Catatan Yoga

dari Sebuah Perjalanan Panjang, untuk Sekedar Membagi dan Semoga Menginspirasi ;)

  • About Me

ICMI dan MITI Dorong Kiprah Ilmuwan Muslim

Posted by Aditya Yoga on November 28, 2011
Posted in: berita. Tagged: ilmuwan muslim. Leave a Comment

Sumber: http://republika.co.id:8080/koran/0/147999/ICMI_dan_MITI_Dorong_Kiprah_Ilmuwan_Muslim

Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) selama ini dikenal sebagai wadah yang menaungi orang-orang pintar yang biasa kita sebut ilmuwan. Rupanya, selain ICMI, banyak pula ilmuwan yang bergabung pada wadah lain bernama Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI). Apa saja yang dilakukan dua organisasi ini dalam mendorong kiprah para ilmuwan Muslim di Tanah Air?

Mantan menristek Suharna Surapranata, salah seorang pendiri MITI, mengungkapkan, MITI berawal dari kepedulian dan perhatian akan berbagai persoalan bangsa, khususnya di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Pada akhir dekade 80-an, sekitar sepuluh aktivis dakwah kampus (ADK) yang berkesempatan menimba ilmu di luar negeri khususnya bidang iptek menggagas berdirinya wadah untuk menghimpun mereka.”Wadah awal hanya berbentuk forum komunikasi SDM Iptek yang sifatnya sudah nasional, karena kami berasal dari berbagai daerah,” katanya kepada Republika, Selasa (15/11).

Continue Reading

Share this:

  • Email
  • Print
  • Facebook
  • Twitter

Suharna Surapranata, Teladan di Segala Mihwar Dakwah

Posted by Aditya Yoga on October 21, 2011
Posted in: berita. Tagged: teladan. Leave a Comment

Oleh : Cahyadi Takariawan

Gonjang-ganjing reshuffle kabinet banyak mendapatkan sorotan media akhir-akhir ini. Banyak media menilai PKS emosional mensikapi reshuffle ini lantaran seorang menterinya terkena dampak, harus meninggalkan kursi kementrian untuk diganti personal lain. Benarkah ada sikap emosional menghadapi reshuffle tersebut, dan bagaimana sikap Menteri yang terkena reshuffle ?

Menteri dari PKS yang terkena reshuffle itu adalah Suharna Surapranata. Apakah ia emosional menghadapi peristiwa ini ? Ah, berlebihan pertanyaan itu. Kang Harna, panggilan akrab sang menteri, ternyata biasa saja. Bersikap sangat arif dan tenang, sama sekali tidak ada kesan emosional.

Continue Reading

Share this:

  • Email
  • Print
  • Facebook
  • Twitter

Jangan Mengeluh

Posted by Aditya Yoga on April 28, 2011
Posted in: kontemplasi. Tagged: perjalanan. Leave a Comment

AlhamduliLlah. Allah perkenankan saya menyadari kekurangdewasaan saya, dengan jalan yang indah. Pada setiap keluh yang pernah tersampai hingga oleh lisan saya, Allah tunjukkan jawaban sebentuk renungan mendalam buat diri dari sekian perbincangan dengan sosok-sosok yang inspiratif. Indahnya, renungan itu yang kemudian hadirkan penentram hati atas segala keluh.

Mengeluh. Seolah mengidentik pada kecenderungan hati yang ringkih. Atau ketidakmampuan menata dan mengelola setiap rasa terhadap takdir yang terkarunia. Mengeluh pun boleh jadi tersebab oleh melemahnya iman dan keyakinan pada pertolongan Allah. Dan keluhan itu, tentu saja akan membersamai mereka yang tidak mampu hadirkan syukur atas apa-apa yang terkaruniakan. Juga mengiringi mereka yang tidak sanggup hadirkan sabar atas apa-apa yang tercobakan. Padahal, orang beriman, terbekali padanya syukur dan sabar pada ketentuan Allah yang menjadikannya kebaikan. Setidaknya, itu yang pernah saya rasai. Dan, memang, mengeluh ini berkaitan dengan rasa.

