Tiga Do’a Tiga Mimpi Sederhana

“Jangan mengeluh dan jangan berputus asa…”

Pandangannya tunduk, hatinya bertakzim. Suasana malam berbalut sunyi pun kian menggetar. “Akh,” demikian ia bersahaja memulai kata, “bagaimana jika nanti engkau ditanya, apa amalan unggulanmu?” Sunyi pun masih mengalir hingga beberapa waktu. Kemudian, tunduknya perlahan terganti, pandangannya menatap saya dalam. Saat itu, tak ada kata pada saya. Tak ada jawaban dari lisan saya. Hanya hati yang bergejolak memikirkan bagaiman bersiap menghadapi sang tanya kelak. Pertanyaannya, kurang lebih sama dengan tanya Valentino Dinsi, Sang Guru Entrepreneurship, ketika menggugah motivasi pendengarnya dalam sebuah seminar, “What do you really want to be?” Seseorang yang begitu yakin menjawabnya, sering kali kembali terdiam ketika sampai pada tanya selanjutnya, “Yang seperti apa? Kapan?”

Begitulah yang membiasa dalam kita. Ada mimpi-mimpi bertumbuh dalam hati, namun terkadang tak tertulis nyata dalam takdir. Apa sebab? Awalnya adalah definisi. Ya, terlalu sering kita tak mampu, atau mungkin tak mau sedikit repot, untuk mendefinisikan setiap mimpi-mimpi dalam kata kerja. Benarlah Ibnul Qayyim Al Jauziyyah ketika berkata, “Angan-angan adalah harapan tanpa amal.” Ada beda, antara angan-angan dan mimpi. Bedanya pada amal, sebuah kata kerja.

Selanjutnya kita sama-sama belajar untuk mendekatkan mimpi dengan kata kerjanya, dengan menulisnya sebagai cita-cita. “Mimpi adalah bagian terindah dan terendah dari visi. Jika kita hendak menaikkanya satu aras, jadikanlah ia cita-cita.” Demikian Akh Salim pernah berkata dalam Jalan Cintanya. “Bagaimana caranya?” Ia masih melanjutkan, “Sematkan saja sebuah tanggal padanya. Karena cita-cita adalah mimpi yang bertanggal. Cita-cita adalah mimpi yang telah kita tentukan waktunya.”

Cita-cita, perlahan mendefinisikan mimpi dengan lebih jelas meski tak harus berpanjang kata. Juga memilih waktu untuk menyiapkannya menyesuaikan takdir Allah. Ingat kembali, bagaimana ilmu manajemen menuntun kita untuk merumuskan cita-cita dengan kaidah SMART: specific, measurable, achievable, relevant, dan timely. Semoga, kaidah ini tidak mengajak kita untuk takut bermimpi. Hanya kita diminta untuk lebih memahami. “Untuk meraih hal besar,” Anatole France, seorang peraih nobel pernah berucap, “kita bukan hanya harus bertindak, tetapi harus bermimpi. Bukan hanya membuat rencana, tetapi juga percaya.”

Rencana dan percaya, kerja dan cita-cita, seperti keniscayaan takwa dan iman yang senantiasa bergandengan dan beriring jalan saling menasihati. Tak saling mendahului, tak saling meninggalkan, tak saling mengabaikan, dan tentu saja tak saling menunggu, karena keduanya selayak bersicepat menggapai langkah lebih jauh, lebih tinggi. Ah, kini sampailah pada tanya, bagaimana dengan mimpi kita? Sudahkah ia mengajak sang amal untuk membersamai?

Sekarang, setelah beberapa waktu dikesampingkan, saatnya kita kembali kepada tanya seorang Akh di awal catatan. Sejenak memahaminya dengan kerangka kutipan yang mengikutinya pada paragraf-paragraf selanjutnya. Bercita-cita, berarti menyiapkan amal. Bolehlah kita menekankan pada kata kerja dengan ungkapan, bercita-cita untuk beramal. “Bagaimana menyiapkan amal unggulan yang menemani kita saat menjumpaiNya?” Kurang lebih demikian rumusan pertanyaan kita.

