Visi yang Menginspirasi

Jazaakallaah, teruntai do’a setulus hati untuk salah seorang saudara saya yang baik. Dari sepetik tanyanya yang menggugah saya kemudian mengambil pelajaran. “Yog, ada banyak orang-orang hebat yang mampu menginspirasi dunia, dengan pemikirannya, dengan pergerakannya. Apa sebenarnya yang membuat mereka menjadi begitu hebat dan berbeda dibanding yang lainnya?” Saya memandangi garis wajahnya, menyelami tanyanya, hingga saya menemukan kesungguhan dalam tanyanya itu.

Sejenak saya terdiam, berpikir dan berusaha menemukan jawaban. Jawaban atas tanyanya yang kemudian menjadi tanya bagi hati saya. Bagi saya, ada banyak hal yang terangkai sebagai jawaban-jawaban mengingat kehebatan itu merupakan konsolidasi dari berbagai pemikiran dan pergerakan kecil yang senantiasa terlahir setiap saat. Namun tiba-tiba tersebut dalam hati saya tentang satu kata yang menjadi pijakan pertama dari kehebatan dna inspirasi itu: visi. Ya, visi yang membuat mereka hebat, inspiratif, dan berbeda hingga mereka pun menjadi sosok-sosok yang luar biasa. Tentu saja visi yang digenggam bersama ikhtiyar dan tawakal, dengan keistiqamahan  tak berbatas. Bukan visi yang sempat terpikir sejenak dan selanjutnya mengabur seiring waktu. Dan tentu saja visi yang besar. Bukan visi yang lahir hanya untuk memenuhi kepentingan diri sendiri.

Tentang visi yang besar itu, mungkin telah banyak sosok dalam sejarah yang mengukirkan keteladanan. Namun ada satu kekaguman yang luar biasa dalam hati saya pada dua sosok pemuda. Kekaguman yang juga pernah dirasakan oleh Abdurrahman bin Auf, seorang yang dekat dengan keduanya. Dan cerita mengangumkan tentang keduanya, pernah terukir dalam Perang Badr.

Ketika Perang Badr, salah satu dari keduanya berkata pada Abdurrahman bin Auf. “Paman,” dia berbisik pelan agar tak terdengar oleh sahabatnya, “tunjukkan padaku mana Abu Jahl.” Abdurrahman bin Auf balik bertanya, “apa yang akan kamu lakukan padanya?” Maka tersenyumlah pemuda ini seiring jawaban yang kokoh menjulang melantun dari bibirnya. “Paman, dia membenci Rasulullah. Demi jiwaku yang ada dalam genggamanNya, sungguh jika aku melihatnya, tidak akan berpisah biji mataku dengan biji matanya sampai ada yang mati di antara kami.” Dan ungkapan menyejarah ini terasa jauh lebih menggetarkan, ketika kita mengetahui bahwa pemuda ini adalah Mu’adz bin ‘Amr bin al-Jumuh, yang pada saat itu masih berusia 14 tahun.

Tak kalah dengan Mu’adz, begitu pula dengan seorang sahabatnya, Ma’udz bin Afra’ yang berusia setahun lebih muda. Ma’udz pun bertanya pada Abdurrahman bin Auf dengan pertanyaan yang sama. Maka ketika pandangan Abdurrahman bin Auf telah tertuju pada Abu Jahl, dia berkata pada kedua pemuda ini, “inilah orang yang kalian tanyakan padaku!” Kedua pemuda ini tersenyum, seolah melihat surga telah begitu dekat dalam pandangan matanya. Keduanya segera berlari, mendekat dan menyempurnakan visinya. Kecilnya tubuh mereka, sulitnya rintangan di depan mereka, terkalahkan oleh visi yang menjulang tinggi.

Akhirnya, visinya yang besar, mengalahkan semuanya. Visi itu mengantarkan mereka menjadi orang-orang yang besar dengan perbuatan-perbuatan yang besar. Mereka mencatatkan nama dalam sejarah, sosok-sosok pembunuh Abu Jahl, musuh besar Islam si biang kejahiliyahan! Mereka memenuhi salah satu di antara dua visi besarnya: membunuh Abu Jahl atau syahid menuju surga. Mereka beroleh yang pertama! Bahkan Rasulullah, yang mereka cintai dan mencintai mereka, pun mengapresiasi kedua pemuda ini dengan kekata yang sempurna, “ya, kalian berdua telah membunuhnya.”

Dari mereka berdua, pemuda yang masih berusia 14 dan 13 tahun ini, kita selayaknya belajar tentang visi. Visi yang menembus batas! Visi yang tidak sekedar visi, melainkan puncak tertinggi dari sebuah visi. Tidak cukup hanya ikut dalam Perang Badr, tidak cukup membunuh satu orang kafir, tetapi membunuh Abu Jahl menjadi visi tertingginya, sekalipun taruhannya adalah gugur di jalan Allah! Begitulah, hingga keduanya menorehkan kehebatan dan inspirasi. Kalau pun mereka mencukupkan visinya sekedar membunuh satu orang kafir, atau hanya bisa ikut perang Badr, sungguh tak akan pernah ada yang mencela mereka mengingat usia keduanya yang masih sangat muda. Namun, torehan kehebatan dan inspirasi itu, hanya mengejawantah dari visi yang besar yang senantiasa mereka ganggam!

“Apakah kita telah menggenggam visi yang besar?” Saya tersenyum, bertanya pada hati, dan bertanya pada saudara yang duduk di samping saya. Kita sama-sama terdiam kembali. “Mungkin selama ini,” saya melanjutkan dengan suara semakin lirih menyelami renungan, “kita berjalan tanpa pernah memiliki visi, yang besar, yang kokoh, yang menjadi pijakan pertama dari langkah-langkah kita, hingga tak ada jejak yang kita tinggalkan.” Bersamaan dengan itu, saya pun terus menyelami kata-kata yang mengalir tanpa sadar dari bibir saya.

Visi yang besar dan kokoh akan mengalahkan segala kesulitan di depan kita. Tidak ada alasan kita akan berhenti, karena visi itu masih jauh dan kita yakin memdapatkannya. Tidak ada yang mampu menggantikannya. Maka kita akan mengejar dan terus mengejar. Berbeda ketika kita hanya menggenggam visi yang kecil dan terbatas, bahkan ketika kita tidak memilikinya. Banyak yang akan mampu menggantikan, dan satu kesulitan pun akan cukup menjadi alasan menghentikan kita. Selesai sudah! Dan itulah sejarah kita. Mau?

Maka sebagai penutup tulisan ini, saya mengingat pertanyaan yang senantiasa saya munculkan dalam hati, “dari mana saya dapatkan visi itu?” Dan hati saya pun senantiasa menjawab dengan satu kata: cinta. Begitulah saya belajar dari sosok-sosok yang menginspirasi. Ya, cinta itu yang menelusup dalam hati, lahir dari pembelajaran dan pemahaman ilmu yang senantiasa bertambah seiringnya. Cinta itu, cinta yang mampu menggerakkan dan mengokohkan genggaman visi Mu’adz dan Ma’udz, adalah cintanya kepada Allah, cintanya kepada Rasulullah, hingga setiap pilihan langkah-langkahnya bernilai jihad hingga cinta itu menyempurna tak tergantikan. Wallahu’alam.

18 Juni 2009, 23:02

Rehat sejenak saat mengerjakan kuesioner untuk penelitian skripsi. Dan tulisan ini lahir dari rehat itu, semoga mengalirkan manfaat bagi yang membacanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s