Cinta…

“Mau mbok catet ora?” Seorang saudara sekaligus inspirator bagi saya bertanya. “Lhoh, lha sampeyan bukane ya melu?” Saya balik bertanya. “Telat.” Jawabnya singkat. “Hmmm… Santai wae nek ngono, mengko tak tulis… Insya Allah masih lengkap terekam…” Begitula, sebuah pembicaraan singkat setelah mengikuti kajian Mas Salim di Mushola Pascasarjana UGM. Dan, di sinilah catatan-catatan itu ditulis kembali. Bersiap-siaplah…

Memulai membicarakan cinta, Mas Salim membacakan sebuah ayat dari surat cintaNya: Katakanlah,”Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih bamu cintai dari pada Allah dan RasulNya serta berjuhad di jalanNya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusanNya.” Dan Allah tidak member petunjuk kepada orang-orang fasik (q.s. at-Taubah:24). Dari ayat ini kita belajar tentang prioritas dalam cinta.

Dr. Abdullah Nashih ‘Ulwan, yang bukunya saya jadikan referensi dalam skripsi saya: Ahkam Az-Zakah ‘Ala Dhau’i al-Madzhahib al-Arba’ah, di waktu lain pernah menyampaikan tentang tingkatan cinta. Prioritas dalam cinta, begitu yang dikutip oleh Mas Salim. Pertama, cinta yang tinggi, hubbul-a’la. Inilah cinta kepada Allah, RasulNya, dan jihad di jalanNya, seperti dalam ayat yang dijadikan pembuka di atas. Inilah cinta yang selayaknya selalu di atas cinta yang lainnya. Cinta yang hanya mengharap Allah, ridhaNya, dan pahalaNya saja. Tentang cinta ini, perkataan dan sikap Sa’d bin Abi Waqqash ketika dipaksa ibundanya kembali kepada kekafiran dengan cara melakukan mogok makan adalah teladan yang indah… Yuk, buka sirahnya kembali biar lebih mantap.

Kedua, cinta yang menengah, hubbul-mustho’. Inilah cinta kepada wanita, anak-anak, harta, kendaraan, dan sebagainya. Inilah cinta yang menjadi ujian dalam kehidupan. Cinta yang dekat dengan fitnah dunia. Cinta ini bisa naik menjadi cinta yang tinggi, namun, naudzubillah, bisa turun menjadi cinta yang rendah. Maka beruntunglah mereka yang bisa membawa cinta ini naik lebih tinggi, hingga fitnah dunia pun berganti menjadi cinta yang tinggi. Kapankah itu? Hmm, ketika cinta kita kepada istri kita semakin menambah cinta kita padaNya, ketika harta dan kendaraan yang kita miliki kita gunakan untuk jihad di jalaNya… Subhanallaah, indah ya.

Ketiga, cinta yang rendah, hubbus-sufla. Inilah yang terjadi ketika cinta yang menengah turun ke dasar kezaliman. Yaitu ketika cinta itu tercemari oleh nafsu yang senantiasa diperturutkan. Naudzubillaah, ampun deh, jauh-jauh sama yang kayak gini…

Begitulah, cinta pun memiliki prioritas. Dengan memahami prioritas ini, insya Allah kita akan dapat merasakan cinta sebagai sebuah karunia, saat ujian-ujian cinta mampu terlampaui. Ujian cinta pun terkadang bertahap, ini yang perlu kita pahami sebelum memenanginya. Saat kita bujang, ujian kita adalah wanita. Saat kita udah menikah, ujian kita adalah anak-anak. Sesekali wanita pun masih menguji. Saat kebutuhan bertambah, ujian kita adalah harta. Sesekali wanita, istri kita, dan anak-anak masih saja menguji. Dan seterusnya, ujian itu merindukan pertemuan dengan kita. Sungguh janji Allah, kalau kita mampu memenangi ujian-ujian cinta itu, di sisi Allah ada tempat kembali yang baik. Bukankah ini yang kita tuju kawan? Tegarlah, sabarnya… Lhoh, malah Gradasi nyanyi hits single-nya, Kupinang Engkau dengan al-Qur’an. Hihi…

Begitulah, cinta pun harus ada batasnya. Ketika kita bertemu dengan cinta yang menengah, cinta yang menguji, maka kita menjadikan cinta itu menjadi cinta yang tinggi, yaitu cinta kepada Allah, RasulNya, dan jihad di jalanNya, dengan menjaga batas-batasnya. Demikian agar cinta yang menengah tidak berlebihan. Dan sungguh janji Allah, telah disediakan surga, untuk mereka yang menjaga cintanya pada batasnya, pada tempatnya, dan pada waktunya.

Sebelum menutup, Mas Salim mengutip sebuah hadits tentang tingkatan manusia. Pertama, manusia yang diberi ilmu dan harta. Dengan itu dia bertaqwa dan berjihad. Kedua, manusia yang diberi ilmu saja tidak diberi harta. Hanya dia berangan-angan seperti yang dilakukan manusia pertama. Sungguh, kata Rasulullah, pahala kedua orang ini sama! Demikian halnya yang ketiga, manusia yang diberi harta saja tidak diberi ilmu. Dengan hartanya ia gunakan untuk sia-sia dan maksiat. Dan keempat, manusia yang tidak diberi ilmu dan harta. Hanya dia berangan-angan seperti yang dilakukan manusia ketiga: sia-sia dan maksiat. Naudzubillaah! Kata Rasulullah, pahala kedua orang ini sama! Ah, kasihan sekali orang yang keempat ini.

Artinya, angan-angan, cita-cita, dan niat, pun menjadi penentu catatan-catatan Allah tentang amal kita. Maka, mari senantiasa kita perbaharui niat kita, niat cinta-cinta kita… tawazun, karena cinta memiliki prioritas. Dan berangan-anganlah setinggi-tingginya dalam cintamu: “Allah…”

# 04 Juli 2009, 12:55, lewat tengah malam.
Jazakumullah. Mas Salim, sang pemateri. Mas Pugo, sang penagih catatan, hehehe. Dan teman-teman penyelenggara kajian, HIMMPAS UGM. Mohon koreksi dan rekomendasinya.
Ah, insomnia… Baiknya kalo diselingi sholat malam ya. Udah sempat tidur jam 7.30 tadi. Hehe.

3 thoughts on “Cinta…

  1. Willy Mardian

    Assalamualaikum

    mm rupa-rupanya ada benchamarking Akh Salim Fillah lagi mewabah yach ??

    benchamarking halal lah but it will be better kalau kita menemukan jatidiri pena kita dalam menulis

    tetap semangat bro !!!!

  2. Aditya Yoga

    sebenarnya belajar dari banyak karya, mas salim salah satunya
    yup, sepakat, harus punya jati diri,
    nah, ini terus belajar dan mencari jati diri… :p

    kasih evaluasi dan rekomendasi ya… :)

  3. Willy Mardian

    klo rekomendasi
    benchmarking yang bagus punya mungkin KH Rahmat Abdullah, Anis Matta, Umer Chapra,
    jadi kolaborasi antara kontemplatif dan argumentatif plus reportatif tulisan khas para jurnalistik ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s