Continue Reading

Share this:

  • Email
  • Print
  • Facebook
  • Twitter

Hari Ini Untukmu, Ibunda..

Posted by Aditya Yoga on February 21, 2011
Posted in: diskusi. Tagged: perjalanan. 4 comments

Berbincang dengan ibunda, senantiasa hadirkan sedalam renungan buat saya. Uniknya, kalau saya ingat perbincangan-perbincangan dengan beliau, sebagian besar terjadi dalam perjalanan. Ya. Sering kesempatan itu datang saat saya memboncengkan beliau, dalam perjalanan mengantar berbelanja, atau bersama menemani adik jalan-jalan, juga saat-saat lain yang serupa.

Hari ini, saat-saat akhir kesempatan saya banyak-banyak membersamai beliau sebelum pergi merantau, perbincangan pun terasa jauh lebih dalam dari biasanya. Ketika yang ternasihatkan, yang terrembug, dan terrencanakan, adalah tentang hari-hari di rantau nanti. Ada berontak ngeyel dalam celetuk dan sikap, hehe –semoga tak sampai menyebabkan murka Allah ya-, jika rasa-rasanya ibunda terlalu jauh mendikte diri. Ini dan itu, seolah kita tak pernah tahu. Ada sekerabat angkuh mungkin, saat terbisik dalam hati demikian, “Iyaa Buu, saya sudah tahu, masa begitu saja sampai dibilangin terus..” AstaghfiruLlaah, mudah-mudahan hanya menjadi sebab kenangan yang selalu terrindu nantinya –dalam indah-, bukan kerenggangan hubungan dan ketidakberbaktian yang memantik murka.

Saya tahu, ini hanya disebabkan oleh cinta. Cinta ibunda pada sang putra. Maka dalam nasihat dan perlakuan ibunda sejatinya tertumpuk harapan-harapan terbaik. Bukan yang terbiasa diprasangkakan; menyulitkan, merepotkan. Bukan juga sebuah pengekangan, atau kekhawatiran berlebihan, hanya dalam kalbu yang tak sanggup mendengar kesusahan sang putra. Dari seorang ibunda sahabat, saya pernah memahami maksud baik itu. Ketika sang putra, sahabat saya itu, menelpon ibundanya dari rantau, menceritakan kondisinya. Lalu indah penuh syukur jawaban ibundanya, “AlhamduliLlaah, ya syukur nek kowe ora nganti keliren neng kana Le..” Yang penting kamu tidak sampai kelaparan saja. Begitu.

Continue Reading

Share this:

  • Email
  • Print
  • Facebook
  • Twitter

Agar Bernilai Hijrah

Posted by Aditya Yoga on December 6, 2010
Posted in: kontemplasi. Tagged: hijrah. Leave a Comment

Selalu teriring harapan dalam sebentang perjalanan. Ya, harapan. Saya balas tanyanya, seorang sahabat saya tersayang, dengan serangkum harapan yang ingin coba saya tinggalkan. Di penghujung ia menyempurnakan perbincangan dengan permohonan yang hangat. “Iya deh,” tulisnya dalam sms, “semoga Antum dapat menyiapkan segala sesuatunya sebelum hijrah ke Jakarta.” Saya tersenyum. Tersemangati.

Hijrah. Sebuah ungkapan yang dipilih sahabat saya itu, terasa terlalu agung untuk disematkan pada perpindahan saya ke Jakarta nanti, insyaallah. Yang saya fahami, hijrah adalah sejarah. Sejarah yang menghajatkan kesungguhan tanpa jeda hingga tertuliskannya. Di sana pun tidak sempat terizin adanya pilihan lain, menembus batas antara suka dan tidak suka. Nyaman dan tidak nyaman.

