Kesalahan pun Lebih Bermakna

Saya pun pernah terpikir, tidak ada yang salah dengan kesalahan. Maka kemudian akan ada tanya, bagaimana dan kapankah itu? Ah, hati saya menjawab lirih pada diri sendiri, bahwa tidak ada yang salah dengan kesalahan, ketika ada niat yang benar sempurna dan kepasrahan untuk menjadikannya pelajaran kemudian. Benarkah? Belajar tentang hal itu saat ini, saya terkagum dengan seorang pahlawan pembela Allah, yang kemudian dibela Allah dengan surat cintaNya yang mengabadi. Dialah, sang pahlawan, Abdullah bin Jahsy. Teman ngobrol, teman sepermainan, dan teman dekat Muhammad, Rasulullah SAW, di masa kecilnya. Juga pemimpin pasukan Islam pertama yang dipilih Rasulullah, hingga dikenal sebagai Amir al-Mu’minin pertama (al-Mu’thi, 2008: 61)

Cerita bermula pada musim dingin, tujuh belas bulan setelah hijrah, Rasulullah membentuk pasukan kecil terdiri dari sembilan orang. Rasulullah menunjukkan Abdullah bin Jahsy sebagai pemimpinnya. Sebelum berangkat, Rasulullah mmebekali Abdullah bin Jahsy dengan sebuah surat dan berpesan: bukalah setelah dua hari perjalanan dan jangan memaksa sahabatmu mengikutimu. Dan berangkatlah pasukan ini dari Madinah ke arah selatan.

Sesuai dengan pesan Rasulullah, setelah dua hari perjalanan, Abdullah bin Jahsy membuka surat tersebut. Terbacalah pesan dari Rasulullah: pergilah ke Nakhlah dan carilah kabar tentang kafilah Quraisy. Di versi yang lain isi pesan tersebut: pergilah ke Nakhlah dan sergaplah Quraisy (Armstrong, 2007: 286). Setelah itu, Abdullah menceritakan pesan dalam surat itu kepada sahabatnya. Terbayanglah akan datang kesulitan di depan mata, namun seluruh sahabat bersemangat untuk tetap melanjutkan perjalanan karena itu perintah Rasulullah (al-Mu’thi, 2008: 61). Di versi yang lain pernah disebutkan, dua sahabat kembali karena kehilangan untanya (Armstrong, 2007: 286).

Sesampai di Nakhlah, antara Thaif dan Makkah, ketika hendak melepas lelah, pasukan bertemu dengan kafilah Quraisy. Dalam pikiran Abdullah bin Jahsy, tersirat niat untuk membalas dendam. Seketika dia terbayang dengan rumah dan harta keluarganya yang dirampas Abu Sufyan. Namun kemudian dia pun teringat, hari itu hari terakhir bulan Rajab, bulan diharamkannya peperangan dan pertumpahan darah, sesuai kesepakatan bangsa Arab. Maka dalam benaknya terus berputar dua pilihan: diam atau berperang? Diam berarti kehilangan kesempatan, berperang berarti melanggar bulan yang diharamkan. Saat itu menjadi saat yang dilematis bagi Abdullah bin Jahsy, sang pahlawan yang bertanggung jawab atas pasukannya.

Apa pilihan Abdullah bin Jahsy? Ya, mungkin di luar perkiraan kita, dia dan pasukannya memilih berperang, tidak membuang kesempatan, membalas dendam, dan tentu saja harus melanggar bulan haram. Perang kecil pun berakhir dengan kemenangan, merampas barang dagangan, membunuh satu kafir, dan menawan dua kafir. Begitulah…

Namun sungguh, setiap pilihan selalu membawa konsekuensinya. Terlebih pilihan yang dilematis seperti yang dihadapi Abdullah bin Jahsy saat itu. Kepulangan pasukan ini disambut dengan berbagai pendapat yang berbeda, setuju dan tidak setuju, pro dan kontra. Apa lagi kalau bukan tentang perang di bulan haram, melanggar kesepakatan bangsa Arab adalah kesalahan. Dalam sebuah versi dikatakan, bahkan Rasulullah pun ikut mencela hingga mereka terus merasa bersalah dan sangat bersedih (Armstrong, 2007: 286). Namun, di balik rasa bersalah dan bersedihnya Abdullah bin Jahsy, Allah mengejawantahkan cintaNya. Melalui sebuah surat cintaNya, Allah membebaskan Abdullah bin Jahsy dari kesalahannya. Ada kesalahan yang lebih tinggi ketika meninggalkan kesalahan yang dipilihnya.