Maafkan, jika ada kesan yang tak nyaman dalam pertanyaan yang saya ungkapkan. Kali ini, ijinkan saya meminta Antum, baik yang sejak lama telah mempersiapkan dan membiasakan amalan unggulan maupun yang belum, menasihati juga menemani saya yang mulai belajar tentang cita-cita ini. Cita-citanya, menjumpai Allah dengan bersenyum, dalam nyaman kesiapan bersama amalan unggulan yang menyelimuti hangat. Saya mohon dengan sangat, bersiaplah menuangkan nasihat-nasihat melengkapi cita-cita untuk amal saya ya…

Pertama, menjadi pengusaha. Bukan apa-apa, hanya saja saya yang tidak begitu nyaman dengan formalitas, mungkin akan susah menyesuaikan diri kerja kantoran. Hehe. Apalagi, nampaknya ada sedikit beroleh pembelaan, namun bukan pembenaran kekurangan. Ketika Rasulullah pernah memberikan kisi-kisi dalam keteladanan dan sabdanya, “Sembilan dari sepuluh pintu rizqi ada dalam perniagaan.” Ada banyak hikmah menjadi pengusaha, Antum sudah lebih tahu. Hikmah yang berkesan bagi saya adalah, mengajari untuk bersyukur, bersabar, peka, bersungguh-sungguh, menghargai waktu, mengambil keputusan, dan hobi silaturahim. Insyaallah, lebih banyak bershadaqah dan bermanfaat untuk orang lain. Semakin mengakar cita-cita saya ini, meskipun akan mulai saya seriusi setelah lulus nanti, ketika ada beberapa teman yang mengajak merencanakannya. Bersiap untuk belajar tentang dunia peternakan, broker, sampai dengan warung makan! Ayo, ada yang mau bersyirkah dengan saya?

Kedua, menjadi dosen, peneliti, dan penulis. Saya masih ingat, pada semester satu kuliah, ketika mengikuti pelatihan tahap pertama dalam alur kaderisasi organisasi. Ketika itu, seluruh anggota baru diminta menyusun rencana selama kuliah, menuliskan capaian setiap semester, pertama sampai akhir. Di sana saya tuliskan capaian saya, satu-satunya cita-cita: menulis buku pada semester lima! Ah, sayangnya, sampai di penghujung kuliah saat ini, belum kesampaian. Salah saya, beginilah ketika komitmen kurang kuat menjaga cita-cita. Namun sungguh, cita-cita itu masih tetap ada sampai saat ini, bahkan terasa semakin dalam. Kertas di mana saya menuliskan cita-cita itu pun masih tersimpan. Terkadang dipandangi, menyemangati. Saya juga masih ingat, cita-cita saya ketika diterima di kampus ini: menjadi dosen! Membeda, sementara kebanyakan yang lain becita-cita kerja di Bank Indonesia. Belum lagi, kalau ingat selama kuliah saya banyak dihidupi oleh aktivitas penelitian. Jadi aliran kas masuk, hehe. Klop sudah! Memang, dosen dan peneliti menjadi pilihan karena sejalan dengan cita-cita saya untuk terus menulis. Satu lagi pertimbangan, tentu saja, terkenang kata Sang Syaikh seperti dalam filmnya, “Guru itu justru hartanya banyak. Ngasih ilmu aja kerjaanya…” Subhanallah. Semakin mantap! Biar bagaimanapun, kita harus bercita-cita mengajarkan dan mengajak bukan? Dan dosen, peneliti, juga penulis, ianya adalah jalan kontribusi untuk belajar, mengajarkan, dan mengajak.

Ketiga, menjadi ayah! Untuk yang terakhir ini, Antum sekalian sudah cukup paham. Ada cerita, ada cita-cita, ada harapan tentang generasi shalih. Ah, betapa rindunya saya, bergetar hati saya mengatakannya, hingga saat ini tercukupkanlah kata-kata ini saja. Maaf, sedikit saja ya.