Meski harus ada pengorbanan harta dan segala yang tak terbilang. Walau jelas ada ketidakjelasan masa depan yang terbentang. Tetapi tergantilah semua itu, tergerak oleh ketaatan tanpa syarat. Betul-betul tanpa syarat. Tentu, manusiawi, jika masih terselip duka lara yang membangkitkan rasa derita. Saat seluruh apa yang dimiliki terpaksa rela ditinggalkan. Tak ada yang dibawa. Bahkan, sesampai di lahan yang baru, masih saja tertumbuh rindu pada apa-apa yang tertinggal. Ingin pulang. Rasanya rumah sendiri jauh lebih nyaman. Namun terhapuslah semua itu, tergerak oleh ketaatan tanpa syarat. Lalu ketegaran sekokoh karang yang menopang terjalaninya hijrah hingga paripurna.

Continue Reading

Share this:

  • Email
  • Print
  • Facebook
  • Twitter

Barangkali Itulah Pintu Pahala Bagiku

Posted by Aditya Yoga on December 1, 2010
Posted in: inspirasi. Tagged: iman. Leave a Comment

“Sayangku…” Khalifah membuka pembicaraan dengan santun. “Engkau tahu, aku telah diuji dengan urusan yang besar.” Sang istri perlahan memandang kejernihan air muka Khalifah. Pandangan keduanya pun bertemu dalam kejujuran. Sejenak keduanya terdiam. Naungan cahaya temaram melukiskan nuansa keindahan di seluruh sudut malam itu.

“Jika engkau ingin,” Khalifah melanjutkan kata-katanya. Suaranya semakin lembut meresap dalam hati. “Engkau bisa memilih bersamaku tanpa jaminan apapun. Atau jika engkau mau,” Masih Khalifah melanjutkan. Bersamaan dengan nuansa keharuan semakin menenggelamkan keduanya. “Engkau bisa meninggalkanku sedangkan keadaan dan urusanmu terserah padamu.” Mata kedua insan yang diuji Allah berkaca-kaca, tak sanggup menahan keharuan yang begitu hebat. Keharuan karena merasakan begitu besar cinta Allah untuk keduanya, dengan ujian ini.

“Aku ikhlas, menyerahkan pilihan ini sepenuhnya padamu Sayangku…” Sang istri terdiam sunyi, mendengar kata-kata sang suami meminta jawaban. Ada pilihan bagi sang istri di saat perasaan hati tak menentu. Bisa jadi dia memperoleh kemudahan hidup di dunia ketika memilih yang pertama. Dan itu tidak mengapa karena Khalifah telah mengizinkan. Namun, sang istri memilih jalan lain. Jalan yang akan dilewati dengan penuh perjuangan dan pengorbanan, dan hanya akan dipilih oleh orang-orang tertentu saja. “Aku akan tetap tinggal bersamamu tanpa jaminan apapun. Barangkali itulah pintu pahala bagiku atau bisa membantumu…” Jawab sang istri shalihah Khalifah. Subhanallah, jawaban yang menguatkan Khalifah. Dia yakin bahwa tidak ada keimanan tanpa ujian. Tidak ada surga terindah tanpa ujian yang besar. Dan dia memilih menjalani ujian bersama sang suami. Hingga senyum sejuk kedua insan yang dicintai Allah ini menjadi penutup pembicaraan besar ini.

Begitulah, pilihan-pilihan itu hadir bagi sang istri, Fatimah, ketika Khalifah Umar ibn Abdul Aziz diuji dengan amanah yang besar. Semoga Allah menghadirkan sosok-sosok seperti Fatimah yang mengokohkan dan menguatkan dalam perjuangan ini. Sosok yang cerdas, sabar, dan sederhana. Sosok yang ketika ditanya, “Selama ini, kita telah menjalani cinta dengan kesyukuran yang melahirkan nikmatNya yang berlipat. Namun kini, siapkah engkau ketika yang Allah minta dalam perjalanan cinta kita adalah kesabaran?” Dia menjawab, “InsyaAllah Mas…”

