepanjang perjalanan saya bersama SEF, semuanya adalah keindahan. Tidak ada yang tidak indah! Hingga sebenarnya menjadikan bertumpuk hal yang ingin dibagi, membuat saya bingung entah bagaimana akan membaginya.

Baiklah. Dengan segala keterbatasan, saya lebih tertarik untuk bercerita dengan tidak mengalur berdasarkan kronologis waktu seperti bayangan awal saya. Mengapa? Karena yang demikian itu rasanya masih akan menyisakan catatan-catatan indah itu berserakan. Dan saya tidak tega meminta teman-teman untuk memungutinya masing-masing. Ah, alangkah tidak santunnya saya. Karena itu izinkan saya, untuk bercerita, mengalur berdasarkan pelajaran demi pelajaran kehidupan bersama SEF, hingga keseluruhan terangkum rapi, sambung-menyambung, dan semoga dapat dicerap dengan lebih nyaman dan sempurna. Dari saya, ada sepuluh catatan indah yang membingkai terkenang dalam perjalanan bersama SEF. BismiLlaah, mari kita mulai menitinya dengan niatan untuk belajar bersama. Nampaknya akan begitu panjang, hanya karena ketidakmampuan saya menyederhanakan kata-kata, yang sabar ya..

Pertama, bersama SEF saya menemukan semangat untuk menuntut ilmu. Tidak hanya Ekonomi Islam yang menjadi fokus kajian di SEF, namun juga menyemangati saya untuk mendalami ilmu agama dan teori-teori ekonomi yang menjadi materi kuliah sehari-hari. Saat teman-teman yang lain menghabiskan waktu untuk belajar Ekonomika Moneter, misalnya, saya dan teman-teman di SEF selain belajar Ekonomika Moneter seperti tuntutan kuliah, juga mencari celah waktu agar dapat mengkaji Fiqh Muamalah dan Ekonomika Moneter dalam Islam. Kadang tersenyum-senyum ketika pada akhirnya, nilai kita lebih baik dibanding mereka yang telah berfokus belajar Ekonomika Moneter saja. Lalu dalam hati bergumam, “Lihat teman, meskipun kita membagi apa yang kita pelajari, tidak kalah dengan kalian bukan?” Dan yang membuat kita harus bersyukur, kita belajar lebih banyak hal, belajar apa yang tidak mereka pelajari. Juga bersyukur karena kita menjadi tidak punya waktu-waktu luang untuk lebih banyak kesia-siaan. Dan azam inilah yang menjaga kita, “Anak SEF harus lebih kompeten dan berprestasi!” Hingga tidak ada alasan, anak SEF yang tidak faham ekonomi, terlebih Ekonomi Islam, dan tidak pernah mengejar prestasi! Malu ah.. Yuk, senantiasa kita jaga semangat belajarnya, sesibuk apapun aktivitas kita, raih prestasi demi prestasi..

Kedua, bersama SEF saya menyadari bahwa perjalanan hidup ini dalam rangka mencari Allah. Tidak sekedar memperbanyak teman, mencari pengalaman, mengumpulkan ilmu, mencari sertfikat atau mengisi CV, atau agar mudah mendapat pekerjaan! Bersama SEF, kita yakin bahwa dalam segala aktivitas yang kita jalani, hanya Allah yang kita tuju. Hal ini kurang lebih sebagaimana yang saya rasai, menjadikan saya dapat bertahan, seburuk apapun keadaan saya dan keadaan SEF. Karenanya kemudian, saya dapat menikmati keindahan perjalanan bersama SEF, yang bisa jadi tidak pernah didapati mereka yang sejenak lalu pergi. Kali ini perkenan saya bertanya kepada teman-teman, “Bagaimana perasaan dan sikap teman-teman ketika dalam sebuah kegiatan, sebenarnya kita yang bekerja paling banyak lalu tidak pernah tersebut nama kita? Atau bagaimana perasaan dan sikap teman-teman ketika kita sudah berharap mendapat sertifikat, makanan yang lezat, dan harapan-harapan lainnya lalu kesemuanya tidak terpenuhi? Bagaimana perasaan dan sikap teman-teman?” Ah, saya yakin jawaban teman-teman akan lebih baik daripada jawaban saya. Sejenak saja saya tertunduk terkenang dengan kisah Fandi dalam Kiamat Sudah Dekat. Teman-teman, bantu dan temani saya belajar lebih banyak lagi tentang ikhlas, hanya Allah yang kita tuju..