Bagaimana cita-cita saya ini menurut Antum? Sudah terdefisikan dengan jelas kah? Atau melebay? Ah, insyaallah tidak. Mimpi melebay ketika tak membuat kita bergerak bersegera. Semoga ketiganya menjadi penuntun arah gerak saya bersegera menyiapkan amal unggulan. Sejenak terbayang dengan nasihat di waktu kecil dahulu. Saya tidak ingat siapa yang mengenalkannya pada saya, pastinya saya berulang kali telah mendengarnya. Sabda Rasulullah seperti diriwayatkan oleh Imam Muslim, “Apabila anak Adam wafat putuslah amalnya kecuali tiga hal yaitu sodaqoh jariyah, pengajaran dan penyebaran ilmu yang dimanfaatkannya untuk orang lain, dan anak (baik laki-laki maupun perempuan) yang mendoakannya.” Lihatlah dari mana ketiga cita-cita saya terbangun, menjadi doa yang berpanjat khusyuk menembus setiap malam, berhias jernihnya luh dan merdunya isak, agar Allah menyempurnakan dalam kebaikan. Juga cita yang bersusun rapi, mengikhtiyarkan amalan-amalan unggulan yang tak berputus bersama usia dunia. Mohon doanya juga, untuk sebuah rencana sederhana saya…

Seorang Akh yang lain, di waktu yang lain, membecandai saya, “Tidak terbayang, kapan kita akan sampai pada ustadziyatul ‘alam, menjadi model yang agung bagi semesta, yang merupakan tahapan ketujuh, capaian tertinggi dalam cita-cita amal kita.” Saya memandanginya serius, juga mengiringinya dengan muhasabah diri. “Sementara,” masih dengan mimik serius ia melanjutkan, “kita masih ragu, sesekali maju, sesekali mundur, di antara tahapan pertama dan kedua. Tidak bersegera menaikkan tahapan. Apa masih belum cukup berlama-lama di tahapan pertama?” Kembali, kunaikkan pandanganku yang tertunduk, memandanginya. Wajahnya yang serius tiba-tiba saja berganti cepat, dan seketika kita tertawa bersama. Bukan bahagia, namun sedih, mengingat singkatnya waktu dan panjangnya jalan, sementara langkah belum bergeser jauh dari garis start.

Pada akhirnya, semua berpulang kepada waktu. Sudah seberapa efektifkah waktu-waktu kita? Sudah sampai sejauh mana kita pada waktu-waktu yang telah dijalani? Ah, memang tidak cukup mimpi. Juga tidak cukup kerja. Ada satu yang perlu kita tahu, bahwa penjangnya perjalanan membutuhkan mimpi yang selalu ada. Mimpi yang sejenak, tak akan mengantarkan kita berjalan lebih jauh. Suatu saat akan berhenti juga. Bahkan banyak berhenti. Padahal waktu terus saja bergulir tak menunggu.

Sungguh, ketika kita telah memilih mimpi, kemudian mempertahankannya di sepanjang perjalanan hingga gerak tak pernah hilang, maka kenyataan itu cuma soal waktu saja. Tinggal menunggu waktu! Dan waktu tak akan lama karena ia senantiasa melaju kontinu. Bukan hal yang mudah memang, mempertahankan mimpi, namun rasanya cukup dengan dua pantangan untuk mencapainya: jangan mengeluh dan jangan berputus asa. Iya, jagalah dua itu, dan terus bergeraklah menjaga waktu dalam alurnya: bermula doa, mengiringi jiwa yang kokoh, membangun rencana-rencana terbaik, dan selalu bergerak dalam nuansa ruhiyah yang mantap. Hingga amal-amal yang menjadi doa dan cita-cita, amal-amal unggulan, sambung menyambung menjalinkan takdir indah, beruntai pahala tak berbatas usia dunia. Insyaallah.

Wallahu a’lam bish showab.

22 Oktober 2009,
Sedang menyemangati diri sendiri untuk segera lulus! Merencanakannya sebagai catatan terakhir sampai S.E. nanti. Juga sedang memohon nasihat, dengan menulis dalam kontemplasi, tiga doa tiga cita. Dan cukup satu cinta, ;)

4 thoughts on “Tiga Do’a Tiga Mimpi Sederhana

  1. mihsan1

    Assalamualaikum.
    Salam kenal, akh Yoga. Saya Ihsan.

    Cita-cita anda mirip dengan saya, bahkan bisa dibilang sama. Gak ada kan yang namanya hak cipta untuk bercita-cita. Hehehe…
    Saya terkesan dengan apa yang menjadi dasar antum dalam mencita-citakan tiga hal tersebut.
    Terima kasih, saya sudah dibantu untuk merumuskan kembali dan lebih menyeriusi cita-cita saya :)

    Wassalam,
    Ihsan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s