————-
Ahad pagi, 22 Maret 2009
Terkenang kembali ketika masih berusaha memantapkan hati pada jalan yang telah dipilihkan. Urusanku adalah berjuang untuk sesempurna-sempurna taat, sebaik-baik akhlaq, dan sepenuh kesanggupan menunaikan amanah, tanpa syarat. Barangkali itulah pintu pahala bagiku…

Share this:

  • Email
  • Print
  • Facebook
  • Twitter

Kerinduan yang Terjujur

Posted by Aditya Yoga on November 13, 2010
Posted in: kontemplasi. Tagged: visi. 3 comments

Pada mulanya adalah kerinduan. Pada akhirnya adalah sejauh mana kita mempertahankan kerinduan itu tetap terjaga dalam jiwa. Inilah yang sering dirasa tidak mudah bagi sebagian besar kita. Begitu sering kerinduan hanya bertahan sementara waktu. Hanya ketika semangat memuncak tinggi. Namun kemudian menghilang di saat-saat futur, terjatuh, dan terlupa. Hingga ujungnya, sering kali penyesalan pun tumbuh mengiringi terlambatnya kesadaran. Saat mulai teringatkan, sementara waktu telah lewat jauh. Menyedihkannya, jika itu berulang kali terjadi, hingga kita ringan merasai penyesalan. Inilah pertanda jiwa yang rapuh dan sakit.

Sesungguhnya kerinduan merupakan ejawantah dari keyakinan. Kita pun tahu, keyakinan yang masih terselip ragu akan membawa kerinduan yang terkadang-kadang. Kadang ingat, kadang lupa. Maka menegaskan keyakinan menjadi pilihan yang tidak bisa ditawar lagi untuk membangun kerinduan sepanjang perjalanan. Keyakinan yang tegas akan memupuk kerindungan untuk bertumbuh semakin besar dan berkembang semakin kokoh. Keyakinan itu mampu membangun pemikiran, kemudian mencipta kesadaran, akhirnya membuahkan akhlak yang menggerak. Dan keyakinan yang jujur senantiasa membuahkan amal yang benar dan bermanfaat. Amal yang menyempurna hingga menemukan muara kerinduannya.

Sejenak membaca diskusi dua shahabat pada masa itu, kita mengenang tentang kerinduan mereka. Keduanya memohonkan harapan masing-masing kepada Allah. Do’a shahabat yang pertama, “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu kesyahidan. Tuntunlah aku di jalanMu sehingga aku bertemu denganMu. Do’a shahabat yang kedua pun tak kalah mengagumkan, “Ya Allah, jika kami berhadapan dengaan musuh esok hari, pertemukanlah aku dengan musuh yang paling kuat, paling ganas, dan paling berani, berilah aku kekuatan untuk membunuhnya dan aku terbunuh olehnya, kemudian aku mendapatkan syahadah dan memasuki surga.” Dan keduanya menyempurnakan kerinduannya, do’anya.

Belajarlah kita dari mereka, tentang kerinduan. Karena kerinduan mereka begitu kokoh disebabkan oleh kejujuran pada Allah. Dan di sepanjang perjalanan, kerinduan selalu melahirkan keindahan pada tiap masa. Saat-saat paling melelahkan, adalah saat-saat terindah ketika kerinduan itu dirasai. Nah, bagaimana dengan kerinduan kita? Apakah kita telah jujur kepada Allah tentang kerinduan kita? Masih ada waktu untuk menata kerinduan…

11 April 2010
Bertanya dalam hati, tentang kerinduan-kerinduan yang tumbuh dalam hati. Menata ulang hati, agar merasai kerinduan tertinggi.. Tersemangati oleh saudara-saudara di jalan cinta para pejuang, yang banyak mengajari saya tentang kerinduan… Kerinduan karena Allah..