Ketiga, bersama SEF saya mengokohkan cita-cita kontribusi dan karya. Kita semua senantiasa ingat sabda Rasulullah, yang paling baik di antara kita adalah yang paling bermanfaat. Nah, inilah yang menjadi cita-cita kontribusi dan karya. Dan SEF, yang bervisi kontributif, menjadi sahabat yang membersamai cita-cita itu. Cita-cita itu bermuara perubahan pada masyarakat, dengan jalan melahirkan karya yang bermanfaat. Kontribusi itu, bisa dengan banyak hal. Ketika kita menyampaikan kepada orang lain pentingnya menabung di bank syariah, membayar zakat dengan dilandasi pemahaman yang baik, mengajari dan memberitahu teman kita yang belum tahu Ekonomi Islam, menulis karya ilmiah, melakukan penelitian, dan bahkan menyiapkan konsumsi dan tikar untuk kesuksesan kegiatan kajian Ekonomi Islam. Semuanya adalah kontribusi! Maka bersama SEF, hari-hari kita akan dipenuhi kontribusi. Apa tidak ingin? Mengingat saya masih sangat sedikit kontribusinya, rasanya cukup sampai di sini saja ya membicarakan kontribusi. Lebih baik kita segera berbuat..

Keempat, bersama SEF saya menemukan semangat perjuangan. Bahkan lebih bersemangat dibanding organisasi yang lain! Hehe. Bagaimana bisa? Karena di hadapan kita, masih banyak hal yang ideal dan itu sangat jelas terlihat. Lihat saya, ketika masih banyak dalam masyarakat kita mempersamakan bunga dengan bagi hasil, juga masih menjamurnya kemiskinan dan ketidakadilan bagi mereka yang kurang berdaya. Lihat juga ketika pendidikan Ekonomi Islam masih terbatas hingga masih begitu banyak ketidakfahaman. Banyak hal yang harusnya membuat kita peka, bahwa hidup ini masih jauh dari ideal. Dari sana kita merasai, bahwa perjalanan masih panjang, dan harus dilalui dengan perjuangan. Tidak mungkin, menyampaikan hingga orang lain faham, membumikan Ekonomi Islam, dan mengatasi kemiskinan di masyarakat, tanpa perjuangan. Bersama SEF, bersiaplah untuk melalui jalan-jalan perjuangan, yang terkadang menggoda kita untuk berhenti melangkah, di saat datang lelah, payah, dan masalah yang tak berujung sudah. Pertanyaan ini yang begitu sering terlontar dalam benak saya, “Masihkah berkenan melanjutkan perjuangan?” Maka saksikanlah…

Kelima, bersama SEF saya menikmati indahnya jalan pengorbanan. Ya, benar, jalan pengorbanan itu sangat nikmat dan indah! Bisa jadi, ada kalanya kita harus memilih antara mengurusi organisasi atau belajar, sementara esok hari kita ada ujian tiga mata kuliah berturut-turut. Ya, keadaan ini meminta pengorbanan. Ada kalanya, kita harus meninggalkan kuliah, untuk berangkat ke Jakarta beberapa hari untuk tujuan organisasi. Ya, sekali lagi, keadaan ini meminta pengorbanan kita. Sesungguhnya ada banyak keadaan yang meminta kita untuk berkorban, bahkan bisa jadi setiap saat, setiap detiknya. Hingga nikmat dan indah pengorbanan, berdasarkan sikap dan pilihan kita. Cukuplah, saya tidak ingin bercerita banyak-banyak karena nanti terlalu asyik menceritakannya hingga menghabiskan waktu teman-teman. Saran saya, cobalah, cobalah setiap saat, sampai teman-teman menemukan sendiri nikmat dan indahnya. Lebih nikmat dan indah daripada yang dibayangkan! Karena sebenarnya pertanyaannya hanyalah, “Mau berkorban atau tidak?”