“Mereka bertanya tentang peperangan pada bulan-bulan haram, katakanlah bahwa peperangan di dalamnya adalah dosa besar dan menentang jalan Allah, serta kafir kepadaNya, dan Masjidil Haram serta pengusiran pemiliknya dari sana adalah dosa yang paling besar di sisi Allah dan sesungguhnya fitnah lebih besar dosanya ketimbang berperang dan mereka masih saja memerangi kalian hingga mereka dapat mengusir kalian dari agama kalian sekemampuan mereka.” (Q.S. al-Baqarah: 217)

Demikianlah, sungguh Allah Maha Penyayang. Pada Rasulullah dan umatnya, dan terkhusus pada saat itu kepada Abdullah bin Jahsy. Kesalahannya dibebaskan oleh Allah! Dan Allah menghendaki dalam pilihan itu tersimpan hikmah yang besar. Pertama, tentang keberanian dan kepahlawanan yang terlahir dari niat yang tinggi hanya karena Allah. Begitulah, prioritas niat tertinggi pun menjadikan keberanian berlabuh kepahlawanan, lebih tinggi dan menghapus kesalahan. Kedua, tentang pembagian ghanimah yang diperoleh dari peperangan itu menjadi teladan pertama sebuah kebijakan. Inilah yang disebut dengan khums (Antonio, 2007: 169), sebagaimana dalam Q.S. al-Anfal: 41, yang kemudian ditetapkan sebagai sumber pendapatan dalam kebijakan fiskal pemerintah Islam: seperlima untuk Allah dan Rasulullah. Ketiga, mungkin ini kesimpulan pribadi saya, akan ada perbedaan pendapat, setuju dan tidak setuju, dalam keputusan yang salah, juga dalam keputusan yang benar sekalipun. Maka meniatkan dan menjalani dengan benar agar tidak banyak menggoda hadirnya fitnah, pun selayaknya senantiasa menjadi pertimbangan kita. Dan keempat, tentu saja, selalu ada hikmah di balik setiap peristiwa. Maka bersyukurlah dan bersabarlah.

Hm, terlalu panjang saya berbagi cerita yang pernah saya baca. Hanya saja, merenungi cerita ini dengan mendalam, kian meyakinkan saya tentang istilah: tidak ada yang salah dengan kesalahan. Atau mungkin saya perlu menggantinya dengan: selalu ada hikmah di balik setiap peristiwa, yang menyenangkan, yang menyedihkan, dan bahkan yang merupakan kesalahan. Yah, inilah yang lebih tepat, dari kesalahan pun kita bisa memetik hikmah. Dan mungkin seperti kisah ketika Allah menegur pilihan Rasulullah dengan surat cintaNya pula: Q.S. ’Abasa, ketika beliau mengabaikan kedatangan seorang sahabat yang buta ingin belajar padanya dan mendahulukan bertemu dengan pemimpin Quraisy. Kesalahan pun senantiasa menjadi pelajaran. Dan dalam al-Qur’an, pelajaran itu mengabadi. Ah Allah, sungguh indahnya caraMu membina dan mencelup warna kami…

15 Juli 2009, 01:23;
Dini hari setelah meluangkan waktu untuk sejenak memikirkan FoSSEI, serta pilihan-pilihan yang pernah dan akan diputuskan ke depan. Sementara saya harus terus belajar membagi pikiran, untuk: skripsi, organisasi, prestasi, perbaikan diri, … Ah, banyak hal! Mohon do’a dan nasihatnya kawan…

One thought on “Kesalahan pun Lebih Bermakna

  1. rosaadelina

    benar,akh.. tak ada yang salah dengan kesalahan, hanya saja ia menjadi sebuah tahap pembelajaran untuk kita agar kita melakukan yang terbaik lagi.. karena sejatinya, manusia adalah makhluk yang tak sempurna, kita hanya bisa berbuat yang terbaik bagi kita dan di sisi Allahlah hikmah itu datang.. semangat kawan!! perjalanan kita masi panjang ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s