Share this:

  • Email
  • Print
  • Facebook
  • Twitter

Kesabaran Senantiasa; Saat Mudah, Saat Susah, Tetap Bersabarlah

Posted by Aditya Yoga on November 13, 2010
Posted in: kontemplasi. Tagged: muhasabah. 2 comments

Ada saat-saat di mana kita harus mengingatkan diri, untuk senantiasa berusaha menemukan hakikat kesabaran di sepanjang perjalanan. Senantiasa, karena kita tidak pernah mengetahui puncak kesabaran dan sejauh mana kesabaran kita, di saat kesabaran pada hakikatnya tak pernah menemui batas. Terkadang, ada saat-saat berat, lelah, dan jenuh, yang menggoda kita untuk membatasi kesabaran itu, menjadikannya terasa pendek, sempit, dan kemudian terlepas. Semoga kita selalu dibimbing Allah, terlebih saya yang mesti lebih banyak belajar tentangnya, untuk tidak pernah tenggelam dalam perasaan diri telah bersabar, padahal sebenarnya jauh darinya.

Mungkin telah berkali-kali, kebimbangan mencul di tengah-tengah ketegaran menjaga konsistensi perjalanan. Saat yang kita temui adalah; kerja-kerja kita tak segera menampakkan perubahan, rasa pesimis yang menyelinap dan memengaruh sesekali, atau sempitnya waktu kala kerja dirasa kian berat bertumpuk-tumpuk. Hingga tersirat niatan menarik diri dari lingkungan yang dirasa tidak ideal.

Bersamaan dengan itu, tumbuhlah kerinduan untuk menikmati kenyamanan berjalan di lingkungan terbaik. Tidak salah memang. Namun, semoga kerinduan bukan sekedar untuk menikmatinya, karena sebenarnya kita diminta untuk menciptakannya. Seolah ditegur dengan lembut, ketika membaca bahwa Rasulullah pernah menyabdakan, “Seorang mukmin yang bergaul dengan banyak orang, lalu ia sabar dengan tindakan mereka yang menyakitkan, maka itu lebih baik daripada orang yang tidak pernah bergaul dengan orang banyak dan ia tak bisa bersabar dengan tindakan mereka.” Ruang-ruang yang tidak ideal itulah, yang harus dimasuki, bukan dihindari. Di sana adalah medan amal terluas yang menghajatkan kesabaran untuk berkorban.

Jiwa yang kokoh, selalu ada keyakinan bahwa kesabaranlah yang akan menjadi saksi pengorbanan. Maka sesungguhnya dalam lingkungan yang tidak ideal, kita benar-benar dididik tentang hakikat kesabaran. Ada banyak kesabaran yang tidak bisa kita dapati di lingkungan yang ideal saja. Seperti Sayyid Quthb mengungkapkannya, “Sabar mesti ada dala semua ini, sabar mesti ada dalam melaksanakan ketaatan, dalam menahan diri dari kemaksiatan, dalam memerangi orang-orang yang menentang Allah, dalam menghadapi muslihat yang beragam coraknya, dalam menanti lamanya datangnya pertolongan, dalam menanggung lamanya keletihan, dalam mengenyahkan kebatilan, dalam sedikitnya penolong, dalam panjangnya jalan berduri, dalam menghadapi kebengkokan jiwa, kesesatan hati, kepayahan penentangan, dan terobeknya kehormatan.” Maka di lingkungan yang tidak ideal itulah, kita diminta untuk bersabar menyeluruh untuk mengubahnya, menjadikannya ideal.

Rasa malu sering kali mengetuk hati. Malu karena betapa jauhnya diri ini dari kesabaran. Malu karena keimanan pun berlubang-lubang ketika ketidaksabaran masih mengisi jiwa dan tingkah laku. Di saat keimanan, separuhnya adalah sabar, dan separuh sisanya adalah syukur. Terlebih jika mengingat, dalam Q.S. an Nahl: 125 Allah telah dengan sangat jelas mengajari kita bagaimana sikap kesabaran di lingkungan yang tidak ideal bagi kita, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” Dan menyemangati kita, “Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” Masih adakah sisa ruang untuk perasaan tidak sabar sementara Allah telah membimbing kita dalam petunjuk?

