Berbincang dengan ibunda, senantiasa hadirkan sedalam renungan buat saya. Uniknya, kalau saya ingat perbincangan-perbincangan dengan beliau, sebagian besar terjadi dalam perjalanan. Ya. Sering kesempatan itu datang saat saya memboncengkan beliau, dalam perjalanan mengantar berbelanja, atau bersama menemani adik jalan-jalan, juga saat-saat lain yang serupa.
Hari ini, saat-saat akhir kesempatan saya banyak-banyak membersamai beliau sebelum pergi merantau, perbincangan pun terasa jauh lebih dalam dari biasanya. Ketika yang ternasihatkan, yang terrembug, dan terrencanakan, adalah tentang hari-hari di rantau nanti. Ada berontak ngeyel dalam celetuk dan sikap, hehe –semoga tak sampai menyebabkan murka Allah ya-, jika rasa-rasanya ibunda terlalu jauh mendikte diri. Ini dan itu, seolah kita tak pernah tahu. Ada sekerabat angkuh mungkin, saat terbisik dalam hati demikian, “Iyaa Buu, saya sudah tahu, masa begitu saja sampai dibilangin terus..” AstaghfiruLlaah, mudah-mudahan hanya menjadi sebab kenangan yang selalu terrindu nantinya –dalam indah-, bukan kerenggangan hubungan dan ketidakberbaktian yang memantik murka.
Saya tahu, ini hanya disebabkan oleh cinta. Cinta ibunda pada sang putra. Maka dalam nasihat dan perlakuan ibunda sejatinya tertumpuk harapan-harapan terbaik. Bukan yang terbiasa diprasangkakan; menyulitkan, merepotkan. Bukan juga sebuah pengekangan, atau kekhawatiran berlebihan, hanya dalam kalbu yang tak sanggup mendengar kesusahan sang putra. Dari seorang ibunda sahabat, saya pernah memahami maksud baik itu. Ketika sang putra, sahabat saya itu, menelpon ibundanya dari rantau, menceritakan kondisinya. Lalu indah penuh syukur jawaban ibundanya, “AlhamduliLlaah, ya syukur nek kowe ora nganti keliren neng kana Le..” Yang penting kamu tidak sampai kelaparan saja. Begitu.