Keenam, bersama SEF saya banyak belajar tentang bersikap profesional. Dalam profesionalitas, ada ketaatan untuk menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya, dalam keadaan bagaimanapun, susah ataupun mudah. Dan ada rasa malu dan sedih, jika tugas itu tidak tersempurnakan dikarenakan kelalaian dan lemahnya semangat kita. Bersedihlah kita, jika program kerja tidak berjalan karena buruknya koordinasi kita. Bersedihlah kita, jika program kerja gagal karena salahnya kita dalam mengambil prioritas, rapat dulu atau mengerjakan tugas kuliah dulu. Kerja-kerja yang profesional yang akan dapat memberikan dampak kepada lingkungan. Apa jadinya jika kajian sepi peserta karena lupa menyebar publikasi? Apa jadinya jika kunjungan tidak jadi karena renggangnya komunikasi? Yang seperti itu tidak banyak mengubah. Lalu bagaimana jika sebuah kegiatan besar dihadiri ratusan peserta menggaung di seluruh kota dan bahkan Indonesia? Beda bukan? Yah, yang kedua ini dibangun dengan profesionalitas. Engkau bingung kawan? Atau mungkin pembahasan kita sebelumnya terlalu tinggi, mari kita bahas profesionalitas dengan lebih sederhana. Profesional itu, saat kita jadi tahu bagaimana menjadi pemimpin yang inspiratif, mengelola keuangan dengan baik, menuliskan laporan pertanggungjawaban dengan benar, menyiapkan penerus, dan sebagainya. Satu lagi, profesionalitas juga berarti bekerja lebih baik dan lebih cepat dibanding yang lainnya, termasuk dalam menyambut tugas-tugas. Bayangkan, akan berpikir berapa lama, jika engkau ditanya, “Kamu yang jadi ketua panitia ya?” Profesionalitas membuat kita dapat dengan segera membayangkan tugas-tugas, mencocokkan dengan kesanggupan, dan mengambil keputusan.

Ketujuh, bersama SEF saya diminta tentang konsistensi, ketabahan, dan kesabaran. Bisa jadi, kegagalan kegiatan namun memberikan kita banyak tangisan dan pelajaran jauh lebih indah dibandingkan acara yang berjalan lancar namun terasa hampa. Jika engkau belum sempat menangis, bermurung diri, lalu berusaha tersenyum ketika nampak seorang teman mendekat, agar tak tampak berat yang ada dalam kita, maka sebenarnya engkau belum menikmati puncak keindahan itu teman. Bagi saya, saat-saat seperti itu, saat-saat menyembunyikan kesusahan, adalah saat-saat terindah. Lalu kita menunjukkan kesusahan dan memohon kemudahan kepada Allah saja, tanpa ada seorang temanpun yang tahu. Konsistensi, ketabahan, dan kesabaran itu, terkadang lahir karena banyaknya kita berinteraksi dengan lingkungan yang bermacam-macam, hingga tumbuh kepekaan kita, yang menjadikan kita dapat memilih sikap terbaik. SEF mengenalkan saya dengan orang-orang besar, tokoh-tokoh, masyarakat, sampai dengan anak-anak kecil yang membutuhkan perhatian, yang bermacam-macam latar belakang mereka. Dari sanalah kepekaan, ketabahan, kesabaran, melahirkan konsistensi…

Kedelapan, bersama SEF saya mendapati kemantapan kesungguhan dan totalitas. Ada banyak kegiatan bersama SEF, yang karena saya tidak peka belajar, harus sampai berulang kali mengajari saya tentang totalitas. Kegiatan yang pelaksanaannya jauh dari harapan, bisa jadi adalah karena kurangnya totalitas. Atau, kadang pikiran kita terbagi sehingga sedikit energi untuk mempersiapkannya. Berbicara tentang totalitas, tidak ada yang lebih baik dibanding menjalaninya. Totalitas itu, saat kita fokus dan bersungguh-sungguh terhadap satu hal dan sejeka mengesampingkan hal yang lain agar tidak mengeruhkan fokus kita. Saat kita harus memimpin rapat, pikiran kita hanya ada dalam rapat itu. Bukan di ruangan lain, atau memikirkan yang lain. Bersedihlah, jika kegagalan rencana itu terlahir dari kurangnya totalitas. Ah, saya harus banyak bersedih…