Akhirnya, sabar artinya menahan. Semoga di sepanjang perjalanan hidup kita, di saat ringan dan berat, di lingkungan yang ideal atau sebaliknya, kita dapat terus menahan dari rasa gelisah, cemas, amarah, keluh kesah, dan keburukan. Mencoba untuk tetap tersenyum..

10 April 2010
Akhir-akhir ini nampaknya sudah mulai sering tidak sabar, saat lingkungan tak semudah dulu. Ingin menjadikan detik-detik ini sebagai momentum peningkatan kapasitas kesabaran..

Share this:

  • Email
  • Print
  • Facebook
  • Twitter

Perubahan, Belajar dari Sang Khalifah

Posted by Aditya Yoga on November 12, 2010
Posted in: puisi. Tagged: cinta. Leave a Comment

Cita-citaku adalah perubahan, begitu katanya
Hingga suatu saat dia diuji

Hadir di hadapannya seorang gadis
Meminta untuk dinikahinya
Indahnya, sulitnya
Gadis itu adalah gadis yang pernah dicintainya
Sebelum cita-cita perubahan diazzamkan

Maka bertemulah cita-cita dan cinta
Harus mengalahkan satu sama lain

Namun kesetiaannya pada cita-cita
Pada akhirnya mengukirkan keagungan
Lirih dia berkata, belum sempurnalah perubahan
Ketika aku masih kembali memenangkan perasaan
Dalam pilihan-pilihanku

Ah, terharu mendengarnya
Seketika diingatkan
Bahwa ada cinta yang lebih tinggi
Diraih bukan dengan perasaan
Namun dengan menuntaskan perubahan
Perbaikan diri, senantiasa perbaikan diri

Dan keagungan pun kian menggetarkan
Ketika mendengar kekatanya
Saat sang gadis mendekat, menunduk tersedu, kemudian bertanya
Di manakah cintamu yang dulu

Dengarlah ini jawabnya
Sungguh cinta itu masih ada
Bahkan kini terasa jauh lebih dalam
Tubuh kurusnya bergetar dalam keagungan
Memenangkan pilihannya

Darinya, kemudian
Tersimpul pelajaran tentang perubahan
Perubahan di balik perubahan
Perubahan sebelum perubahan

Sejak hari pertama membaiatnya menjadi khalifah
Perubahan itu nampak begitu jelas
Tak lama waktunya, hanya 29 bulan saja
Namun keadilan dan kesejahteraan digelar di penjuru negeri
Menjadi saksi atas kesungguhan
Menuntaskan cita-cita perubahan

Dan tentang cintanya
Ia cukupkan dengan cinta
Yang menemani di jalan perubahan
Cukuplah cinta yang dibangun dengan keagungan
Bersama sebaik-baik perempuan baginya
Fatimah binti Abdul Malik bin Marwan

————-
Pagi yang cerah di Yogyakarta, 13 Agustus 2009
Mengenangkan kembali, mengingatkan kembali, pada cita-cita perubahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Penuh inspirasi dari tulisan Bang Anis, Cinta di Atas Cinta

Share this:

  • Email
  • Print
  • Facebook
  • Twitter

Untukmu Relawan

Posted by Aditya Yoga on November 11, 2010
Posted in: inspirasi. Tagged: muhasabah. Leave a Comment

————-

Beberapa tukang cukur dan tukang pijat hibahkan waktunya keliling barak-barak. Alangkah iri kita pada kebermanfaatan surgawi! #RenungRelawan

Seorang pedagang Gudheg sedekah dagangan sepekan penuh tuk sarapan pengungsi. Butir nasi, serpih nangka, bertasbih untuknya! #RenungRelawan

Seorang juru masak hotel berbintang ambil cuti 3 pekan untuk layani dapur umum barak. Aroma masakanmu pasti tercium di surga! #RenungRelawan

Seorang warga yang sedianya gelar walimah putrinya gunakan beras & semua anggaran tuk pengungsi. Anak kalian pengantin surga! #RenungRelawan

Seorang warga sederhana sediakan rumahnya nan berkamar 3 untuk tampung 100 orang. Istana surgamu pasti megah sekali Pak! #RenungRelawan

Seorang pedagang kecil ambil tabungan hajinya, sediakan makan pengungsi. Dengan berkaca kupeluk: Kau mabrur sebelum berhaji! #RenungRelawan

Melihat wajah kalian, bagaimana mungkin bisa nasehatkan kesabaran? Ia telah ada ketika kalian dipukul kehilangan nan dahsyat. #RenungRelawan

Bercermin. Jika di kaca itu tampak ketakpantasan, yang harus dibenahi justru kita nan lagi mematut diri, bukan sang bayangan. #RenungRelawan

Kesabaran telah tampak dalam hantaman pertama, ujar Sang Nabi. Yang selanjutnya tugas kita tuk berbagi dengan para terdampak. #RenungRelawan

Sebab semua ujian telah diukur kadarnya tuk tidak lampaui kesanggupan; maka yang diujiNya ialah kemauan, bukan kemampuan. #RenungRelawan

Setiap halangan di jalan kehidupan ditakdir ada tuk satu alasan sederhana: Mengetahui seberapa besar tekad kita melampauinya. #RenungRelawan

————-

Allah, ampuni kami atas segala gerisik hati yang merasa lebih, merasa telah membantu, padahal yang kami perbuat belum apa-apa. #DoaRelawan

Allah, ampuni kami sebab kadang harus memilih mana yang didahulukan sebab keterbatasan, padahal semua perlu dibantu. #DoaRelawan

Allah, ampuni kami hari ini sebab ada saja janji hari kemarin yang belum tertunaikan, dan itu pasti menyakiti. #DoaRelawan

Allah, ampuni kami hari ini yang tak bisa sepenuh hati hadirkan layanan terbaik, sebab ada saja kedirian yang terpikirkan. #DoaRelawan

Allah, ampuni kami hari ini yang tak bisa berlama-lama, padahal mereka masih perlukan telinga nan mendengar & hati nan memahami. #DoaRelawan

Allah, ampuni kami hari ini karena tidak semua tangis dan air mata bisa kami hiburkan tuk jadi senyum bahagia. #DoaRelawan

Allah, ampuni kami hari ini karena tidak semua bahu terguncang bisa kami tenangkan dengan pelukan hangat dan cinta tulus. #DoaRelawan

Allah, ampuni kami hari ini karena tidak semua panggilan yang penuh harap untuk dikunjungi, bisa kami datangi. #DoaRelawan

Allah, ampuni kami hari ini karena tidak semua permintaan bantuan yang kami terima bisa kami jawab, “Ya!” #DoaRelawan

————-

Saya rangkumkan dari twit Ust. Salim A. Fillah, semoga dapat menjadi penyemangat dan pengingat untuk para relawan yang ikhlas bekerja. Untuk inspirasi lebih banyak dan berkelanjutan, silakan follow di: http://twitter.com/safillah dan berkunjung ke blog beliau: http://www.safillah.co.cc. BaarakaLlaahufiikum.. ;)

Share this:

  • Email
  • Print
  • Facebook
  • Twitter

Posts navigation

← Older Entries
  • Search

  • Ahlan wa Sahlan..

    Semoga ada manfaat dan berkah dari setiap huruf, kata, dan kalimat yang tertulis. Semoga ada ampunan dan bimbingan dari setiapnya yang belum terlaku.