Kesembilan, bersama SEF saya belajar bagaimana indahnya persaudaraan. Kita ingat tingkatan persaudaraan; ta’aruf, tafahum, takaful, hingga itsar? Semuanya. Kita akan dapati semuanya jika benar dan jujur dalam persaudaraan. Ada masa-masa untuk mengelus dada karena terkadang ada godaan untuk berburuk sangka pada saudara, ketika janji tak tepat waktu, ketika kerja tak sesungguh rencana. Ada masa-masa untuk saling menopang saat sang saudara tak segera mampu menyudahi kerjanya. Dan ada masa-masa yang terindah, saat mempersilakan sang saudara atas sesuatau sementara kita mencukupkan diri dengan bersenyum, demi mendahulukan saudaranya. Coba nikmati, saat hanya tersisa segelas teh hangat, lalu kita saling berpandangan dengan seorang saudara kita, lalu kita berebutan. Bukan untuk meminum, namun untuk mempersilakan. Atau saat kita di warung makan, lalu selesai makan kita berlari berebutan sampai di kasir duluan untuk membayar semuanya. Ah, indah bukan? Dan banyak sekali, jika kita sudah memahami artinya bersaudara. Salam manis dari saya, untuk saudara-saudara terbaik di SEF…

Kesepuluh, bersama SEF saya belajar tentang bekerjasama dan saling percaya. Karena kita faham, bahwa pekerjaan besar itu akan sangat berat dikerjakkan sendirian. Ada banyak teman, yang sebenarnya punya keinginan yang sama. Bersama merekalah, pekerjaan-pekerjaan besar itu kita tunaikan bersama. Saling berbagi peran, saling membantu, dan kemudian percaya. Sulit rasanya kita dapat berbagi peran jika tidak ada rasa percaya pada lainnya. Bahkan, ada banyak keajaiban ketika rasa percaya itu diberikan. Seseorang yang tidak dibayangkan bisa mengerjakan sesuatu pekerjaan, malah sebenarnya dia mampu mengerjakan dengan sangat baik, lebih baik dari kita. Inilah, pentingnya rasa percaya kepada teman kita. Yakinlah, dia mampu. Lalu beri dia kesempatan. Dan saat keyakinan kita semakin kuat, kita dapat merencanakan pekerjaan-pekerjaan besar itu, bersama-sama. Berkaitan dengan hal ini, ingin rasanya saya bercerita tentang salah satu fragmen terbaik saya bersama SEF. Ketika itu adalah Temilnas VII FoSSEI, dan teman-teman telah mampu bergerak masing-masing berinisiatif tentang tugasnya, bahkan tanpa arahan dari sang ketua. Begitu luar biasanya rasa percaya itu mampu menggerakkan..

Sepuluh catatan inilah, merangkum begitu banyak cerita indah dalam perjalanan saya bersama SEF. Tidak hanya berhenti saat saya selesai di SEF, catatan indah itu terus berlanjut. Dan bahkan semakin indah. Kita coba mengingat bahwa di sepanjang perjalanan kita akan selalu menemukan gejolak, saat yang ada di depan kita adalah pilihan-pilihan. Gejolak itu terasa saat keyakinan dan keraguan itu hanya berbeda tipis. Dalam keadaan apapun, ringan ataupun berat, saat yakin atau berusaha untuk yakin, di manapun dan kapanpun, pada akhirnya kita memang harus memilih. Ya, memilih. Maka pertama kali adalah dengan yakin; bercita-citalah, berencanalah, bersemangatlah, jangan berputus asa dan berharap yang terbaik dari Allah. Memilihlah dengan tersenyum menatap ke depan, biarlah Allah yang akan membersamai. Inilah nasihat buat saya, yang kali ini harus sampai pada masa-masa bertabur pilihan. Memilih mengejar beasiswa S2, mencoba wirausaha, langsung bekerja, di pemerintah, di perbankan, di perusahaan, atau… Dan do’a itu, Q.S. Al Mu’minun: 29, menjadi teman setia yang menyemangati dan menyakinkan. Mohon do’anya juga ya teman..

Akhir kata, jazaakumullaahu khairan katsiiraan, untuk Uda Angga, Mas Dimas, Mas Akbar, Andrie, dan Dennis, serta semua saudara-saudara saya yang setia meniti jalan perjuangan… []

Minomartani, 5 Mei 2010; Ba’da dhuhur sampai ashar
Tulisan ini khusus dipersiapkan untuk buku “Sharing for Growing Together” yang disusun oleh alumni SEF JMME.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s