    Mohon do'a dan nasihat selalu, agar setiap huruf, kata, dan kalimat tersampai dalam 'amal-'amal ikhlash yang bermanfaat dan termaknai dalam ispirasi-inspirasi yang menggerakkan kebaikan..

  • Quotes of the Day

  • Today

  • Clock

  • Calendar

    January 2012
    M T W T F S S
    « Nov    
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    23242526272829
    3031  
  • Aditya Rangga Yogatama

    I'maluu, fasayaraLlaahu 'amalakum warasuuluhu wal mu'minuun. Bekerjalah -,beramallah, berikhtiyarlah- kamu, maka Allah, rasulNya, dan orang-orang beriman akan melihat pekerjaanmu.

  • Yoga on Facebook

    Aditya Rangga Yogatama | Create Your Badge
    Adding me, http://www.facebook.com/ytc.yoga
  • My Tweet

    • Di Jkt agenda apa Akhi shalih? @zaki_fossei 1 day ago
    • Konferensi Pemuda;) “@zaki_fossei: Undangan apa mas? Walimahkah? Cc @han_hadi undangan utk para Presnas FoSSEI tanggal 17-18 Maret 2012.” 2 days ago
    • Monggo hadir ;) “@Willymardian: @ytc_yoga depnas gak diundang ??” 3 days ago
    • Saya mau ngasih undangan utk para Presnas FoSSEI tanggal 17-18 Maret 2012, insyaaLlah. Luangkan waktunya ya ;) @zaki_fossei @imam_fossei 3 days ago
    • Dalam keinsyafan bahwa takdir itu kehendakNya, tiap ujian termaknai pintu meraih kemuliaan. 3 days ago
  • Recent Posts

    • ICMI dan MITI Dorong Kiprah Ilmuwan Muslim
    • Suharna Surapranata, Teladan di Segala Mihwar Dakwah
    • Jangan Mengeluh
    • Hari Ini Untukmu, Ibunda..
    • Agar Bernilai Hijrah
  • Blogroll

    • Agustianto
    • Ali Sakti
    • Alvin Adisasmita
    • Angga Antagia
    • Cahyadi Takariawan
    • Didik Kurniawan Hadi
    • Ekonom Rabbani
    • Fauzul Azmi Zen
    • FOSSEI
    • GriyabukuQ (Farid Ikhsan Asbani)
    • Gumilang Sahadewo
    • Haryandi
    • Hendro Wibowo
    • Hilmy Bramantyo
    • Lutfi Zuchri
    • Majelis Jejak Nabi
    • MES
    • MITI Mahasiswa
    • Mudrajad Kuncoro
    • Panji Arohman
    • Pos Penanggulangan Bencana PKS Sleman
    • Pro-U Media
    • Pugo Sambodo
    • Radio KRPH Masjid Mardliyyah
    • Radio Pengajian
    • Rezki Hermansyah
    • Sahabat Al Aqsha
    • Salim A. Fillah
    • SEF UGM
    • WordPress.com
    • WordPress.org
  • Blog Stats

    • 4,041 hits
  • Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 4 other followers

  • Inspirasi

    Di Puncak Merbabu, 15 Juli 2008. Insyaallah, perjuangan akan berujung indah. Saat di sana ada lelah, susah, payah, hingga gelisah dan ingin menyerah, lalu kita memenangkan diri kita di atas itu semua. Maka teruslah berjuang.

  • Bersama, Bersaudara, Berjuang

    Terkenang saya, saat-saat bersama saudara, sahabat, guru, dan inspirasi... Untuk setiap nasihat, pengingat, penyemangat, penguat, dan segala perbaikan diri saya karena Antum sekalian yang membersamai dalam cita-cita dan cinta.. JazakumuLlahu khairan katsiraan.. ;)

Blog at WordPress.com. Theme: Parament by Automattic.
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Powered by WordPress.com
loading Cancel
Post was not sent - check your email addresses!
Email check failed, please try again
Sorry, your blog cannot share posts by email.